Kamis, 30 November 2017

Sehari bersama Reika..part 4 (X)

Iluminasi

Hampir 1 jam perjalanan kami menuju tempat tujuan utama. Kali ini Reika tidak banyak bercerita, hanya diam dan sesekali berkomentar ketika ku bercerita tentang apa saja yang ada di dalam kampus. Matanya seakan menerawang, memandangi pemandangan di kanan kiri jalan, juga memandangi para penumpang yang berjubel di depan. Kami duduk di belakang, sehingga bebas melihat dan mengamati semua yang ada. Festival iluminasi sepertinya terkenal, terbukti banyak sekali orang yang bertujuan sama dengan kami. Apalagi hari ini hari sabtu, malam minggu.
“Tokorode, Riri san no daigaku de minna wa eego o hanashimasuka?” tanyanya tiba-tiba.
“Ya..full english” jawabku.
“Nihonjin mo?  Eego hanasu?”
“Tentu saja, kecuali kalau mereka berkumpul dengan sesamanya”
“Sugooi. Sepertinya aku ingin kuliah di tempat Riri san  juga nanti.”
“Bukannya kamu bilang ingin di Tokyo, di kota besar?”
“Aku tak tahu, suatu saat mungkin bisa berubah. Waktu kecil, ayah sering mengajakku dan Ibu ke Tokyo atau kota lain. Ayah mengerjakan urusannya dan aku berjalan-jalan disana. Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah lupa kapan terakhir Ayah mengajak kami demikian.” Dia bercerita, tanpa menoleh untuk saling memandang mata.
“Kamu sering ke sini? Nagaoka. Sepertinya kamu tahu banyak tentang kota ini.”
Dia tidak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum. Kemudian kembali memalingkan muka, memperhatikan lembayung senja di luar jendela. Sepertinya bus sudah mulai mendaki bukit. Aku rasa ketinggian sudah mulai bertambah, dan rasa dingin makin menyengat. Untung aku memakai jaket hangat yang kubawa dari Indonesia.
deeto ka kazoku to  ryoko shimashutaka” [apakah itu ngedate atau jalan-jalan?]
“ee...” dia sedikit kaget dengan pertanyaanku. Pandangannya menelusuri mataku, memastikan aku sedang tidak bercanda dengan pertanyaanku.
“Maksudku, ketika kamu ke nagaoka, apakah sedang berkencan atau jalan bersama keluarga?” tanyaku sambil cengengesan. Mencoba mencairkan suasana.
“Rahasia” Jawabnya sambil melet, menjulurkan lidah.
“Kalau memang berkencan tidak apa, nanti tolong ajari. Aku tak tahu caranya.” Timpalku.
Usso [bohong]. Riri san pasti banyak pengalaman, pasti banyak fansnya." Tambahnya, raut mukanya kembali normal. Matanya kembali cerah dan bercahaya. 
“Beneran ini. Aku jarang bergaul. Tapi gadis sepertimu juga pasti banyak yang suka, mungkin pengalamannya banyak. Dakara Oshiete kudasai
“Ga percaya.” :P jawabnya. 
Hening sejenak
“aku suka kota besar, tidak membosankan seperti tempatku. Aku punya teman bernama Ai, kakaknya dulu  tinggal di Tokyo. Dia tetanggaku, aku sering bersama Ai san mengunjungi kakaknya di Tokyo.  Tapi sekarang tidak lagi.” tambahnya lagi, memecah kesunyian. 
“Ai san?”
“Ya..teman dan tetanggaku yang lain selain Ayumi chan. Lebih tua dariku, tapi kami berteman baik.” jawabnya. “Itsukamachi itu kota kecil, kamu pasti tahu itu. Jadi kami mengenal tetangga kami dengan baik satu sama lain.” tambahnya lagi
Baguslah.. dia sudah mulai bercerita lagi, dengan warna yang lebih ceria. Walau mungkin tidak seterang biasanya. Mungkin sudah lelah berjalan seharian.
Bus kami sudah hampir mencapai pemberhentian terakhir. Halte bus taman Echigo Hillside. Ketika bus sudah berhenti sepenuhnya, para penumpang kemudian bergerak turun dengan tertib. Tidak lupa membayar dengan memasukkan uang ke dalam mesin, sesuai dengan tarif yang tertera di layar, di atas kaca jendela depan. Dari perhentian mana kamu naik, tertulis jumlah seharusnya.

Sehari bersama Reika...part 3 (IX)

Nagaoka city

Sebetulnya Niigata itu perfektur yang indah. Namun, entah mengapa kurang begitu terkenal dibanding perfektur atau daerah lain seperti Hokkaido di paling utara, Tohoku di timur laut, Tochigi di tenggara, Kanto dengan Tokyo dan area sekitarnya di selatan, Nagoya yang memiliki banyak universitas, Kansai dengan Osaka, Kyoto serta daerah sekitar Hyogo, Hiroshima, Kyushu, dan lain-lain. Padahal, area Niigata hanya 2 jam saja dari Tokyo menggunakan shinkanshen. 
Menuju Niigata dari Tokyo hanya ada 1 jalur utama untuk kereta, Joetsu line. Mulai dari stasiun tokyo menuju Takasaki, kemudian Minakami yang memiliki salah satu onsen yang sangat terkenal karena keindahannya di musim salju, dari Minakami menuju Nagaoka, melewati Yuzawa yang sangat terkenal dengan resort skinya. Bahkan bisa dibilang antara Yuzawa, Urasa, Koide ke utara ditambah Tokamachi di balik gunung, seperti di belahan dunia lain. Negeri salju mereka menyebutnya.  Karena disana tumpukan salju begitu tinggi ketika puncaknya. Setelah koide di utara atau sebelum terowongan menuju yuzawa di selatan biasanya kering, tumpukan salju alakadarnya. Termasuk di kota ini, Nagaoka. Dan bila kamu melanjutkan perjalanan ke utara, ke Ibu kota, kota Niigata yang juga merupakan kota pelabuhan, yang membedakan musim dingin dan musim lainnya hanya udaranya yang bisa membuatmu menggigil. Tidak ada salju, kecuali sedikit saja jikalau ada. 
Kami berjalan menyusuri trotoar yang kering seperti musim biasanya. Tapi tetap, walaupun siang hari, rasa dingin menyergap kaki dan beberapa bagian tubuhku yang tidak tertutup kain. Aku heran dengan wanita-wanita negeri ini. Karena ada beberapa juga yang memakai rok pendek tanpa celana panjang atau stoking di dalamnya. Mungkin mereka sangat terlatih, ataukah menderita demi gaya?
Setelah satu setengah jam menghabiskan waktu di dalam ruangan bioskop yang remang. Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami. Echigo Hillside Park di bagian barat kota Nagaoka. Cukup jauh dari kota, bahkan jika ditempuh dari stasiun, maka kami akan turun di pemberhentian terakhir. Dari riverside ke sana katanya harus naik bus 2 kali. Jangan tanya jurusannya, aku belum bisa membaca kanji, cukup kuikuti langkah kaki Reika, pembimbing perjalananku kali ini. Dia sepertinya sedang gembira, dia berjalan dengan menggoyang goyangkan tas tangan mungilnya. Atau memang gaya jalannya seperti itu? Dan seperti biasa, cowok gentleman sepertiku membawakan belanjaan. Walaupun pada awalnya dia menolak karena bukan kebiasaan orang Jepang laki-laki membawakan belanjaan perempuan. 

Selasa, 28 November 2017

Sehari bersama Reika...part 2 (VIII)

papan penunjuk arah

Kereta sedikit bergoyang ketika bergerak memasuki terowongan. 
Kami duduk berhadapan, di kursi 4 orang yang seperti tempat duduk kelas bisnis di Indonesia itu. Namun bedanya, di sini kursinya empuk dan nyaman padahal ini sekedar kereta rel listrik biasa. Selain itu, walaupun secara umum dari luar gerbong kereta di Jepang nampak sama, lay outnya bisa berbeda-beda. Bahkan aku pernah melihat kereta ke arah Tokamachi yang hanya 1 gerbong tapi dalamnya lumayan mewah. Lucu menurutku, karena di negeriku paling sedikit 8 gerbong. Itupun hibah dari negeri ini.

Aku sedang menatap gundukan salju di luar. Mungkin di sini tidak ada hujan, masih sedikit tinggi tumpukannya. Sedang di depanku, Reika nampak berbicara dengan kawannya di telpon. Setengah berbisik, karena memang ada peraturan tak tertulis untuk tidak berbicara dan membuat kegaduhan dalam kereta. Bahkan gawai kita pun disarankan untuk di ubah ke mode silent.

Gome..tomodachi ni hanashimashita” [maaf..tadi berbicara dengan teman]
setelah dia menutup pembicaraan di telfonnya. Aku hanya meliriknya dan tersenyum.

“ii yo.” [gapapa]. jawabku, sambil mataku tetap tak bergeming dari kaca jendela.

“Riri san wa hajimete, yuki o mite ne?”[Riri san pertama kali melihat salju ya?]

“Hai..sugoi da. Omoshirokatta”[ya..keren] jawabku. excited, dengan pertanyaannya.

 “aku pikir salju itu seperti kapas, ternyata keras. Pertama kali salju turun, cukup lebat dan angin sedikit kencang. Tapi aku dan beberapa teman dari Indonesia justru menari-nari di bawah hujan salju. Membuka mulut, merasakan rasanya salju. Ada teman yang menampung butiran salju di tangannya, kemudian dia lemparkan kesana kemari. Ternyata salju keras seperti batu. Kepalaku sakit terkena lemparan.” aku bercerita.  “kami berkumpul di tengah-tengah lapang asrama kampus. Ternyata semua orang melihat kami disana, tapi dari kamar masing-masing sih.”

“Besoknya kami terserang flu. Tanganku pun berasa mati rasa. Ditambah kami jadi bahan tertawaan karena kelakuan absurd kami itu. Untung kawanku membawa minuman dan obat tradisional Indonesia. Lumayan cepat pulihnya, tapi tidak dengan bahan tertawaaan.” tambahku lagi.

“hahaha...” Dia tergelak, memamerkan barisan giginya yang putih bersih itu. Ketika ku peragakan bagaimana tarian memanggil salju kami, kami namai begitu, tawanya makin lepas. Membuat semua orang di kereta yang tidak begitu sesak itu menengok, dan menggelengkan kepala. “Dasar anak muda”. Mungkin pikir mereka begitu.

“Itu tarian mengundang penyakit” sahutnya, di antara derainya tawa.

“Eh iya, apakah kalian juga mendapat vaksin flu. Di sini setiap musim dingin tiba, setiap tahun kami persiapkan diri agar tidak mudah sakit.” Tambahnya lagi.

“Kampusku menjadwalkannya baru minggu depan, wajib ya? Tadinya aku pikir tidak membutuhkannya. Lagipula harganya sedikit mahal buatku”

“Aku rasa kamu memerlukannya, apalagi kamu tidak terbiasa”

“Baiklah, nanti aku akan daftar”

“Ano sa...tadi aku bertanya jadwal film hari ini di bioskop, temanku sudah kesana lebih dulu kemarin”

“Bioskop? Apa waktunya cukup?”

“O iya, Riri san kan mau mencari perlengkapan musim dingin di hard off. Sepertinya waktunya tidak cukup, jaraknya berjauhan.”

hmm..daijobu, lain kali saja aku kesana. Gara-gara aku terlambat waktu kita jadi terbatas. Langsung ke bioskop tidak apa.” jawabku, mencoba meyakinkannya. Padahal sebetulnya aku sangat ingin kesana, aku butuh perlengkapan musim dingin dan perlengkapan ski. Katanya disana jauh lebih murah.

 soudesune, tenang saja, di dekat bioskop juga ada toko barang second. Second street namanya, pilihan pakaian lebih lengkap disana dibanding hard off. Mungkin bisa kesana sebentar”

"baiklah, kita lihat nanti" jawabku. "tidak sempat pun tak apa, belum urgen".


Sehari bersama Reika ...part 1 (VII)

Stasiun Urasa (sumber:blog)

Aku sedang mematut diri di depan cermin kamar mandi. Ketika samar-samar kudengar gawaiku bergetar. Mungkin aku terlalu fokus berendam tadi, atau suara air dari shower membuatnya tidak terdengar. Segera ku keluar kamar, menyambar gawaiku yang tergeletak di meja belajar.

Pesan dari Reika, di aplikasi Line gawaiku.

Nee... mou sanjuppun gurai. junbi shite ne” [hey...30 menit lagi, siap-siap ya].

pesan berikutnya

“doko...?” [dimana?] 

Tambahnya lagi. ditambah beberapa laporan voice call darinya.

“kenapa ga sabaran sih tu anak?” gerutuku dalam hati.

Eh tar dulu..kuperhatikan, ternyata itu pesan 5 menit lalu
"lah..perasaan tadi ku cuma berendam 5 menit, tadi belum ada pesan. Waduh..jangan-jangan tadi ketiduran di bath tub." gumamku.

Cek jam di meja. 

“Wah iya bener, knapa aku mandi 30 menit gini, pantes berasa keriting ni kulit.”
pesan baru masuk

“aku turun di Urasa, ku tunggu di ruang tunggu stasiun 😣😩😠” pesannya lagi.
Berbarengan dengan itu, ada pesan lain di whatsapp, dari Ibu dan sepertinya agak panjang. Baru kulihat juga panggilan berkali-kali darinya disana“Nanti sajalah kubaca lagi. Buru-buru” gumamku.

Bergegas aku memakai baju. kulewatkan long john, hanya kaus dalam, kaus dan jaket dengan celana jeans. Mudah-mudahan cukup menangkal hawa dingin yang sudah mulai menggigit di luar sana. 

“Sial..sial. terlambat parah begini”.

Terburu-buru juga ku pakai kaus kaki dan sepatu kets ku dan berlari keluar kamar. Mana ini di lantai 6, mesti menunggu lift dulu.

Cek jam di tangan, bis kampus menuju stasiun sudah pergi 15 menit lalu. Padahal itu jadwal bis satu-satunya menuju ke stasiun hari ini. Di akhir pekan hanya ada jadwal pagi dan sore. Berbeda dengan hari biasa yang melayani hingga 7 kali jadwal pulang-pergi. Ya sudah, mau tidak mau aku harus menggunakan “si putih”ku dan bersepeda secepat mungkin ke stasiun. 

Angin musim dingin yang basah mulai menerjang dengan hebat ketika kukayuh sepedaku dengan kencang, di situ aku mulai menggerutu lagi. Karena tanpa long john dan pakaian dalam khusus musim dingin, udara dingin seakan meresap hingga ke tulang. Kereta berikutnya 25 menit lagi. masih cukup waktu. 

Beruntung kemarin sore turun hujan, sehingga salju yang sedikit menumpuk akibat turun dua hari berturut-turut bisa segera terkikis. Walaupun tetap, aku harus berhati-hati karena di beberapa bagian ruas jalan mungkin masih ada yang licin. 10 menit, aku harus sudah sampai stasiun.

Hari ini, pertama kali kami berjalan bersama. Aku tak tahu apakah ini disebut kencan atau bukan , karena memang rencananya tidak hanya berdua. Karena keisengan dan basa basiku saja yang bilang kalau aku mau belanja barang di Nagaoka sekaligus jalan-jalan ke festival di akhir pekan. Kemudian aku menawari dia dan temannya, Ayumi, untuk pergi bersama karena rabu kemarin baru saja mereka mendapat uang gajian setelah hampir 2 minggu bekerja. Mereka sebenarnya tidak satu SMA, namun satu sekolah semenjak TK hingga SMP.
***
Di musim dingin pertamaku ini, aku jadi makin rajin berendam air hangat. Aku tak peduli dengan tagihan air panas di bulan depan, yang penting badan tetap bersih. Masih belum terbiasa juga dengan orang-orang yang mengurangi porsi mandi mereka di musim dingin ini. Seminggu ko mandi maksimal 2 kali. Tapi gara-gara sering berendam pula membuat lebih sering mengantuk. Tidak jarang tertidur di bath tub. Memang, bagiku yang orang dusun ini, mandi di bath tub adalah kemewahan, harus benar-benar dinikmati. Dan gara-gara terlalu menikmati kemewahan itu, aku mengacaukan rencana kami.

***

Kamis, 23 November 2017

Mata jelita dalam keremangan cahaya senja (VI)

belakang asrama
Pemandangan di belakang asrama sudah mulai pekat dengan kabut, pohon-pohon sudah meranggas sejak lama. bersiap akan datangnya salju yang bisa bergunung-gunung tingginya.

"sepertinya sebentar lagi salju akan datang, salju pertamaku"

2 pekan berlalu sejak perkenalanku dengan Reika, yang berarti sudah 1 pekan berjalan dia bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Si gadis SMA yang pada awalnya kukira angkuh itu ternyata cukup menyenangkan. Bagaimana tidak, jika di kereta dia hanya berdiri di pojokan dan memandangi layar ponselnya, jarang sekali bertegur sapa bahkan dengan kawan satu sekolahnya.
Di kampus, ujian akhir semester Fall term pun bisa dilalui dengan mulus, mengingat di term kali ini aku hanya mengambil 2 mata kuliah yang mensyaratkan group project dan 3 mata kuliah hanya paper untuk ujian UASnya. Hanya 1 yang benar-benar harus mengikuti ujian akhir semester berupa exam di tempat. Aku merasa beruntung bisa satu kelompok dengan orang-orang hebat itu, yang walaupun ribet tapi ketika tercapai kata sepakat program langsung bisa cepat dijalankan. Apalagi ada professional di sana, membuat proposal bisnis kami tidak menemui banyak hambatan.
Aku pun mulai belajar bahasa Jepang dengan lebih serius. Memang, walaupun aku bersekolah di negeri ini, namun bahasa lokal tidak dipakai di kampus Internasional seperti kampusku
Dengan demikian, banyak mahasiswa tidak mampu bahkan tidak merasa perlu berbahasa lokal dengan baik. Ya sekedar sumimasen, konnichiwa, arigatou atau kata basa basi semacam itu paling tidak wajib diketahui, sisanya ya tergantung keinginan dan kebutuhan masing-masing. Aku cukup beruntung karena di sini ada komunitas lokal yang dibentuk oleh pemerintah kota setempat untuk mengajarkan bahasa Jepang sehari-hari bagi mahasiswa asing. Modelnya semacam obrolan santai saja, bukan kelas yang sifatnya serius. Terkadang diadakan pula acara-acara seperti hiking bersama, barbeque party atau jalan ke lokasi wisata yang dekat dengan kampus.

"Hey Aoki kun, jadi kamu baru kelas 1 SMA dan Yamamoto san kelas 3, bukan begitu?" Tanyaku, pada dua kawan baru di depanku.
"Ya, tahun ini saya kelas 1, baru masuk. Rumahku juga dekat dari sini, jadi ya sekalian saja mengisi waktu dengan bekerja"
"Kalo kamu Yamamoto san? Rumah dekat sini juga? Kalian satu sekolah"
"Ah tidak, rumahku dekat stasiun Shiozawa. Teman satu sekolah di sini hanya Takagawa san. Tapi dia kelas 2. Aku tak begitu mengenalnya."
"Owh, masih kelas 2 rupanya" gumamku dalam hati.

Ini hari ketiga ku bekerja di pekan ini setelah selesai Ujian Akhir semester. Pekan ini kuambil maksimal 4 hari, 28 jam. Ketika sedang seru-serunya mengobrol membahas kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan ketika musim dingin, bel tanda harus siap kembali bekerja sudah menyalak. Semua orang bersegera, mematikan rokok jika merokok, membereskan alat2 bento dan kursi, serta merapikan meja dan sampah lainnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Sampah bisa dibakar ke tempat sampah merah, sampah kaleng bekas soda, sampah botol air mineral, sampah gelas kertas, dan jenis sampah lainnya. memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Setelah itu semua orang bersiap di posisi, termasuk aku yang kembali ke gudang bersama bagian kuli dan sortir, dua anak SMA itu mendapat jatah di dalam gedung, bagian handuk, sedangkan Reika setahuku dia bertugas di bagian Yukata. Ketika 5 menit kemudian, jam 1 tepat bel mulai bekerja menyalak, semua sudah berada di tempat tugas masing-masing kembali ke rutinitas yang mereka kerjakan sejak pagi hari.

***

Rabu, 15 November 2017

Kawan (V)

Gunung yang sudah mulai bersalju

Aku terbangun terlambat lagi pagi itu. Tak ada suara adzan subuh yang biasa membangunkanku sebagaimana jika tinggal di negeriku sana. Sesuatu yang membuatku merasa sangat kehilangan, membangkitkan rasa kesepian, kesendirian, karna ketiadaan suara azan. Mungkin bagi beberapa orang, suara itu cukup mengganggu waktu tidur dan istirahat. Namun, bagi mereka yang merantau terlalu jauh ke negeri orang, negeri kafir, beberapa orang menyebutnya. Niscaya semua mungkin merasa ada yang kurang dalam kesehariannya..

Walau waktu masih menunjukkan pukul 6.30, tapi hari masih terasa remang. Semakin mendekati musim dingin. Gelapnya malam semakin panjang, menggerogoti waktu bagi mentari membagi sinarnya pada bumi. Bahkan di musim dingin nanti, mentari biasanya baru akan benar - benar terbit jam 7 dan terbenam sejak pukul 5 sore. Terdengar menyenangkan bagi orang yang rajin berpuasa sunnah bukan? Ah sayangnya tidak demikian. Betapa rasa malas itu sedemikian besar ketika terbangun dini hari untuk makan sahur, melawan rasa dingin yang begitu menyengat.

Dan lebih menyebalkan lagi adalah ketika ada orang begitu bersemangat berdiskusi hingga lewat tengah malam. Ya itu...malam tadi. Ah group discussion, suatu kesia-sian bagi seorang pragmatis sepertiku. Apalagi bila dalam kelompok kerjamu ada lebih dari satu orang dominan, dan lebih parahnya lagi mereka memiliki ide dan pandangan yang bertolak belakang. Diskusi yang tidak sehat dan seakan tidak berguna buat anggota tim hore sepertiku. Senada dengan karibku dari Kazakhstan sana, tak banyak bicara dia, hanya sesekali menimpali. Namun paling tidak dia lebih baik dariku, karena masih mampu mengikuti dan berpendapat barang 3-4 kali. Buatku senyuman, celetukan dan kehadiran sudah lebih dari cukup menunjukkan support pada grup project kita kali ini. Sayang ini forum diskusi kecil, di study room kecil, meja pada ruangan yang kecil. Jika dalam kelas dengan mahasiswa lebih banyak lagi. Tentu aku akan berada di pojokan barisan belakang. Khas orang Indonesia.

Tapi aku rasa masih lebih baik daripada kawan asal Laos yang bahkan untuk setor muka pada ketua grup kecil ini aja bisa dihitung jari. Deadline semakin mendekat, ketika kelompok lain sudah mulai implementasi. Ha, ketua grup dari Vietnam masih memilah pendapat mana yang lebih bisa diterima. pendapatnya Medard, seorang bankir dari Burundi atau Nixon, professional asal Perancis. Sementara keduanya pun masih berdebat. Dan bisa ditebak. Kesimpulan grup kami di malam tadi, masih jauh dari kata sepakat. Rapat kecil kami itu pun terpaksa selesai karena jam di ruangan menunjukkan pukul 2. Padahal kami mulai sejak bada Isya. Gila.

"So..what you gonna do then? It's already late, too late brother". Bisikku pada Nazarov. Setelah kelompok kami bubar dan bersiap kembali ke peraduan, asrama mahasiswa masing-masing. Kecuali kawanku satu ini karena dia tinggal bersama keluarga, dengan anaknya usia sekolah dasar. Sehingga, mau tidak mau harus menyewa apato. cukup jauh dari kampus namun bisa ditempuh dengan sepeda.
"No worries, I have my bike" ujarnya.
"At this time? why don't you sleep at my dorm. I have an extra bed. You can use it. It's already cold outside"
"Nah..nevermind. This is nothing for me. In my country, it could be worse, especially during winter."

Hmm..salah satu yang kukagumi dari orang-orang Asia Tengah adalah kegigihannya. Negara-negara bekas jajahan Uni Soviet tersebut memang terletak di wilayah yang sangat keras. Dan melahirkan orang-orang berwatak keras namun juga bermental tangguh. Sering kumendengar musim dingin di sekitaran Asia Tengah, sebagai negara yang pernah jadi bagian Federasi Russia, jauh lebih kejam dibanding musim dingin di mana pun, sama seperti Russia, kecuali daerah kutub tentunya. Bahkan, di suatu daerah bisa mencapai minus puluhan. Maka, di kota kecil berjuluk snow country ini. jika masih belum mencapai minus. Mereka masih kuat bersepeda di luaran sana. Sangat jauh berbeda dengan pria tropis sepertiku. Yang di musim gugur ini saja lebih sering berpakaian lebih dari 2 lapis dan meringkuk di pojokan kamar. Selimut tebal membungkus diri, kaus kaki tebal, laptop dan secangkir kopi. Di depan kaca dengan pemandangan Gunung Hakkai San yang puncaknya sudah mulai memutih.
****

Selasa, 17 Oktober 2017

Penantian (IV)




Wanita tua di depan stasiun Muikamachi

“Whuss...” angin berhembus kencang seiring kereta menuju nagaoka berlalu dari hadapanku. Tidak lupa ku tengok kanan dan kiri sebelum menyebrang rel ini, sesuatu yang konyol menurutku. Seolah-olah bakal datang kereta menyusul di belakang kereta yang tadi atau kereta yang datang dari arah berlawanan. Padahal tentu saja itu semua tidaklah mungkin. Tapi entah kenapa setiap orang sini baik mengendarai mobil, motor, sepeda maupun berjalan kaki selalu tengok kanan dan kiri, padahal sepi dan tidak ada tanda kereta akan lewat. Terlalu patuh menurutku.
Seiring itu pula elang yang sedari tadi menemaniku bersepeda pergi. Entah memang karena hembusan angin dari lewatnya kereta yang mengganggunya. Atau merasa sudah cukup membersamaiku sejak tadi di hari ini. Terkadang, dia terbang melayang di depan, kadang di belakang, kadang pula tepat di atas kepala. Jika kuberhenti dia bertengger di dahan-dahan pohon yang menjulang sepanjang perjalanan. Dan boleh jadi, hanya di sini kubisa menikmati pengalaman langka ini. Ketika hewan-hewan merasa aman berdekatan dengan manusia, seperti misalnya burung elang tadi, karena mereka menyadari sebutan "Hewan yang dilindungi bukanlah tanpa makna". Dan kini mungkin waktu baginya melanjutkan hidup dan menuntaskan urusannya, mencari makan.
Ah pagi yang indah. Seindah harapan akan terulangnya sebuah sebuah pengalaman yang tidak bisa lekang dari ingatan. Beberapa saat lagi kereta menuju minakami lewat, aku harus bergegas. Semoga pagi ini bisa kutatap kembali seraut wajahnya meski sekilas.
***

Kamis, 14 September 2017

Percikan kejaiban (III)


Kippu, yang artinya tiket

Apa yang membuat hidupmu menjadi menarik? Adalah ketika timbul suatu percikan-percikan warna lain dari monotonnya keseharian yang engkau jalani. Bagiku itulah salah satunya.
Di 'negeri robot' ini, semua seakan terprogram, tidak hanya mesin, bahkan manusia yang jelas-jelas memiliki akal dan nafsu seakan mengalir begitu saja menyusuri segala aturan. Aturan-aturan buah pikiran mereka sendiri, dengan ketat dan terkoordinir.
Jadwal-jadwal, tata kota, posisi parkir, desain dan lay out bangunan, pakaian yang harus dikenakan di musim tertentu atau acara tertentu, posisi kendaraan, termasuk dimana kamu harus berdiri menunggu kereta, di situ sang masinis akan menghentikan gerbong yang kamu tunggu. Presisi, persis pintunya berhenti tepat di depan hidungmu. Semua ada standarnya, ada aturannya. Membosankan buatku. Walaupun di saat yang sama mengagumi segala keteraturan ini. Mengagumi kesungguhan mereka menjalankan segala aturan yang ada.
Sehingga, sebagai warga dari sebuah negara yang 'sangat dinamis' diriku harus menerima kenyataan, mau tidak mau harus bisa menyesuaikan. Setengah manusia, setengah robot. Dan sesungguhnya, jika kau benar-benar perhatikan, boleh jadi akan ada sesuatu yang menarik disana, dalam keseharianmu yang monoton itu. Menggelitik sisi manusiamu yang penuh imagi.

---

Selasa, 08 Agustus 2017

Dan dia kembali (II)

Daun Momiji

November, momiji sudah mulai memerah, dedaunan yang lain pun mulai menunjukkan warna-warna yang indah. Di pegunungan Hakkaisan sana, jika kita memiliki waktu untuk berjalan menyusuri sungai ke arah pegunungan, atau jika engkau mau dan mampu, cobalah hiking, berjalan menyusuri bukit di sekitar pegunungan Hakkaisan, atau bukit – bukit kecil di sekitarnya. Gradasi warna yang indah dari setiap pepohonan yang ada boleh jadi membuatmu terpana. Hijau warna asal dedaunan, yang kemudian menguning, memerah, hingga ada beberapa yang sudah berubah menjadi ungu. Menunggu waktu untuk meranggas menggugurkan dedaunan mereka, bersiap untuk dinginnya musim salju.

“Fiuh...”. aku menghela nafas dalam. Jika saja aku tidak terlambat tidur, tentu bangunku tidak akan terlalu siang seperti ini. Memang ketika musim mendekati musim dingin, matahari pun muncul makin siang. Membuatku harus berusaha beradaptasi karena walau bagaimanapun putaran waktu tetap sama. Dan jadwal kereta tidak pernah berubah.

Hari ini aku pun melewatkan kereta pukul 7.20. Memang masih ada kereta-kereta berikutnya. Dan sebagai pegawai paruh waktu, perusahaan pun tidak terlalu mempermasalahkan apabila aku berangkat, yang penting masih bisa ikut mobil jemputan dari stasiun.  Namun yang membuatku kecewa, hari ini aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya. Ya...dia, seorang yang kuanggap seringkali mengisi hari dan tiba-tiba menghilang.

Aku akhirnya bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Di jam kereta yang sama, di gerbong yang sama. Pintu tengah, gerbong nomor dua. Dia...si gadis musim panas.

Antusiasme, rasa penasaran, rasa gugup dan deg-degan. Entah mengapa membuatku tidak bisa memejamkan mata secepat biasanya. Walaupun aku tahu, aku hanya bisa memandangnya, tak punya nyali untuk mendekatinya.

Bukan hanya kendala bahasa, karena aku yakin, jika hanya bertanya nama dan tempat tinggal, aku pasti bisa. Namun, apakah itu wajar? Bagaimana jika dia menganggapku aneh? Bagaimana jika orang lain merasa itu tak pantas, mengajak seorang gadis berkenalan? Karena entah kenapa, orang-orang Jepang cenderung diam dan seakan tak nyaman apabila ada orang tak dikenal membuat pendekatan, apalagi jika jelas-jelas seorang yang asing.

Asing bagi dirinya, asing bagi bangsanya.

********

Kamis, 01 Juni 2017

Napak tilas

Kapal Nggapulu di dermaga

Ketika mereka besar nanti...ingin kuajak mereka, para anak dari istri saya...napak tilas kemana jejak kaki ini pernah melangkah "Ini lho...biak, dan kesana..kita ke serui...naik kapal itu, Nggapulu, kapal Pelni pertama yang Buya pernah naiki" mungkin begitu...terus kutunjukkan lah spot terbaik buat nongkrong dan bengong di pantai mariadei dulu. tempat sekedar berangan2 dan berhitung, berapa potong pohon kelapa diperlukan untuk membuat sebuah getek? yang mana cukup kuat membawa saya ke pulau jawa..trus pake dayung ato motor ya enaknya...trus bekalnya gimana...jalurnya kemana, gimana kalo karam, nyangkut ubur2 pikiran koplak...orang stress
tapi itu dulu, sebelum akhirnya bisa benar2 menikmati suasana pantai itu, dan kota 3km itu. dari pantai yang luasnya tak seberapa, akan kubawa pula ke pusat keramaian kota di kala itu, pasar...tempat pertama kali merasakan makanan khas papua...nasi kuning jawa.


jangan lupakan juga sebuah pantai tersembunyi di sana yang seriously, tidak kalah dari pantainya hawai...itupun kalo jalannya masih ada. dan di akhir perjalanan...boleh lah bila ada kesempatan, mencoba lagi naik kapal, 16 jam ke jayapura...pintu yang membuka kesempatan bapak mereka bisa balik ke jawa dan melanjutkan pendidikan.