Matamu menatap tajam sebuah siluet di kejauhan. Sore itu,
dalam keremangan senja di parkiran pinggir jalan ibukota, sesosok pria dengan
setelan kemeja putih dan celana kain hitam berjalan mendekat, persis seperti
yang seringkali kamu temui sejak lama.
“Posturnya tetap sama seperti dulu” batinmu, jalan yang
tenang dan tidak tergesa, namun juga tidak terlihat gontai kurang tenaga. Tas
ransel kecil menempel di punggungnya walau hanya sebelah handlenya yang dia gunakan. “Gaya yang tetap sama” Desismu, tanpa
sadar kau pun tersenyum kecil melihatnya.
“Mas..edi?” Panggilmu ketika dia mendekat, walau belum
sedekat jarak biasa yang seringkali kalian jalani di tahun-tahun yang lalu.
“Eh…dian, apa kabar?” Jawabnya, setengah kikuk. Tak terlihat
rona rindu di matanya, rona bahagia pun tidak ada, padahal ingin sekali kaulihat
kembali binar di matanya yang jernih itu. Yang ada tatapan gelisah dan laku salah
tingkah tak tahu harus berbuat apa, seakan kamu orang terakhir yang sudi dia
temui di alam dunia.
“Alhamdulillah baik mas, mas sendiri bagaimana? Ibu juga apa
kabar” Tanyamu.
“Alhamdulillah baik, ibu juga sehat Alhamdulillah, keluarga
sedang berkumpul di rumah. Mau ada acara besar”
“O…kalau begitu salam buat keluarga besar..mas, mohon maaf
sudah lama belum silaturahmi lagi kesana.”
“Iya ndak apa-apa, kalau sempat mampir saja kesana, ibu
pasti senang” Ucapnya, diiringi senyuman yang juga dari tadi kau nantikan.
Sekejap saja, tapi mampu mengingatkan kembali senyuman hangat ratusan hari yang
terbiasa kau jumpai.
“Iya..insha Alloh kapan-kapan mas, nanti saya sempatkan”
Jawabmu
…
Hening
…
“Kalau gitu mas permisi dulu, masih ada perlu.” Katanya,
wajahnya kembali datar, diiringi sedikit anggukan di kepala, kaku.
“Iya baik mas,
hati-hati” Balasmu. Setengah mendesis, menahan sesak yang tiba-tiba menyerang
dadamu.
Matamu menerawang, berharap dalam langkahnya itu dia kembali
memalingkan muka, memandangmu, dengan tatapan jernihnya yang menyejukkan mata.
Atau mengirimkan kembali senyuman hangat ditambah binar matanya yang begitu
indah menggoda. Tapi itu tak pernah terjadi, dia tetap melangkah pergi, seiring
redupnya cahaya mentari senja. Atau mungkin titik-titik air itu, yang entah
mengapa tetiba menutupi mata, menutupi pandanganmu akan dia. Mengalirkan sesal atas
kenginanmu akan dunia menggerus kesabaran tuk menemani perjuangannya.
Hanya sekilas kau lihat punggungnya masuk ke sebuah mobil
sedan abu-abu sederhana di ujung jalan sana. Mobil yang baru kali ini kau lihat
sejak palu diketuk oleh sang hakim pengadilan agama. Sekilas juga kau lihat kibaran kerudung di
dalamnya.
“Ibunyakah?” batinmu.
“Bunda, bundaaa!?”
Panggilan yang akhir – akhir ini sudah akrab di telinga
membuyarkan anganmu
“Eh…iya pa.”
“Lagi ngapain sih? Dipanggil-panggil dari tadi, ayo pulang!
sudah sore, urusan papa sudah beres kok.”
“Maaf pa, lagi kepikiran, besok kan papa pulang ke Bandung,
bunda kesepian lagi dong. Papa si enak ada mbak nita yang temani” Jawabmu
cepat, tak lupa tanganmu menggelendot manja
di bahu pria paruh baya itu.
“Iya gimana, papa kan harus pintar membagi waktu antara kalian
berdua, belum lagi akhir-akhir ini papa sibuk sama kerjaan, banyak tawaran
proyek sana sini, kan demi bunda juga.”
“Iya sih pa. tapi….” Wajahmu merengut, seakan meminta
perhatian.
“Ya udah…malam ini kita mau jalan ke mana? Sebelum besok
papa pulang, kita puas-puasin dulu ya. terserah bunda mau apa aja nanti papa
belikan, oke, yang penting senyum dulu dong sayang”
Kau pun tersenyum semanis mungkin, walaupun dalam hatimu,
dalam benak dan pikiranmu..kelu.
“Papa memang paling hebat dan baik hati sedunia jagat raya”
Pria itu pun tersenyum penuh arti, memperlihatkan giginya
yang kini tak rapi. Menggenggam erat tanganmu dan membimbingmu, sang istri
muda, ke mobil mewahnya yang terparkir tak jauh dari sana.
lee-palu-080514
----------------------------------------------------------------------------------------------------------