![]() |
| Iluminasi |
Hampir 1 jam perjalanan kami menuju tempat tujuan utama. Kali ini Reika tidak banyak bercerita, hanya diam dan sesekali berkomentar ketika ku bercerita tentang apa saja yang ada di dalam kampus. Matanya seakan menerawang, memandangi pemandangan di kanan kiri jalan, juga memandangi para penumpang yang berjubel di depan. Kami duduk di belakang, sehingga bebas melihat dan mengamati semua yang ada. Festival iluminasi sepertinya terkenal, terbukti banyak sekali orang yang bertujuan sama dengan kami. Apalagi hari ini hari sabtu, malam minggu.
“Tokorode, Riri san no daigaku de minna wa eego o hanashimasuka?” tanyanya
tiba-tiba.
“Ya..full english” jawabku.
“Nihonjin mo? Eego hanasu?”
“Tentu saja, kecuali kalau mereka berkumpul dengan
sesamanya”
“Sugooi. Sepertinya aku ingin kuliah di tempat Riri san juga nanti.”
“Bukannya kamu bilang ingin di Tokyo, di kota besar?”
“Aku tak tahu, suatu saat mungkin bisa berubah. Waktu kecil,
ayah sering mengajakku dan Ibu ke Tokyo atau kota lain. Ayah mengerjakan
urusannya dan aku berjalan-jalan disana. Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah
lupa kapan terakhir Ayah mengajak kami demikian.” Dia bercerita, tanpa menoleh
untuk saling memandang mata.
“Kamu sering ke sini? Nagaoka. Sepertinya kamu tahu banyak
tentang kota ini.”
Dia tidak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum. Kemudian
kembali memalingkan muka, memperhatikan lembayung senja di luar jendela.
Sepertinya bus sudah mulai mendaki bukit. Aku rasa ketinggian sudah mulai
bertambah, dan rasa dingin makin menyengat. Untung aku memakai jaket hangat yang
kubawa dari Indonesia.
“deeto ka
kazoku to ryoko shimashutaka” [apakah itu
ngedate atau jalan-jalan?]
“ee...” dia
sedikit kaget dengan pertanyaanku. Pandangannya menelusuri mataku, memastikan
aku sedang tidak bercanda dengan pertanyaanku.
“Maksudku, ketika kamu ke nagaoka, apakah sedang berkencan
atau jalan bersama keluarga?” tanyaku sambil cengengesan. Mencoba mencairkan
suasana.
“Rahasia” Jawabnya sambil melet, menjulurkan lidah.
“Kalau memang berkencan tidak apa, nanti tolong ajari. Aku
tak tahu caranya.” Timpalku.
“Usso [bohong].
Riri san pasti banyak pengalaman, pasti banyak fansnya." Tambahnya, raut
mukanya kembali normal. Matanya kembali cerah dan bercahaya.
“Beneran ini. Aku jarang bergaul. Tapi gadis sepertimu juga pasti banyak yang suka,
mungkin pengalamannya banyak. Dakara Oshiete
kudasai”
“Ga percaya.” :P jawabnya.
Hening sejenak
Hening sejenak
“aku suka kota besar, tidak membosankan seperti tempatku. Aku punya teman bernama Ai, kakaknya dulu tinggal di Tokyo. Dia tetanggaku, aku
sering bersama Ai san mengunjungi kakaknya di Tokyo. Tapi sekarang tidak lagi.” tambahnya lagi, memecah kesunyian.
“Ai san?”
“Ya..teman dan tetanggaku yang lain selain Ayumi chan. Lebih tua dariku,
tapi kami berteman baik.” jawabnya. “Itsukamachi itu kota kecil, kamu pasti
tahu itu. Jadi kami mengenal tetangga kami dengan baik satu sama lain.”
tambahnya lagi
Baguslah.. dia sudah mulai bercerita lagi, dengan warna yang
lebih ceria. Walau mungkin tidak seterang biasanya. Mungkin sudah lelah
berjalan seharian.
Bus kami sudah hampir mencapai pemberhentian terakhir. Halte
bus taman Echigo Hillside. Ketika bus sudah berhenti sepenuhnya, para penumpang
kemudian bergerak turun dengan tertib. Tidak lupa membayar dengan memasukkan
uang ke dalam mesin, sesuai dengan tarif yang tertera di layar, di atas kaca
jendela depan. Dari perhentian mana kamu naik, tertulis jumlah seharusnya.
Aku terpana melihat tempat tujuan kami ini, memang di brosur dan website aku lihat
festival ini menarik. Walaupun pada awalnya aku kira biasa saja, hanya permainan tata lampu hias
yang biasa dipakai dulu ketika menyambut ulang tahun kemerdekaan. Namun ternyata aslinya
benar-benar bagus, benar-benar indah. Lampu-lampu yang dirangkai membentuk
lorong, pohon, hewan-hewan, kereta dan lain-lain. Bahkan katanya di kota lain,
festival iluminasi lebih wah karena lampu yang di susun di atas gunung dan
membentuk lukisan yang sangat besar. Di sini pun cukup menarik, gunung dari
tumpukan gelas disinari cahaya kebiruan yang mana air mengalir dari atasnya.
Membuat pemandangan yang sangat indah dimata.
Sesampainya di lobby gedung utama, seperti biasa aku mencari
toilet dan tempat yang nyaman dan tidak mengganggu orang untuk solat. Sedangkan
Reika menunggu di cafe dengan kopi panasnya, kemudian sibuk dengan gawainya.
Dia lupa, dan aku pun kembali lupa bahwa dia ingin melihatku solat. Kadang aku
bingung, beneran dia penasaran atau hanya asal bicara. Tapi sepertinya dia
serius, karena ketika ku kembali dia kembali ngambek karena aku tidak
memberitahunya.
Festival iluminasi sepertinya sebuah festival yang
beriringan dengan perayaan hari natal. Terbukti dari seting dan hiasan-hiasan
dan ornamen yang identik dengan hari raya umat kristiani dimana-mana. Apakah
menurutmu orang Jepang itu nasrani? Tentu tidak, walaupun ada ya tidak
mayoritas. Namun entah kenapa setiap perayaan apapun yang berbau Nasrani atau barat
mereka bersemangat menyambutnya. Reika pun cukup senang dengan semua yang ada di
sana, walaupun aku pikir bukan hal baru baginya.
“Aku pikir karena kami sangat suka dengan perayaan dan
festival.” Jawabnya ngasal, ketika kutanyakan pertanyaan tersebut.
“Oh..aku kira karena bisnis.” ujarku.
“Apa itu? aku tidak paham.” Tanyanya, dengan tatapan polos.
Wajahnya makin terlihat polos dengan gula-gula, sejenis aromanis, di tangannya. Makanan anak-anak.
Ah sudahlah, mungkin memang dia belum paham. Dan aku pun
malas menjelaskan.
“Tapi aku pikir, jika orang Islam mau mendaftarkan hari-hari
besarnya. Perayaan kita akan makin banyak. Dan aku senang akan hal itu.” Tambahnya
lagi.
“haha..tentu.” aku tersenyum geli mendengarnya.
"memangnya apa yang kamu lakukan kalau hari libur? " tanyaku.
" aku jadi punya waktu untuk jalan-jalan" jawabnya.
"dan belanja? "tambahku
" haha.. Iya belanja" jawabnya dengan riang.
Kami mulai memasuki gedung utama karena di luar sudah terlalu dingin menurutku. Sepertinya kopi yang kami beli tadi tidak cukup memberikan kami kehangatan untuk waktu yang lama. Kami berjalan beriringan ketika tiba-tiba Reika menggenggam tanganku.
"Riri san... Arigatou"
"eh... Nande... Nande mo arigatou? " jawabku kaget
" Ie... Daijobu. Kyou watashi wa tanoshikatta desu" jawabnya lirih namun dengan mata berbinar. Mata yang berkali-kali menghisap seluruh perhatianku akan sinarnya.
"sounandeshiyo ne. Ii ne. Boku mo tanoshikatta. Arigatou to gommenasai" jawabku, dengan tenang. Berusaha menampilkan sosok se cool mungkin. Walaupun sebetulnya badanku sangat gemetar. Ini pertama kali aku berdiri sangat dekat dengan seorang gadis.
Aku... Mati gaya. Sementara Reika sudah memalingkan pandangan, kembali bersikap biasa menikmati tata lampu hias yang di ruangan ini memenuhi seluruh tembok di kanan kiri. Membentuk motif hati, kata cinta, atau kalimat romantis lainnya.
Ya ampun, kenapa ini kaki otomatis malah melangkah ke ruang ini. Nafasku jadi terasa makin sesak setelah menyadari di sekitar kami semua orang berpasangan.
Aku... Tak tahu, habis ini mesti ngomong apa. Apa kutembak saja? Ah tidak buat apa? Dan memang selama ini belum berpikir ke arah sana. Aku hanya senang jalan-jalan dan kebetulan ada kawan yang menemani. Walaupun memang Reika menarik, namun masih banyak hal yang membuatku menahan diri untuk berpikir lebih jauh.
"Nee.. Riri san..... " Reika memanggil ketika aku sedang fokus membaca kata mutiara di dinding.
" Riri saan" panggilnya lagi.
"are... Gome-gome" jawabku.
"daijobu? "tanyanya.
" hai.. Daijobu desu" jawabku. Dengan senormal mungkin.
"lihat, disana kita bisa melukis botol mineral. Kemudian kita buat permohonan disana". Katanya.
Aku lihat sebuah meja berisikan alat-alat mewarnai dan tumpukan botol air mineral kosong. Memang sepertinya disiapkan sebagai tempat membuat prakarya. Hanya saja disana anak-anak yang berkumpul. Tidak ada orang dewasa.
Reika membimbingku ke tempat duduk di sebelah anak gemuk yang sedang sibuk dengan botolnya. Reika pun mulai sibuk juga dengan pewarna dan kuasnya. Sedang aku bengong, aku tak pintar menggambar. Reika sepertinya menggambar sebuah perahu layar dengan beberapa orang di atasnya, ada air laut, bulan dan bintang-bintang. Tidak lupa disipikan lambang hati. Sepertinya dia sangat berbakat menggambar.
5 menit berlalu, botolku masih bersih. Anak gemuk disebelahku berulangkali melirik, dengan pandangan sedikit meremehkan.
Asyem.. Ngece ni anak kecil.
Akhirnya kuasku pun bergerak, menggambar sebuah karakter yang selalu ada di dalam ingatan.
"Yatta.. Owatta. "Reika berseru. Kemudian dia ikat ujung botolnya dan memberi sedikit tulisan. Kanji, dan aku tak paham.
" setelah ini, kita gantung disana. " katanya. Sambil memandang botol lukisku.
" eh Riri san, apa yang kamu gambar? Apa ini cita-cita mu? "tanyanya
" Eh.. Ano.. Ya ini yang aku suka"jawabku.
"kamen ridernya jelek" tiba-tiba si anak gemuk berkomentar. Aku hanya bisa meliriknya dengan tatapan tajam dan Reika tergelak mendengarnya, tertawa dengan lepas.
Botol harapan pun digantung, hanya punya Reika dan si anak gemuk yang kesulitan mengikat tali gantungannya. Punyaku, biar kusimpan saja.
"lagipula, aku tak begitu percaya dengan pohon harapan dan semacamnya". Kataku pada Reika. Memberi alasan kenapa karyaku tak mau kupajang. Dan dia hanya tertawa demi mendengar itu.
"apa kamu bercita-cita menjadi pahlawan bertopeng? " katanya lagi, diantara derai tawa.
Hari sudah semakin larut. Kami pun harus bergegas.
"memangnya apa yang kamu lakukan kalau hari libur? " tanyaku.
" aku jadi punya waktu untuk jalan-jalan" jawabnya.
"dan belanja? "tambahku
" haha.. Iya belanja" jawabnya dengan riang.
Kami mulai memasuki gedung utama karena di luar sudah terlalu dingin menurutku. Sepertinya kopi yang kami beli tadi tidak cukup memberikan kami kehangatan untuk waktu yang lama. Kami berjalan beriringan ketika tiba-tiba Reika menggenggam tanganku.
"Riri san... Arigatou"
"eh... Nande... Nande mo arigatou? " jawabku kaget
" Ie... Daijobu. Kyou watashi wa tanoshikatta desu" jawabnya lirih namun dengan mata berbinar. Mata yang berkali-kali menghisap seluruh perhatianku akan sinarnya.
"sounandeshiyo ne. Ii ne. Boku mo tanoshikatta. Arigatou to gommenasai" jawabku, dengan tenang. Berusaha menampilkan sosok se cool mungkin. Walaupun sebetulnya badanku sangat gemetar. Ini pertama kali aku berdiri sangat dekat dengan seorang gadis.
Aku... Mati gaya. Sementara Reika sudah memalingkan pandangan, kembali bersikap biasa menikmati tata lampu hias yang di ruangan ini memenuhi seluruh tembok di kanan kiri. Membentuk motif hati, kata cinta, atau kalimat romantis lainnya.
Ya ampun, kenapa ini kaki otomatis malah melangkah ke ruang ini. Nafasku jadi terasa makin sesak setelah menyadari di sekitar kami semua orang berpasangan.
Aku... Tak tahu, habis ini mesti ngomong apa. Apa kutembak saja? Ah tidak buat apa? Dan memang selama ini belum berpikir ke arah sana. Aku hanya senang jalan-jalan dan kebetulan ada kawan yang menemani. Walaupun memang Reika menarik, namun masih banyak hal yang membuatku menahan diri untuk berpikir lebih jauh.
"Nee.. Riri san..... " Reika memanggil ketika aku sedang fokus membaca kata mutiara di dinding.
" Riri saan" panggilnya lagi.
"are... Gome-gome" jawabku.
"daijobu? "tanyanya.
" hai.. Daijobu desu" jawabku. Dengan senormal mungkin.
"lihat, disana kita bisa melukis botol mineral. Kemudian kita buat permohonan disana". Katanya.
Aku lihat sebuah meja berisikan alat-alat mewarnai dan tumpukan botol air mineral kosong. Memang sepertinya disiapkan sebagai tempat membuat prakarya. Hanya saja disana anak-anak yang berkumpul. Tidak ada orang dewasa.
Reika membimbingku ke tempat duduk di sebelah anak gemuk yang sedang sibuk dengan botolnya. Reika pun mulai sibuk juga dengan pewarna dan kuasnya. Sedang aku bengong, aku tak pintar menggambar. Reika sepertinya menggambar sebuah perahu layar dengan beberapa orang di atasnya, ada air laut, bulan dan bintang-bintang. Tidak lupa disipikan lambang hati. Sepertinya dia sangat berbakat menggambar.
5 menit berlalu, botolku masih bersih. Anak gemuk disebelahku berulangkali melirik, dengan pandangan sedikit meremehkan.
Asyem.. Ngece ni anak kecil.
Akhirnya kuasku pun bergerak, menggambar sebuah karakter yang selalu ada di dalam ingatan.
"Yatta.. Owatta. "Reika berseru. Kemudian dia ikat ujung botolnya dan memberi sedikit tulisan. Kanji, dan aku tak paham.
" setelah ini, kita gantung disana. " katanya. Sambil memandang botol lukisku.
" eh Riri san, apa yang kamu gambar? Apa ini cita-cita mu? "tanyanya
" Eh.. Ano.. Ya ini yang aku suka"jawabku.
"kamen ridernya jelek" tiba-tiba si anak gemuk berkomentar. Aku hanya bisa meliriknya dengan tatapan tajam dan Reika tergelak mendengarnya, tertawa dengan lepas.
Botol harapan pun digantung, hanya punya Reika dan si anak gemuk yang kesulitan mengikat tali gantungannya. Punyaku, biar kusimpan saja.
"lagipula, aku tak begitu percaya dengan pohon harapan dan semacamnya". Kataku pada Reika. Memberi alasan kenapa karyaku tak mau kupajang. Dan dia hanya tertawa demi mendengar itu.
"apa kamu bercita-cita menjadi pahlawan bertopeng? " katanya lagi, diantara derai tawa.
Hari sudah semakin larut. Kami pun harus bergegas.
Hening..hanya terdengar langkah kami berdua. Ketika tiba
saatnya kami meninggalkan tempat ini. Menyusuri lorong yang dihiasi lampu
berwarna keemasan. Instagrammable kata orang. Aku tidak bisa pulang terlalu
larut, karena besok pagi aku harus kembali bekerja. Sedangkan Reika senin depan
sudah mulai bersekolah seperti biasa. Dia juga harus bersiap, katanya
“Nee...Reika chan. Kyou, boku tachi wa deeto shimashuka?” ujarku memecah keheningan.
Dia pun menghentikan langkahnya, demi mendengar
pertanyaanku. Kemudian menoleh, memandangku lama. Serta menangkupkan tangan di dada, seperti
orang yang sedang berpikir. Lucu sekali tingkahnya itu.
“Tabun, sou desho.”
Jawabnya. Dihiasi senyumannya yang paling manis dimataku hari ini. Aku pun
mencoba memberikan senyuman terbaikku untuknya.
Dan kami pun berjalan menuju parkiran, meninggalkan
warna warni cahaya lampu hias di belakang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar