Selasa, 05 Agustus 2014

Senja Kala (Flash Fiction)


Matamu menatap tajam sebuah siluet di kejauhan. Sore itu, dalam keremangan senja di parkiran pinggir jalan ibukota, sesosok pria dengan setelan kemeja putih dan celana kain hitam berjalan mendekat, persis seperti yang seringkali kamu temui sejak lama.
“Posturnya tetap sama seperti dulu” batinmu, jalan yang tenang dan tidak tergesa, namun juga tidak terlihat gontai kurang tenaga. Tas ransel kecil menempel di punggungnya walau hanya sebelah handlenya yang dia gunakan. “Gaya yang tetap sama” Desismu, tanpa sadar kau pun tersenyum kecil melihatnya.
“Mas..edi?” Panggilmu ketika dia mendekat, walau belum sedekat jarak biasa yang seringkali kalian jalani di tahun-tahun yang lalu.
“Eh…dian, apa kabar?” Jawabnya, setengah kikuk. Tak terlihat rona rindu di matanya, rona bahagia pun tidak ada, padahal ingin sekali kaulihat kembali binar di matanya yang jernih itu. Yang ada tatapan gelisah dan laku salah tingkah tak tahu harus berbuat apa, seakan kamu orang terakhir yang sudi dia temui di alam dunia.
“Alhamdulillah baik mas, mas sendiri bagaimana? Ibu juga apa kabar” Tanyamu.
“Alhamdulillah baik, ibu juga sehat Alhamdulillah, keluarga sedang berkumpul di rumah. Mau ada acara besar”
“O…kalau begitu salam buat keluarga besar..mas, mohon maaf sudah lama belum silaturahmi lagi kesana.”
“Iya ndak apa-apa, kalau sempat mampir saja kesana, ibu pasti senang” Ucapnya, diiringi senyuman yang juga dari tadi kau nantikan. Sekejap saja, tapi mampu mengingatkan kembali senyuman hangat ratusan hari yang terbiasa kau jumpai.
“Iya..insha Alloh kapan-kapan mas, nanti saya sempatkan” Jawabmu
Hening
“Kalau gitu mas permisi dulu, masih ada perlu.” Katanya, wajahnya kembali datar, diiringi sedikit anggukan di kepala, kaku.
“Iya  baik mas, hati-hati” Balasmu. Setengah mendesis, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang dadamu.
Matamu menerawang, berharap dalam langkahnya itu dia kembali memalingkan muka, memandangmu, dengan tatapan jernihnya yang menyejukkan mata. Atau mengirimkan kembali senyuman hangat ditambah binar matanya yang begitu indah menggoda. Tapi itu tak pernah terjadi, dia tetap melangkah pergi, seiring redupnya cahaya mentari senja. Atau mungkin titik-titik air itu, yang entah mengapa tetiba menutupi mata, menutupi pandanganmu akan dia. Mengalirkan sesal atas kenginanmu akan dunia menggerus kesabaran tuk menemani perjuangannya.
Hanya sekilas kau lihat punggungnya masuk ke sebuah mobil sedan abu-abu sederhana di ujung jalan sana. Mobil yang baru kali ini kau lihat sejak palu diketuk oleh sang hakim pengadilan agama.  Sekilas juga kau lihat kibaran kerudung di dalamnya.
“Ibunyakah?” batinmu.

 “Bunda, bundaaa!?”
Panggilan yang akhir – akhir ini sudah akrab di telinga membuyarkan anganmu
“Eh…iya pa.”
“Lagi ngapain sih? Dipanggil-panggil dari tadi, ayo pulang! sudah sore, urusan papa sudah beres kok.”
“Maaf pa, lagi kepikiran, besok kan papa pulang ke Bandung, bunda kesepian lagi dong. Papa si enak ada mbak nita yang temani” Jawabmu cepat, tak lupa tanganmu menggelendot manja di bahu pria paruh baya itu.
“Iya gimana, papa kan harus pintar membagi waktu antara kalian berdua, belum lagi akhir-akhir ini papa sibuk sama kerjaan, banyak tawaran proyek sana sini, kan demi bunda juga.”
“Iya sih pa. tapi….” Wajahmu merengut, seakan meminta perhatian.
“Ya udah…malam ini kita mau jalan ke mana? Sebelum besok papa pulang, kita puas-puasin dulu ya. terserah bunda mau apa aja nanti papa belikan, oke, yang penting senyum dulu dong sayang”
Kau pun tersenyum semanis mungkin, walaupun dalam hatimu, dalam benak dan pikiranmu..kelu.
“Papa memang paling hebat dan baik hati sedunia jagat raya”
Pria itu pun tersenyum penuh arti, memperlihatkan giginya yang kini tak rapi. Menggenggam erat tanganmu dan membimbingmu, sang istri muda, ke mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari sana.

lee-palu-080514

----------------------------------------------------------------------------------------------------------