![]() |
| papan penunjuk arah |
Kereta sedikit bergoyang ketika bergerak memasuki
terowongan.
Kami duduk berhadapan, di kursi 4 orang yang seperti tempat duduk
kelas bisnis di Indonesia itu. Namun bedanya, di sini kursinya empuk dan nyaman
padahal ini sekedar kereta rel listrik biasa. Selain itu, walaupun secara umum dari luar
gerbong kereta di Jepang nampak sama, lay outnya bisa berbeda-beda.
Bahkan aku pernah melihat kereta ke arah Tokamachi yang hanya 1 gerbong tapi
dalamnya lumayan mewah. Lucu menurutku, karena di negeriku paling sedikit 8 gerbong.
Itupun hibah dari negeri ini.
Aku sedang menatap gundukan salju di luar. Mungkin di sini
tidak ada hujan, masih sedikit tinggi tumpukannya. Sedang di depanku, Reika nampak berbicara dengan kawannya di telpon. Setengah berbisik, karena memang ada peraturan tak tertulis untuk tidak berbicara dan membuat kegaduhan dalam kereta. Bahkan gawai kita pun disarankan untuk di ubah ke mode silent.
“Gome..tomodachi ni
hanashimashita” [maaf..tadi berbicara dengan teman]
setelah dia menutup pembicaraan di telfonnya. Aku hanya
meliriknya dan tersenyum.
“ii yo.” [gapapa]. jawabku, sambil mataku tetap tak bergeming dari kaca jendela.
“Hai..sugoi da.
Omoshirokatta”[ya..keren] jawabku. excited, dengan pertanyaannya.
“aku pikir salju itu seperti kapas,
ternyata keras. Pertama kali salju turun, cukup lebat dan angin sedikit kencang.
Tapi aku dan beberapa teman dari Indonesia justru menari-nari di bawah hujan
salju. Membuka mulut, merasakan rasanya salju. Ada teman yang menampung butiran
salju di tangannya, kemudian dia lemparkan kesana kemari. Ternyata salju keras
seperti batu. Kepalaku sakit terkena lemparan.” aku bercerita. “kami berkumpul di tengah-tengah lapang asrama
kampus. Ternyata semua orang melihat kami disana, tapi dari kamar masing-masing
sih.”
“Besoknya kami terserang flu. Tanganku pun berasa mati rasa.
Ditambah kami jadi bahan tertawaan karena kelakuan absurd kami itu. Untung
kawanku membawa minuman dan obat tradisional Indonesia. Lumayan cepat pulihnya,
tapi tidak dengan bahan tertawaaan.” tambahku lagi.
“hahaha...” Dia tergelak, memamerkan barisan giginya yang
putih bersih itu. Ketika ku peragakan bagaimana tarian memanggil salju kami,
kami namai begitu, tawanya makin lepas. Membuat semua orang di kereta yang
tidak begitu sesak itu menengok, dan menggelengkan kepala. “Dasar anak muda”.
Mungkin pikir mereka begitu.
“Itu tarian mengundang penyakit” sahutnya, di antara
derainya tawa.
“Eh iya, apakah kalian juga mendapat vaksin flu. Di sini
setiap musim dingin tiba, setiap tahun kami persiapkan diri agar tidak mudah
sakit.” Tambahnya lagi.
“Kampusku menjadwalkannya baru minggu depan, wajib ya?
Tadinya aku pikir tidak membutuhkannya. Lagipula harganya sedikit mahal buatku”
“Aku rasa kamu memerlukannya, apalagi kamu tidak terbiasa”
“Ano sa...tadi aku
bertanya jadwal film hari ini di bioskop, temanku sudah kesana lebih dulu
kemarin”
“O iya, Riri san kan mau mencari perlengkapan musim dingin
di hard off. Sepertinya waktunya tidak cukup, jaraknya berjauhan.”
“hmm..daijobu, lain
kali saja aku kesana. Gara-gara aku terlambat waktu kita jadi terbatas.
Langsung ke bioskop tidak apa.” jawabku, mencoba meyakinkannya. Padahal sebetulnya aku sangat ingin kesana, aku butuh perlengkapan musim dingin dan perlengkapan ski. Katanya disana jauh lebih murah.
“ soudesune, tenang saja, di dekat
bioskop juga ada toko barang second. Second street namanya, pilihan pakaian
lebih lengkap disana dibanding hard off. Mungkin bisa kesana sebentar”
Perjalanan 46 menit ke Nagaoka lebih banyak diisi dengan
monolog dia yang senang bercerita apa saja. Tentang sekolah, tentang teman
seganknya di sekolah, tentang stiker baru di line, tentang hobinya yang belanja
dan jalan-jalan, tentang impiannya melanjutkan kuliah di kota besar, tentang
uang gaji yang baru kemarin dia terima sebagian dipakai mentraktir
teman-temanya, tentang kucing peliharaanya yang pemalas dan hobinya tidur, tentang
ayahnya yang seorang businesman dan sering pergi ke luar kota, dan banyak hal
tentangnya. Sedang aku, cukup menjadi pendengar setia. Selain sebetulnya bahasa
Jepang ku yang masih agak terbatas, obrolan kami yang campur-campur antara
bahasa jepang, inggris dan bahasa tubuh paling tidak membuat percakapan tidak
jelas juntrungannya ini tetap berjalan. Walaupun tentunya aku lebih banyak
sebagai pendengar.
Aku cukup memandangi matanya yang sering terlihat berbinar
ketika dia dengan penuh semangat bercerita tentang hal yang disukai. Dia, gadis
yang manis dan menarik. Meski tidak secantik beberapa artis atau idol negeri
ini. Tapi bagiku sorot matanya yang ceria dan seakan bercahaya, ditambah
auranya sebagai gadis belia membuat daya tarik yang berbeda dibanding gadis
seusianya yang banyak juga sudah pintar berdandan.
“Jadi, kita akan menonton film apa?” Tanyaku, ketika obrolan
kami bergeser ke jenis film kesukaan.
“Temanku menyarankan Chihayafuru bagian II, bagian
pertamanya bagus aku ingin lihat lanjutannya”
“ii desuka. [Bagus
ya?]”
“Tentu saja, aktornya juga tampan. hehe..” dia tersenyum
sendiri, tersipu sendiri.
“Hadeeuh, sama aja. dasar abg” kataku dalam hati
“ano...subtitle ga
aru?” tanyaku
“nani subtitle?”
[subtitle apa]
“eego....eega no
subtitle ga arimasuka? watashi no nihongo wa chotto dakke kara” [english,
subtitle untuk filmnya ada tidak? soalnya kemampuan bahasa jepangku masih
sedikit]
“Eh...arimasen desuyo,
koko ni nihon da yo. ano..nihon no eega wa eego no subtitle ga iranai”
[tentu saja tidak, ini kan Jepang, film jepang tak perlu subtitle] tambahnya.
Waduh aku lupa, tentu saja di sini film lokal ga bakal pakai
subtitle.
“Riri san no nihongo
wa jyouzu dana, daijobu dayo” [bahasa jepangmu bagus ko, gapapa]
“ie..ie. [tidak..tidak]. bahasa
jepangku belum semahir itu, kalau orang berbicara cepat terkadang tidak
paham”
“are...aku selalu
berbicara cepat, tapi sepertinya Riri san paham”. tanyanya heran.
“hehe... itu aku ga semua mengerti, chotto dakke [sedikit saja]. sisanya hanya mengira-ngira dari kata yang kupahami”
“jadi...waktu aku ngomel tadi, waktu cerita tadi, Riri san
paham tidak?“ nadanya sedikit mulai meninggi lagi
“Hehe...sukoshi
[sedikit]” kujawab, lalu ku membuang muka ke arah jendela sambil cengengesan menahan tawa.
"fiuhh..." dia nampak geleng-geleng kepala
raut mukanya tak bisa kugambarkan, entah itu kecewa,
kaget, atau marah.
Dia pun membuang muka, mau ngambek sepertinya. Tangan
bersedekap dan memandang ke arah jendela.
Hening
Tak lama kemudian, kami saling melirik satu sama lain. Dan
pecah lah tawa kami berdua hingga untuk kali kedua semua orang kembali menatap
kami, dengan mata tajam yang menggambarkan betapa terganggunya mereka.
Aku melirik kembali gadis yang berada di depanku ini.
Sungguh, ku tak menyangka, walaupun dulu kami sering berdiri berhadapan. Namun
dunia kita berbeda dan aku hanya bisa melihatnya sekilas, itu pun mencuri
pandang tanpa pernah bertegur sapa. Berbeda dengan sekarang, terang-terangan
beradu mata, tertawa bersama-sama. Dengannya, si gadis dengan mata jelita, aku merasa 10 tahun lebih muda.
“ato wa, hanashite
yukkuri kudasai” [nanti, kalau ngomong pelan-pelan] ujarku. Mencoba mencairkan suasana kembali.
“hahaha.. yokkai,
demo..watashi ni eego o oshiete kudasai ne” [siap..tapi tolong ajari aku bahasa
inggris]
“tapi..kamu bilang
tak suka bahasa inggris.” Aku ingat tempo hari dia bilang bahasa Inggris itu sulit. Padahal buatku lumayan, dia cukup paham apa yang kukatakan.
“hai..kirai desu.
Totemo kiraida” [ya, ga suka. sanget benci] katanya. “tapi sepertinya aku
membutuhkannya. Aku juga bisa terlihat keren jika bisa lancar berbahasa asing.
Bisa ngobrol dengan turis eropa yang tampan-tampan itu” Tambahnya dengan mata
berbinar-binar.
Aku pun hanya geleng-geleng mendengar ocehannya itu.
Ternyata gadis yang kukira angkuh ini, cukup terbuka jika berbicara.
Sesaat lagi kami sampai ke tujuan, stasiun Nagaoka. Kota
besar jika dibanding dengan Urasa, walau tak sebesar Niigata apalagi Tokyo.
Kami tiba di tujuan menjelang jam makan siang.
“onaka ga hikuida”[aku
lapar] katanya dengan mata memelas. Sesaat setelah kami keluar gate stasiun.
“Eh..aku tahu warung ramen yang enak, ayo” ajaknya lagi. Tanpa
minta persetujuan lebih dulu sambil ditariknya tanganku..
Sebelum melangkah lebih jauh, kutahan tangannya.
“matte.matte...ore wa ramen o
tabenai” [aku tak bisa makan ramen]
“doushite? ramen wa
oishi da yo” [kenapa? ramen enak lho]. tanyanya penasaran.
“ramen de butaniku ga
hairimasu” [di ramen ada daging babinya]
“soka? hontou desuka?
watashi wa wakaranai?” [masa? yakin? aku ga tau]
“Eh...wakakunakatta?” [eh? belum tahu?]
“hai...wakakunakatta.” [ya..belum tahu] jawabnya. “aku hanya tahu ramen
itu enak.” tambahnya dengan tatapan polos.
haduh..gimana sih. Padahal semua teman Jepang bilang Ramen di sini ga bisa buat muslim.
“Reika chan wa riori o shinai da ne.
kirai da ne?” [Reika ga masak ya? ga suka?]
“hehe...so desu” [hehe..iya] jawabnya
sambil nyengir kuda.
Akhirnya kami pun berdebat di cocolo stasiun Nagaoka, sebuah
pasar swalayan dengan pilihan makanan yang cukup lengkap. Disana juga berjejer
macam-macam restoran. Aku memilih restoran sushi saja karena buatku lebih aman.
Namun dia senang dengan restoran yang ada gorengannya, nasi dengan tempura. Sayangnya
lokasi keduanya berjauhan. Hingga pada akhirnya kami hanya menyambar nasi
kepal. Buat bekal karena ternyata bus no 2 menuju Riverside, mal dimana bioskop
berada, akan berangkat. Dan kami malas untuk menunggu bis berikutnya.
Pukul 1 siang kami sudah mengantri di depan loket teater.
Setelah debat lagi tentang film yang akan kami tonton. Pilihan kami jatuh pada
the secret life of pets. Aman buatku, karena audionya menggunakan bahasa
Inggris, dan film kartun anak-anak baginya juga menarik. Walaupun memang aneh
sih, di Jepang malah nonton film kartun Amerika. Masih ada waktu 15 menit
sebelum film dimulai, kami pun menyeberang ke gedung sebelah, sebuah mall yang
cukup besar dan lengkap. Dia mau window shopping sebentar katanya. Dan aku pun pamit
ke toilet sekaligus mencari spot yang enak untuk sholat.
“darimana? dari tadi aku mencarimu” tanyanya, terlihat ada
jinjingan baru di tangannya, sepertinya selesai belanja.
“maaf, sholat dulu” jawabku singkat.
“Apa, harusnya kami memberitahuku. Aku ingin lihat, ayo
sholat lagi.”
“Tidak bisa, cukup sekali saja. Ok nanti ya.”
“Yah.. Riri san sudah berjanji. Aku mau lihat Riri san
solat.”
“Iya..janji. Dan aku pun ingin memotretmu seperti gambar di
poster itu”
“Saat ini tidak bisa, musim dingin. Mungkin nanti, kalau
sudah musim semi.”
“Ok, akan kutunggu. Btw, filmnya sudah mau mulai, ayo
berangkat”. aku pun melenggang pergi. Diikuti Reika yang berlari kecil beberapa
langkah di belakang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar