Rabu, 15 November 2017

Kawan (V)

Gunung yang sudah mulai bersalju

Aku terbangun terlambat lagi pagi itu. Tak ada suara adzan subuh yang biasa membangunkanku sebagaimana jika tinggal di negeriku sana. Sesuatu yang membuatku merasa sangat kehilangan, membangkitkan rasa kesepian, kesendirian, karna ketiadaan suara azan. Mungkin bagi beberapa orang, suara itu cukup mengganggu waktu tidur dan istirahat. Namun, bagi mereka yang merantau terlalu jauh ke negeri orang, negeri kafir, beberapa orang menyebutnya. Niscaya semua mungkin merasa ada yang kurang dalam kesehariannya..

Walau waktu masih menunjukkan pukul 6.30, tapi hari masih terasa remang. Semakin mendekati musim dingin. Gelapnya malam semakin panjang, menggerogoti waktu bagi mentari membagi sinarnya pada bumi. Bahkan di musim dingin nanti, mentari biasanya baru akan benar - benar terbit jam 7 dan terbenam sejak pukul 5 sore. Terdengar menyenangkan bagi orang yang rajin berpuasa sunnah bukan? Ah sayangnya tidak demikian. Betapa rasa malas itu sedemikian besar ketika terbangun dini hari untuk makan sahur, melawan rasa dingin yang begitu menyengat.

Dan lebih menyebalkan lagi adalah ketika ada orang begitu bersemangat berdiskusi hingga lewat tengah malam. Ya itu...malam tadi. Ah group discussion, suatu kesia-sian bagi seorang pragmatis sepertiku. Apalagi bila dalam kelompok kerjamu ada lebih dari satu orang dominan, dan lebih parahnya lagi mereka memiliki ide dan pandangan yang bertolak belakang. Diskusi yang tidak sehat dan seakan tidak berguna buat anggota tim hore sepertiku. Senada dengan karibku dari Kazakhstan sana, tak banyak bicara dia, hanya sesekali menimpali. Namun paling tidak dia lebih baik dariku, karena masih mampu mengikuti dan berpendapat barang 3-4 kali. Buatku senyuman, celetukan dan kehadiran sudah lebih dari cukup menunjukkan support pada grup project kita kali ini. Sayang ini forum diskusi kecil, di study room kecil, meja pada ruangan yang kecil. Jika dalam kelas dengan mahasiswa lebih banyak lagi. Tentu aku akan berada di pojokan barisan belakang. Khas orang Indonesia.

Tapi aku rasa masih lebih baik daripada kawan asal Laos yang bahkan untuk setor muka pada ketua grup kecil ini aja bisa dihitung jari. Deadline semakin mendekat, ketika kelompok lain sudah mulai implementasi. Ha, ketua grup dari Vietnam masih memilah pendapat mana yang lebih bisa diterima. pendapatnya Medard, seorang bankir dari Burundi atau Nixon, professional asal Perancis. Sementara keduanya pun masih berdebat. Dan bisa ditebak. Kesimpulan grup kami di malam tadi, masih jauh dari kata sepakat. Rapat kecil kami itu pun terpaksa selesai karena jam di ruangan menunjukkan pukul 2. Padahal kami mulai sejak bada Isya. Gila.

"So..what you gonna do then? It's already late, too late brother". Bisikku pada Nazarov. Setelah kelompok kami bubar dan bersiap kembali ke peraduan, asrama mahasiswa masing-masing. Kecuali kawanku satu ini karena dia tinggal bersama keluarga, dengan anaknya usia sekolah dasar. Sehingga, mau tidak mau harus menyewa apato. cukup jauh dari kampus namun bisa ditempuh dengan sepeda.
"No worries, I have my bike" ujarnya.
"At this time? why don't you sleep at my dorm. I have an extra bed. You can use it. It's already cold outside"
"Nah..nevermind. This is nothing for me. In my country, it could be worse, especially during winter."

Hmm..salah satu yang kukagumi dari orang-orang Asia Tengah adalah kegigihannya. Negara-negara bekas jajahan Uni Soviet tersebut memang terletak di wilayah yang sangat keras. Dan melahirkan orang-orang berwatak keras namun juga bermental tangguh. Sering kumendengar musim dingin di sekitaran Asia Tengah, sebagai negara yang pernah jadi bagian Federasi Russia, jauh lebih kejam dibanding musim dingin di mana pun, sama seperti Russia, kecuali daerah kutub tentunya. Bahkan, di suatu daerah bisa mencapai minus puluhan. Maka, di kota kecil berjuluk snow country ini. jika masih belum mencapai minus. Mereka masih kuat bersepeda di luaran sana. Sangat jauh berbeda dengan pria tropis sepertiku. Yang di musim gugur ini saja lebih sering berpakaian lebih dari 2 lapis dan meringkuk di pojokan kamar. Selimut tebal membungkus diri, kaus kaki tebal, laptop dan secangkir kopi. Di depan kaca dengan pemandangan Gunung Hakkai San yang puncaknya sudah mulai memutih.
****


"Kamu tahu, kalau tiga puncak gunung disana sudah mulai berselimut salju. tidak sampai dalam 2 minggu, kota ini akan mendapati salju pertamanya tahun ini" Kizu san bercerita.
"Biasanya di sini kamu harus siap2 pakaian dan perlengkapan sendiri. Kalau kamu bekerja di dalam, di bagian mesin mungkin enak, lebih hangat. Tapi buruh angkut semacam kita ini harus selalu siaga di gudang. Sedingin apapun. O iya, kamu punya boots khusus salju?" Tanyanya lagi.
"Belum" Jawabku. "waktu pembagian barang warisan dari senior terdahulu, aku datang terlambat, dan aku belum mampu membeli yang baru. cukup mahal buatku"
"Soudesune, daijobu...ore no kodomo no kutsu ga aru. [o..begitu, tidak apa2. ada milik anak saya]"ujarnya, tersenyum. "Minggu depan, ada jadwal bekerja kan? Akan kuberikan padamu, anakku sekarang di Tokyo, tidak ada yang pakai"
Hatiku pun tersenyum riang. Ah baik sekali kawan2 di tempat kerjaku ini. Dan memang begitu standarnya orang Jepang, jika membantu tidak nanggung. Kizu san salah satunya, usianya hampir 60, tapi masih terlihat muda dan cekatan. Bahkan bisa dibilang mayoritas pegawai di pabrik ini pun lebih dari 45 tahun. Ada juga yang sudah nenek2. Kizu san dan aku cukup akrab, mengingat dia mampu berbicara bahasa Inggris dengan baik, walaupun tidak lancar. Dahulu pernah jadi guru katanya.

"Are wa nande? [apa itu]"tanyaku. Kulihat beberapa gerombol anak muda baru turun dari ruang personalia.
"Anak2 sekolah, sebentar lagi masuk libur musim dingin. Biasanya, waktu 2 minggu digunakan juga untuk kerja paruh waktu. Walaupun tidak selama paruh waktu pada musim panas, hasilnya lumayan lho"
"Aa..soudesuka" jawabku
Aku ingat, ketika pertama kali kubekerja di tempat ini. Pada musim panas, musim dimana banyak sekali terbuka lowongan kerja paruh waktu. Selain bertemu beberapa kawan satu kampus, bahkan suami/istri kawan dari Asia Tengah juga ikut bekerja, aku juga banyak bertemu anak2 sekolah yang mengisi waktu libur dengan bekerja. Hasil dari bekerja 2-3 bulan, lebih dari cukup bagi mereka jika hanya untuk mentraktir teman dan membeli gadget terbaru.
Salah satu sisi lain yang juga kukagumi dari bangsa negeri ini. Melatih kemandirian anak-anak sejak dini, dan di sisi lain perusahaan-perusahaan pun terbantu karena memang ketika musim panas tiba, musim liburan. Oplah mereka meningkat cukup drastis dan memerlukan banyak pegawai baru.

Satu per satu anak-anak yang mungkin akan mulai bekerja pekan depan berjalan melewatiku yang ketika itu berdiri dekat pintu keluar. Seraut wajah yang kukenal berjalan melewatiku, sedikit melirikkan pandangan, sedikit pula membungkukan kepala dan memberikan senyuman. Sebuah penghormatan. Ah..si gadis bermata jeli. Ternyata dia juga akan bekerja di sini.

"Konnichiwa" Kucoba memberanikan diri menyapanya.
Dia sedikit kaget, namun tetap menunjukkan raut muka ramah. "Aa. hai..konnichiwa"
Matanya sedikit berbinar. Langkahnya terhenti akibat sapaanku. Sedang 2 kawannya yang lain keluar terlebih dahulu. Agak sedikit memicingkan mata, mungkin menebak-nebak siapa orang asing berwarna kulit coklat ini.
"Kamu akan bekerja di sini?" tanyaku
"Ah..ya. mulai libur sekolah nanti. 2 minggu," jawabnya.
"Sepertinya kita sering bertemu di kereta." Kutambahkan.
"Aa...Hai, oboerimasu. Saya ingat, kereta pagi bukan?"
"Hai..sou desu. Hajimemashite, watashi ha Riri desu." (Ya..betul, perkenalkan, nama saya Riri)
"Watashi ha, Takagawa Reina desu. Yoroshiku Onegaishimasu" (saya, Reina Takagawa. Senang bertemu dengan anda)
"Maaf, saya harus pergi, teman2 menunggu" tambahnya lagi
"Ah..gome, douzo. jaa.. mata ne"
"Hai..ja mata."
Dia pun melangkah pergi.

Ah sepertinya udara dingin tadi sudah mulai menghangat. Dan sepertinya ke depan, di pabrik ini akan lebih menyenangkan. Beruntung beberapa pekan kemarin aku sudah sedikit menambah kemampuanku berbahasa sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar