![]() |
| Stasiun Urasa (sumber:blog) |
Aku sedang mematut diri di depan cermin kamar mandi. Ketika
samar-samar kudengar gawaiku bergetar. Mungkin aku terlalu fokus berendam tadi,
atau suara air dari shower membuatnya tidak terdengar. Segera ku keluar kamar,
menyambar gawaiku yang tergeletak di meja belajar.
Pesan dari Reika, di aplikasi Line gawaiku.
“Nee... mou sanjuppun gurai. junbi shite ne” [hey...30 menit lagi, siap-siap ya].
pesan berikutnya
“doko...?” [dimana?]
Tambahnya
lagi. ditambah beberapa laporan voice call darinya.
“kenapa ga sabaran sih tu anak?” gerutuku dalam hati.
Eh tar dulu..kuperhatikan, ternyata itu pesan 5 menit lalu
"lah..perasaan tadi ku cuma
berendam 5 menit, tadi belum ada pesan. Waduh..jangan-jangan tadi ketiduran di bath
tub." gumamku.
Cek jam di meja.
“Wah iya bener, knapa aku mandi 30 menit gini, pantes
berasa keriting ni kulit.”
pesan baru masuk
“aku turun di Urasa, ku tunggu di ruang tunggu stasiun 😣😩😠” pesannya lagi.
Berbarengan dengan itu, ada pesan lain di whatsapp, dari Ibu
dan sepertinya agak panjang. Baru kulihat juga panggilan berkali-kali darinya
disana“Nanti sajalah kubaca lagi. Buru-buru” gumamku.
Bergegas aku
memakai baju. kulewatkan long john,
hanya kaus dalam, kaus dan jaket dengan celana jeans. Mudah-mudahan cukup
menangkal hawa dingin yang sudah mulai menggigit di luar sana.
“Sial..sial. terlambat parah begini”.
Terburu-buru juga ku pakai kaus kaki dan sepatu kets ku dan berlari
keluar kamar. Mana ini di lantai 6, mesti menunggu lift dulu.
Cek jam di tangan, bis kampus menuju stasiun sudah pergi 15
menit lalu. Padahal itu jadwal bis satu-satunya menuju ke stasiun hari ini. Di
akhir pekan hanya ada jadwal pagi dan sore. Berbeda dengan hari biasa yang
melayani hingga 7 kali jadwal pulang-pergi. Ya sudah, mau tidak mau aku harus
menggunakan “si putih”ku dan bersepeda secepat mungkin ke stasiun.
Beruntung kemarin sore turun hujan, sehingga salju yang sedikit menumpuk
akibat turun dua hari berturut-turut bisa segera terkikis. Walaupun tetap, aku
harus berhati-hati karena di beberapa bagian ruas jalan mungkin masih ada yang
licin. 10 menit, aku harus sudah sampai stasiun.
Hari ini, pertama kali kami berjalan bersama. Aku tak tahu
apakah ini disebut kencan atau bukan , karena memang rencananya tidak hanya
berdua. Karena keisengan dan basa basiku saja yang bilang kalau aku mau belanja
barang di Nagaoka sekaligus jalan-jalan ke festival di akhir pekan. Kemudian
aku menawari dia dan temannya, Ayumi, untuk pergi bersama karena rabu kemarin
baru saja mereka mendapat uang gajian setelah hampir 2 minggu bekerja. Mereka
sebenarnya tidak satu SMA, namun satu sekolah semenjak TK hingga SMP.
***
Di musim dingin pertamaku ini, aku jadi makin rajin berendam
air hangat. Aku tak peduli dengan tagihan air panas di bulan depan, yang
penting badan tetap bersih. Masih belum terbiasa juga dengan orang-orang yang
mengurangi porsi mandi mereka di musim dingin ini. Seminggu ko mandi maksimal 2
kali. Tapi gara-gara sering berendam pula membuat lebih sering mengantuk. Tidak
jarang tertidur di bath tub. Memang, bagiku yang orang dusun ini, mandi di bath
tub adalah kemewahan, harus benar-benar dinikmati. Dan gara-gara terlalu menikmati kemewahan itu, aku mengacaukan rencana kami.
***
Melewati pesawahan, SMA internasional, pembangkit listrik,
kemudian berbelok menuju jembatan. Dari sana terlihat stasiun Urasa yang megah
dan panjang. Sebetulnya yang megah itu bagian atasnya, peron khusus
shinkanshen. Karena jalur kereta di bawah sama seperti stasiun kereta lokal
kecil lainnya, tidak ada gate. Hanya petugas loket.
Dia berada disana, di ruang tunggu stasiun urasa lantai 2 yang
berbentuk seperti rumah kaca. Tergopoh-gopoh aku mendatangi gadis yang kini
sedang berada di hadapanku, duduk di pojokan ruang tunggu, sedang sibuk dengan
gawai di tangan. Pakaiannya nampak casual dan sederhana, sesuai dengan usianya
yang belia. Sepertinya dia memang senang mengenakkan rok dengan panjang di atas
lutut namun dibalut stoking panjang ketika akan bepergian. Dengan jaket tipis
untuk menutupi blus putihnya. Tapi jaketnya lebih mirip blazer menurutku. Yang
menarik perhatian justru syal yang dilingkarkan di lehernya, yang buatku pada
awalnya terlihat sedikir kebesaran tapi bagaimanapun nampak serasi. Ditambah
tas tangan kecil dengan motif bunga-bunga yang lucu dan berwarna cerah.
Baru
sekali ini aku melihatnya dengan pakaian bebas, selain pakaian seragamnya. Berbeda
pula dengan pakaian yang dikenakannya di pabrik yang biasanya hanya kaos lengan
panjang dan celana training, ditutup jaket olahraga jika waktunya pulang tiba.
Dia menyerocos bahkan sebelum aku sempat membuka mulut untuk
meminta maaf. Aku tahu dia marah, sangat marah. Bahkan dia menggunakan kata anata sebagai ganti kata kamu, padahal
lumrahnya di sini orang dipanggil dengan nama, agar lebih sopan.
“Ini..buatmu, mau yang anggur atau strawbery?” Kataku sambil
duduk di sebelahnya.
“Kenapa kamu membelikanku es krim?” Tanyanya heran.
“Mendinginkan kepala.” jawabku singkat. “kita masih punya
waktu 11 menit sebelum kereta berikutnya datang, ayo makan cepat”
“Musim dingin begini, kamu malah memberiku es krim. Kenapa
bukan kopi?” tanyanya. “Eh, aku suka anggur” tambahnya, dengan nada suara yang
agak melunak sambil tangannya bergerak cepat mengambil es krim mirip padle pop
berwarna ungu dari tanganku.
“Oh itu, aku pikir lebih mudah karena vending machinenya dekat
sini dan bisa langsung dimakan. Lagipula kopi panas butuh waktu untuk
menghabiskannya.” Aku pun mulai menghabiskan es krim satunya.
“Riri san wa hen’na
desuyo. Demo...arigatou ne.”[Riri san aneh..tapi makasih ya] dia terpaksa
melempar senyumnya demi mendengar ocehanku yang ngasal itu. Es krim kami pun
harus segera kami habiskan, tidak mungkin kami bawa-bawa hingga ke Nagaoka atau
dihabiskan di kereta.
Sepertinya amarahnya mulai mereda karena dia dengan lahap
memakan es krim anggurnya. hehe. Dasar anak kecil, bagaimanapun usianya masih
17. Masih sangat belia.
“O iya, Ayumi tidak bisa datang. Dia terkena flu” tambahnya.
Stasiun seakan bergemuruh. Sepertinya shinkanshen yang
jalurnya ada di lantai 3 baru saja tiba berbarengan dengan pengumuman
kedatangannya. Kami pun bergegas menuju vending machine tiket kereta yang
berjejer dekat ruang reservasi sekaligus kantor penjaga stasiun. Aku merasa
bersalah karena membuat Reika harus turun di stasiun ini, membuat tiketnya yang
tadi hangus. Ya sudah sekalian saja kubelikan tiket ke Nagaoka.
Ketika kami sedang mengantri di depan loket agar petugas
memberi cap pada tiket kami. Seseorang menepuk punggungku dari belakang, ketika
itu antrian sudah mulai melaju, dan Reika sudah mengulurkan tiketnya ke penjaga
stasiun.
"Riri san, Ohayoo..." sapanya.
“Hey...Ryo, Ohayoo. Kamu baru datang dari Tokyo?” Ternyata dia kawan
dekatku, Ryosuke, mungkin baru turun dari shinkanshen. Dia tinggal di Nerima,
Tokyo.
“Yeah...Aku tidak berniat berlibur lama-lama, lagipula aku
harus bersiap untuk term depan. Kamu mau kemana?” Tanyanya.
“Hari ini ada festival iluminasi di Echigo park, nagaoka.
Aku akan kesana”
Reika sudah berjalan terlebih dahulu, dan kuularkan pula
tiketku ke penjaga
“Eh...ini kan masih pagi. baru juga jam 10. Iluminasi itu
festival untuk malam hari lho“.
“Aku tahu. Tapi aku ada acara lain terlebih dahulu. Btw mana
mobilmu, kenapa naik shinkashen?”
Setelah tiketku diberi cap, aku pun bergeser, memberi jalan
kepada penumpang lain yang akan lewat.
“Musim dingin di sini keras, mobilku bisa rusak nanti.
Kusimpan di rumah. Owh..jalan-jalan dulu ternyata. Dengan yang lain?” Tanyanya
lagi
“Nee...Riri saaan. Hayakuu”[cepat] Reika memanggil, karena
kereta yang akan kunaiki sebentar lagi tiba.
“Maaf, aku harus pergi sekarang. Aku bersama temanku. Jaa..mata atode” aku pun melangkah
pergi. Reika sedikit membungkukan kepalanya kepada Ryosuke. Seakan meminta izin
karena memotong pembicaraan kami. Namun, sepertinya Ryosuke hanya diam saja, tidak
membalas. Atau, entahlah, aku tidak bisa menangkap air mukanya waktu itu. Aku
dan Reika pun bergegas turun menuju peron 2, menunggu kereta ke arah utara,
Nagaoka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar