Selasa, 28 November 2017

Sehari bersama Reika...part 2 (VIII)

papan penunjuk arah

Kereta sedikit bergoyang ketika bergerak memasuki terowongan. 
Kami duduk berhadapan, di kursi 4 orang yang seperti tempat duduk kelas bisnis di Indonesia itu. Namun bedanya, di sini kursinya empuk dan nyaman padahal ini sekedar kereta rel listrik biasa. Selain itu, walaupun secara umum dari luar gerbong kereta di Jepang nampak sama, lay outnya bisa berbeda-beda. Bahkan aku pernah melihat kereta ke arah Tokamachi yang hanya 1 gerbong tapi dalamnya lumayan mewah. Lucu menurutku, karena di negeriku paling sedikit 8 gerbong. Itupun hibah dari negeri ini.

Aku sedang menatap gundukan salju di luar. Mungkin di sini tidak ada hujan, masih sedikit tinggi tumpukannya. Sedang di depanku, Reika nampak berbicara dengan kawannya di telpon. Setengah berbisik, karena memang ada peraturan tak tertulis untuk tidak berbicara dan membuat kegaduhan dalam kereta. Bahkan gawai kita pun disarankan untuk di ubah ke mode silent.

Gome..tomodachi ni hanashimashita” [maaf..tadi berbicara dengan teman]
setelah dia menutup pembicaraan di telfonnya. Aku hanya meliriknya dan tersenyum.

“ii yo.” [gapapa]. jawabku, sambil mataku tetap tak bergeming dari kaca jendela.

“Riri san wa hajimete, yuki o mite ne?”[Riri san pertama kali melihat salju ya?]

“Hai..sugoi da. Omoshirokatta”[ya..keren] jawabku. excited, dengan pertanyaannya.

 “aku pikir salju itu seperti kapas, ternyata keras. Pertama kali salju turun, cukup lebat dan angin sedikit kencang. Tapi aku dan beberapa teman dari Indonesia justru menari-nari di bawah hujan salju. Membuka mulut, merasakan rasanya salju. Ada teman yang menampung butiran salju di tangannya, kemudian dia lemparkan kesana kemari. Ternyata salju keras seperti batu. Kepalaku sakit terkena lemparan.” aku bercerita.  “kami berkumpul di tengah-tengah lapang asrama kampus. Ternyata semua orang melihat kami disana, tapi dari kamar masing-masing sih.”

“Besoknya kami terserang flu. Tanganku pun berasa mati rasa. Ditambah kami jadi bahan tertawaan karena kelakuan absurd kami itu. Untung kawanku membawa minuman dan obat tradisional Indonesia. Lumayan cepat pulihnya, tapi tidak dengan bahan tertawaaan.” tambahku lagi.

“hahaha...” Dia tergelak, memamerkan barisan giginya yang putih bersih itu. Ketika ku peragakan bagaimana tarian memanggil salju kami, kami namai begitu, tawanya makin lepas. Membuat semua orang di kereta yang tidak begitu sesak itu menengok, dan menggelengkan kepala. “Dasar anak muda”. Mungkin pikir mereka begitu.

“Itu tarian mengundang penyakit” sahutnya, di antara derainya tawa.

“Eh iya, apakah kalian juga mendapat vaksin flu. Di sini setiap musim dingin tiba, setiap tahun kami persiapkan diri agar tidak mudah sakit.” Tambahnya lagi.

“Kampusku menjadwalkannya baru minggu depan, wajib ya? Tadinya aku pikir tidak membutuhkannya. Lagipula harganya sedikit mahal buatku”

“Aku rasa kamu memerlukannya, apalagi kamu tidak terbiasa”

“Baiklah, nanti aku akan daftar”

“Ano sa...tadi aku bertanya jadwal film hari ini di bioskop, temanku sudah kesana lebih dulu kemarin”

“Bioskop? Apa waktunya cukup?”

“O iya, Riri san kan mau mencari perlengkapan musim dingin di hard off. Sepertinya waktunya tidak cukup, jaraknya berjauhan.”

hmm..daijobu, lain kali saja aku kesana. Gara-gara aku terlambat waktu kita jadi terbatas. Langsung ke bioskop tidak apa.” jawabku, mencoba meyakinkannya. Padahal sebetulnya aku sangat ingin kesana, aku butuh perlengkapan musim dingin dan perlengkapan ski. Katanya disana jauh lebih murah.

 soudesune, tenang saja, di dekat bioskop juga ada toko barang second. Second street namanya, pilihan pakaian lebih lengkap disana dibanding hard off. Mungkin bisa kesana sebentar”

"baiklah, kita lihat nanti" jawabku. "tidak sempat pun tak apa, belum urgen".



Perjalanan 46 menit ke Nagaoka lebih banyak diisi dengan monolog dia yang senang bercerita apa saja. Tentang sekolah, tentang teman seganknya di sekolah, tentang stiker baru di line, tentang hobinya yang belanja dan jalan-jalan, tentang impiannya melanjutkan kuliah di kota besar, tentang uang gaji yang baru kemarin dia terima sebagian dipakai mentraktir teman-temanya, tentang kucing peliharaanya yang pemalas dan hobinya tidur, tentang ayahnya yang seorang businesman dan sering pergi ke luar kota, dan banyak hal tentangnya. Sedang aku, cukup menjadi pendengar setia. Selain sebetulnya bahasa Jepang ku yang masih agak terbatas, obrolan kami yang campur-campur antara bahasa jepang, inggris dan bahasa tubuh paling tidak membuat percakapan tidak jelas juntrungannya ini tetap berjalan. Walaupun tentunya aku lebih banyak sebagai pendengar.

Aku cukup memandangi matanya yang sering terlihat berbinar ketika dia dengan penuh semangat bercerita tentang hal yang disukai. Dia, gadis yang manis dan menarik. Meski tidak secantik beberapa artis atau idol negeri ini. Tapi bagiku sorot matanya yang ceria dan seakan bercahaya, ditambah auranya sebagai gadis belia membuat daya tarik yang berbeda dibanding gadis seusianya yang banyak juga sudah pintar berdandan.

“Jadi, kita akan menonton film apa?” Tanyaku, ketika obrolan kami bergeser ke jenis film kesukaan.

“Temanku menyarankan Chihayafuru bagian II, bagian pertamanya bagus aku ingin lihat lanjutannya”

ii desuka. [Bagus ya?]”

“Tentu saja, aktornya juga tampan. hehe..” dia tersenyum sendiri, tersipu sendiri.

“Hadeeuh, sama aja. dasar abg” kataku dalam hati

ano...subtitle ga aru?” tanyaku

“nani subtitle?” [subtitle apa]

“eego....eega no subtitle ga arimasuka? watashi no  nihongo wa chotto dakke kara” [english, subtitle untuk filmnya ada tidak? soalnya kemampuan bahasa jepangku masih sedikit]

“Eh...arimasen desuyo, koko ni nihon da yo. ano..nihon no eega wa eego no subtitle ga iranai” [tentu saja tidak, ini kan Jepang, film jepang tak perlu subtitle] tambahnya.

Waduh aku lupa, tentu saja di sini film lokal ga bakal pakai subtitle.

Riri san no nihongo wa jyouzu dana, daijobu dayo” [bahasa jepangmu bagus ko, gapapa]

ie..ie. [tidak..tidak]. bahasa jepangku belum semahir itu, kalau orang berbicara cepat terkadang tidak paham”
“are...aku selalu berbicara cepat, tapi sepertinya Riri san paham”. tanyanya heran.

“hehe... itu aku ga semua mengerti, chotto dakke [sedikit saja]. sisanya  hanya mengira-ngira dari kata yang kupahami”

“jadi...waktu aku ngomel tadi, waktu cerita tadi, Riri san paham tidak?“ nadanya sedikit mulai meninggi lagi

“Hehe...sukoshi [sedikit]” kujawab, lalu ku membuang muka ke arah jendela sambil cengengesan menahan tawa.

"fiuhh..." dia nampak geleng-geleng kepala

raut mukanya tak bisa kugambarkan, entah itu kecewa, kaget, atau marah.

Dia pun membuang muka, mau ngambek sepertinya. Tangan bersedekap dan memandang ke arah jendela.

Hening

Tak lama kemudian, kami saling melirik satu sama lain. Dan pecah lah tawa kami berdua hingga untuk kali kedua semua orang kembali menatap kami, dengan mata tajam yang menggambarkan betapa terganggunya mereka.

Aku melirik kembali gadis yang berada di depanku ini. Sungguh, ku tak menyangka, walaupun dulu kami sering berdiri berhadapan. Namun dunia kita berbeda dan aku hanya bisa melihatnya sekilas, itu pun mencuri pandang tanpa pernah bertegur sapa. Berbeda dengan sekarang, terang-terangan beradu mata, tertawa bersama-sama. Dengannya, si gadis dengan mata jelita, aku merasa 10 tahun lebih muda.

ato wa, hanashite yukkuri kudasai” [nanti, kalau ngomong pelan-pelan] ujarku. Mencoba mencairkan suasana kembali.

“hahaha.. yokkai, demo..watashi ni eego o oshiete kudasai ne” [siap..tapi tolong ajari aku bahasa inggris]

tapi..kamu bilang tak suka bahasa inggris.” Aku ingat tempo hari dia bilang bahasa Inggris itu sulit. Padahal buatku lumayan, dia cukup paham apa yang kukatakan.

hai..kirai desu. Totemo kiraida” [ya, ga suka. sanget benci] katanya. “tapi sepertinya aku membutuhkannya. Aku juga bisa terlihat keren jika bisa lancar berbahasa asing. Bisa ngobrol dengan turis eropa yang tampan-tampan itu” Tambahnya dengan mata berbinar-binar.

Aku pun hanya geleng-geleng mendengar ocehannya itu. Ternyata gadis yang kukira angkuh ini, cukup terbuka jika berbicara.

Sesaat lagi kami sampai ke tujuan, stasiun Nagaoka. Kota besar jika dibanding dengan Urasa, walau tak sebesar Niigata apalagi Tokyo. Kami tiba di tujuan menjelang jam makan siang.

onaka ga hikuida”[aku lapar] katanya dengan mata memelas. Sesaat setelah kami keluar gate stasiun.

“Eh..aku tahu warung ramen yang enak, ayo” ajaknya lagi. Tanpa minta persetujuan lebih dulu sambil ditariknya tanganku..

Sebelum melangkah lebih jauh, kutahan tangannya.

matte.matte...ore wa ramen o tabenai” [aku tak bisa makan ramen]
“doushite? ramen wa oishi da yo” [kenapa? ramen enak lho]. tanyanya penasaran.
“ramen de butaniku ga hairimasu” [di ramen ada daging babinya]
“soka? hontou desuka? watashi wa wakaranai?” [masa? yakin? aku ga tau]
“Eh...wakakunakatta?” [eh? belum tahu?]
“hai...wakakunakatta.” [ya..belum tahu] jawabnya. aku hanya tahu ramen itu enak.” tambahnya dengan tatapan polos.

haduh..gimana sih. Padahal semua teman Jepang bilang Ramen di sini ga bisa buat muslim.

“Reika chan wa riori o shinai da ne. kirai da ne?” [Reika ga masak ya? ga suka?]

“hehe...so desu” [hehe..iya] jawabnya sambil nyengir kuda.

Akhirnya kami pun berdebat di cocolo stasiun Nagaoka, sebuah pasar swalayan dengan pilihan makanan yang cukup lengkap. Disana juga berjejer macam-macam restoran. Aku memilih restoran sushi saja karena buatku lebih aman. Namun dia senang dengan restoran yang ada gorengannya, nasi dengan tempura. Sayangnya lokasi keduanya berjauhan. Hingga pada akhirnya kami hanya menyambar nasi kepal. Buat bekal karena ternyata bus no 2 menuju Riverside, mal dimana bioskop berada, akan berangkat. Dan kami malas untuk menunggu bis berikutnya.

Pukul 1 siang kami sudah mengantri di depan loket teater. Setelah debat lagi tentang film yang akan kami tonton. Pilihan kami jatuh pada the secret life of pets. Aman buatku, karena audionya menggunakan bahasa Inggris, dan film kartun anak-anak baginya juga menarik. Walaupun memang aneh sih, di Jepang malah nonton film kartun Amerika. Masih ada waktu 15 menit sebelum film dimulai, kami pun menyeberang ke gedung sebelah, sebuah mall yang cukup besar dan lengkap. Dia mau window shopping sebentar katanya. Dan aku pun pamit ke toilet sekaligus mencari spot yang enak untuk sholat.

“darimana? dari tadi aku mencarimu” tanyanya, terlihat ada jinjingan baru di tangannya, sepertinya selesai belanja.
“maaf, sholat dulu” jawabku singkat.
“Apa, harusnya kami memberitahuku. Aku ingin lihat, ayo sholat lagi.”
“Tidak bisa, cukup sekali saja. Ok nanti ya.”
“Yah.. Riri san sudah berjanji. Aku mau lihat Riri san solat.”
“Iya..janji. Dan aku pun ingin memotretmu seperti gambar di poster itu”
“Saat ini tidak bisa, musim dingin. Mungkin nanti, kalau sudah musim semi.”

“Ok, akan kutunggu. Btw, filmnya sudah mau mulai, ayo berangkat”. aku pun melenggang pergi. Diikuti Reika yang berlari kecil beberapa langkah di belakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar