Selasa, 24 April 2018

Gelap

Author POV
Yang dia ingat, dia berada di sebuah keramaian. Suara-suara, teriakan bahagia, keseruan, cahaya lampu beraneka warna dimana-mana. Langkah kecilnya hanya mengikuti dua orang dewasa yang ada di depannya, yang salah satunya begitu erat menggegamnya. Yang dia tahu, di malam itu, dia diberi hadiah sebuah pesawat mainan. Warnanya putih, agak gemuk, semacam boeing 737 di masa kini. Seseorang memberikan pesawat itu kepadanya, dengan kata-kata yang entah mengapa dia lupa, mungkin berharap dia menghadiahinya sebuah senyuman riang. Tapi, dia tidak ingat apakah dia tertawa riang atau tersenyum sekedarnya, yang dia rasa, hanya sebuah kebingungan yang teramat sangat di malam itu. Otak kecilnya terlalu sempit untuk mencerna semua yang ada. Pasar malam, keriuhan, Ibu, dan seseorang, entah siapa.
***
Kali ini, dia berada di halaman sebuah rumah kontrakan, berdinding kayu. Dia tidak tahu isi rumah petak itu, yang dia lihat berjejer rumah dengan bentuk serupa di kanan kirinya. Entah dua atau tiga. Di sekelilingnya, sejauh mata memandang, terhampar pesawahan yang menghijau, indah dipandang mata. Belasan capung yang terbang berputar di atasnya lebih menarik baginya. Dibanding sang ayah yang ketika itu menggedor pintu dengan paksa. Setelah itu...dia lupa.
***
Di kali yang lain, langkah kecilnya menyusuri gang sempit selebar setang sepeda mini anak. Tapi cukup lebar bagi tubuhnya yang mungil. Gang yang gelap, sepanjang 50 meter namun baginya terasa panjang dan menyeramkan. Tapi itu lebih baik dibanding harus memutar, menempuh jarak lebih jauh. Dia masih ingat tempat yang ia tuju, dengan bau kamar yang seperti gudang itu. Bau ayam goreng, bau kerupuk, atau bau-bau lain karena disana, di rumah petak satu kamar yang seperti gudang itu digunakan ayahnya untuk tidur dan memasak. Namun, baginya tempat itu jauh lebih nyaman dibanding rumah dua tingkat yang sering membuatnya tidak betah.
"Pak, aa bobo di dieu nya"
"Huss, Uih we nya, enjing sakola, karunya si mamah teu aya rencang." Balas si ayah.
Sepotong percakapan dengan jawaban yang membuatnya sangat kecewa. Dia juga tak habis pikir, kenapa dia harus sendirian, sang kakak kenapa harus pergi dan menyingkir ke kampung halaman.
Yang dia ingat, yang dia tahu, setelahnya..setelah dia mulai mengenal teman dan dunia di luar rumah, dia sudah tak peduli dengan semua yang ada di rumah dua tingkat itu. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, dia anggap angin lalu.
***
Di tahun-tahun setelahnya, teman sepermainan, teman bersepeda, yang setia menemani merambah  hingga ke daerah yang bahkan dia tidak tahu seberapa jauh dari rumah, teman rentalan, yang dengan mereka dia bisa menghabiskan waktu seharian, atau teman-teman yang lain yang mampu membuatnya betah di luaran, jauh dari rumah.
Hingga di suatu saat si ayah kembali, kemudian menyusul munculnya seorang adik perempuan. Membuat rumah dua tingkat tempatnya bernaung diwaktu malam menjadi semakin ramai, namun dia tetap merasa sendiri. Dia makin merasa, cukuplah adiknya sebagai pengganti. Baginya, dunia luar tetap menarik hati. Bukan sebuah tempat yang dia tempati, yang orang bilang sebagai rumah.