Selasa, 28 November 2017

Sehari bersama Reika ...part 1 (VII)

Stasiun Urasa (sumber:blog)

Aku sedang mematut diri di depan cermin kamar mandi. Ketika samar-samar kudengar gawaiku bergetar. Mungkin aku terlalu fokus berendam tadi, atau suara air dari shower membuatnya tidak terdengar. Segera ku keluar kamar, menyambar gawaiku yang tergeletak di meja belajar.

Pesan dari Reika, di aplikasi Line gawaiku.

Nee... mou sanjuppun gurai. junbi shite ne” [hey...30 menit lagi, siap-siap ya].

pesan berikutnya

“doko...?” [dimana?] 

Tambahnya lagi. ditambah beberapa laporan voice call darinya.

“kenapa ga sabaran sih tu anak?” gerutuku dalam hati.

Eh tar dulu..kuperhatikan, ternyata itu pesan 5 menit lalu
"lah..perasaan tadi ku cuma berendam 5 menit, tadi belum ada pesan. Waduh..jangan-jangan tadi ketiduran di bath tub." gumamku.

Cek jam di meja. 

“Wah iya bener, knapa aku mandi 30 menit gini, pantes berasa keriting ni kulit.”
pesan baru masuk

“aku turun di Urasa, ku tunggu di ruang tunggu stasiun 😣😩😠” pesannya lagi.
Berbarengan dengan itu, ada pesan lain di whatsapp, dari Ibu dan sepertinya agak panjang. Baru kulihat juga panggilan berkali-kali darinya disana“Nanti sajalah kubaca lagi. Buru-buru” gumamku.

Bergegas aku memakai baju. kulewatkan long john, hanya kaus dalam, kaus dan jaket dengan celana jeans. Mudah-mudahan cukup menangkal hawa dingin yang sudah mulai menggigit di luar sana. 

“Sial..sial. terlambat parah begini”.

Terburu-buru juga ku pakai kaus kaki dan sepatu kets ku dan berlari keluar kamar. Mana ini di lantai 6, mesti menunggu lift dulu.

Cek jam di tangan, bis kampus menuju stasiun sudah pergi 15 menit lalu. Padahal itu jadwal bis satu-satunya menuju ke stasiun hari ini. Di akhir pekan hanya ada jadwal pagi dan sore. Berbeda dengan hari biasa yang melayani hingga 7 kali jadwal pulang-pergi. Ya sudah, mau tidak mau aku harus menggunakan “si putih”ku dan bersepeda secepat mungkin ke stasiun. 

Angin musim dingin yang basah mulai menerjang dengan hebat ketika kukayuh sepedaku dengan kencang, di situ aku mulai menggerutu lagi. Karena tanpa long john dan pakaian dalam khusus musim dingin, udara dingin seakan meresap hingga ke tulang. Kereta berikutnya 25 menit lagi. masih cukup waktu. 

Beruntung kemarin sore turun hujan, sehingga salju yang sedikit menumpuk akibat turun dua hari berturut-turut bisa segera terkikis. Walaupun tetap, aku harus berhati-hati karena di beberapa bagian ruas jalan mungkin masih ada yang licin. 10 menit, aku harus sudah sampai stasiun.

Hari ini, pertama kali kami berjalan bersama. Aku tak tahu apakah ini disebut kencan atau bukan , karena memang rencananya tidak hanya berdua. Karena keisengan dan basa basiku saja yang bilang kalau aku mau belanja barang di Nagaoka sekaligus jalan-jalan ke festival di akhir pekan. Kemudian aku menawari dia dan temannya, Ayumi, untuk pergi bersama karena rabu kemarin baru saja mereka mendapat uang gajian setelah hampir 2 minggu bekerja. Mereka sebenarnya tidak satu SMA, namun satu sekolah semenjak TK hingga SMP.
***
Di musim dingin pertamaku ini, aku jadi makin rajin berendam air hangat. Aku tak peduli dengan tagihan air panas di bulan depan, yang penting badan tetap bersih. Masih belum terbiasa juga dengan orang-orang yang mengurangi porsi mandi mereka di musim dingin ini. Seminggu ko mandi maksimal 2 kali. Tapi gara-gara sering berendam pula membuat lebih sering mengantuk. Tidak jarang tertidur di bath tub. Memang, bagiku yang orang dusun ini, mandi di bath tub adalah kemewahan, harus benar-benar dinikmati. Dan gara-gara terlalu menikmati kemewahan itu, aku mengacaukan rencana kami.

***


Melewati pesawahan, SMA internasional, pembangkit listrik, kemudian berbelok menuju jembatan. Dari sana terlihat stasiun Urasa yang megah dan panjang. Sebetulnya yang megah itu bagian atasnya, peron khusus shinkanshen. Karena jalur kereta di bawah sama seperti stasiun kereta lokal kecil lainnya, tidak ada gate. Hanya petugas loket.

Kantor polisi yang kecil kulewati, sambil berharap tidak ada polisi yang berjaga, bisa-bisa aku diceramahi karena memang tidak boleh mengendarai sepeda ketika musim salju sudah tiba. Sepeda kutinggal begitu saja di parkiran seven eleven yang berada tepat di depan stasiun. Lebih cepat daripada harus memutar ke parkiran khusus stasiun. Biasa, otak orang Indonesia, ga mau ribet. Prakiraan cuaca hari ini kemungkinan cerah, jadi sepertinya sepedaku akan aman.

Dia berada disana, di ruang tunggu stasiun urasa lantai 2 yang berbentuk seperti rumah kaca. Tergopoh-gopoh aku mendatangi gadis yang kini sedang berada di hadapanku, duduk di pojokan ruang tunggu, sedang sibuk dengan gawai di tangan. Pakaiannya nampak casual dan sederhana, sesuai dengan usianya yang belia. Sepertinya dia memang senang mengenakkan rok dengan panjang di atas lutut namun dibalut stoking panjang ketika akan bepergian. Dengan jaket tipis untuk menutupi blus putihnya. Tapi jaketnya lebih mirip blazer menurutku. Yang menarik perhatian justru syal yang dilingkarkan di lehernya, yang buatku pada awalnya terlihat sedikir kebesaran tapi bagaimanapun nampak serasi. Ditambah tas tangan kecil dengan motif bunga-bunga yang lucu dan berwarna cerah. 

Baru sekali ini aku melihatnya dengan pakaian bebas, selain pakaian seragamnya. Berbeda pula dengan pakaian yang dikenakannya di pabrik yang biasanya hanya kaos lengan panjang dan celana training, ditutup jaket olahraga jika waktunya pulang tiba.

“Hey...perjanjiannya kemarin kamu menunggu di peron. Dan kita bersama-sama naik kereta tadi. Tapi aku tidak melihatmu di bawah sana, jadi aku turun dari kereta. Aku tunggu di ruang tunggu peron pun dingin, penghangatnya mungkin sedang bermasalah. Jadi aku naik kesini. Kamu terlambat, sangat terlambat. Padahal kita punya banyak jadwal hari ini. Kamu tahu, ketika kita terlambat di satu hal, maka kita harus menyesuaikan hal lain setelahnya. Itu menyebalkan. Dan kamu membuatku menunggu lama, sangat lama” Sepertinya itu yang dia katakan, sambil menebar muka yang masam.

Dia menyerocos bahkan sebelum aku sempat membuka mulut untuk meminta maaf. Aku tahu dia marah, sangat marah. Bahkan dia menggunakan kata anata sebagai ganti kata kamu, padahal lumrahnya di sini orang dipanggil dengan nama, agar lebih sopan.

chotto matte kudasai” [tunggu sebentar] kataku. Aku pun keluar. Ketika pintu terbuka ruang tunggu terbuka, udara yang dingin bertabrakan dengan udara hangat di dalam ruang kaca itu. Bergegas ku menuju salah satu vending machine kesukaanku di stasiun ini.

“Ini..buatmu, mau yang anggur atau strawbery?” Kataku sambil duduk di sebelahnya.
“Kenapa kamu membelikanku es krim?” Tanyanya heran.
“Mendinginkan kepala.” jawabku singkat. “kita masih punya waktu 11 menit sebelum kereta berikutnya datang, ayo makan cepat”
“Musim dingin begini, kamu malah memberiku es krim. Kenapa bukan kopi?” tanyanya. “Eh, aku suka anggur” tambahnya, dengan nada suara yang agak melunak sambil tangannya bergerak cepat mengambil es krim mirip padle pop berwarna ungu dari tanganku.

Aku hanya bengong, cepat sekali moodnya berubah.

“Oh itu, aku pikir lebih mudah karena vending machinenya dekat sini dan bisa langsung dimakan. Lagipula kopi panas butuh waktu untuk menghabiskannya.” Aku pun mulai menghabiskan es krim satunya.
Riri san wa hen’na desuyo. Demo...arigatou ne.”[Riri san aneh..tapi makasih ya] dia terpaksa melempar senyumnya demi mendengar ocehanku yang ngasal itu. Es krim kami pun harus segera kami habiskan, tidak mungkin kami bawa-bawa hingga ke Nagaoka atau dihabiskan di kereta. 

Sepertinya amarahnya mulai mereda karena dia dengan lahap memakan es krim anggurnya. hehe. Dasar anak kecil, bagaimanapun usianya masih 17. Masih sangat belia.

“O iya, Ayumi tidak bisa datang. Dia terkena flu” tambahnya.

Stasiun seakan bergemuruh. Sepertinya shinkanshen yang jalurnya ada di lantai 3 baru saja tiba berbarengan dengan pengumuman kedatangannya. Kami pun bergegas menuju vending machine tiket kereta yang berjejer dekat ruang reservasi sekaligus kantor penjaga stasiun. Aku merasa bersalah karena membuat Reika harus turun di stasiun ini, membuat tiketnya yang tadi hangus. Ya sudah sekalian saja kubelikan tiket ke Nagaoka.

Ketika kami sedang mengantri di depan loket agar petugas memberi cap pada tiket kami. Seseorang menepuk punggungku dari belakang, ketika itu antrian sudah mulai melaju, dan Reika sudah mengulurkan tiketnya ke penjaga stasiun.

"Riri san, Ohayoo..." sapanya.

“Hey...Ryo, Ohayoo. Kamu baru datang dari Tokyo?” Ternyata dia kawan dekatku, Ryosuke, mungkin baru turun dari shinkanshen. Dia tinggal di Nerima, Tokyo.

“Yeah...Aku tidak berniat berlibur lama-lama, lagipula aku harus bersiap untuk term depan. Kamu mau kemana?” Tanyanya.

“Hari ini ada festival iluminasi di Echigo park, nagaoka. Aku akan kesana”

Reika sudah berjalan terlebih dahulu, dan kuularkan pula tiketku ke penjaga

“Eh...ini kan masih pagi. baru juga jam 10. Iluminasi itu festival untuk malam hari lho“.

“Aku tahu. Tapi aku ada acara lain terlebih dahulu. Btw mana mobilmu, kenapa naik shinkashen?”

Setelah tiketku diberi cap, aku pun bergeser, memberi jalan kepada penumpang lain yang akan lewat.

“Musim dingin di sini keras, mobilku bisa rusak nanti. Kusimpan di rumah. Owh..jalan-jalan dulu ternyata. Dengan yang lain?” Tanyanya lagi

Nee...Riri saaan. Hayakuu”[cepat] Reika memanggil, karena kereta yang akan kunaiki sebentar lagi tiba.


“Maaf, aku harus pergi sekarang. Aku bersama temanku. Jaa..mata atode” aku pun melangkah pergi. Reika sedikit membungkukan kepalanya kepada Ryosuke. Seakan meminta izin karena memotong pembicaraan kami. Namun, sepertinya Ryosuke hanya diam saja, tidak membalas. Atau, entahlah, aku tidak bisa menangkap air mukanya waktu itu. Aku dan Reika pun bergegas turun menuju peron 2, menunggu kereta ke arah utara, Nagaoka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar