Kamis, 07 Mei 2020

Tugu Harapan

"Ayaah, ayo dorong lagi yang kencang", pintanya.
Dan dia pun mengayun semakin tinggi. Angin menerpa wajahnya, bening matanya yang menatap tajam sebuah tugu yang menjulang di hadapannya.
"Dorong lebih kencang ayah, aku ingin bisa terbang, aku ingin memeluk langit", tambahnya lagi.

Seorang gadis kecil yang lucu, dengan mata yang besar dan pipi yang bulat, memerah, kulitnya tak bisa dibilang putih, tapi paling terang dibanding teman sebayanya. Garis-garis wajahnya mengukir gurat kecantikan sang ibu.
Apalagi jika dia tersenyum riang, binar mata dan semua bingkai yang ada dalam wajahnya selalu membuat sang Ayah senang, sekaligus haru, seiring bulir-bulir air mata yang mengembang di pelupuk mata, tanpa dia sadari. Sketsa yang indah dari wanita yang sangat dia puja sejak dulu. Yang kemudian tertanam pada gadis kecil berkepang dua ini.

Demi sang buah hati satu-satunya ini, apapun dia lakukan. Demi bisa selalu melihat binar ceria di matanya lagi, apapun dia berikan. Bukan hanya demi bisa melihat sketsa wajah kekasihnya, namun juga menunaikan janji dan menebus kegagalannya di masa lalu.

======================================================================
"Kamu mau gendong?" tanya sang Ayah, mereka menuju lapangan parkir di jalanan depan Kementerian.

"Tidak ayah, aku jalan saja, aku kuat, bisa sendiri kok."

Dia pun tersenyum mendengarnya. gadis kecil yang riang dan ceria, namun keras dan tegas. Persis sang ibu.

"Ayah aku ingin mampir dulu"

"Iya, tapi jangan lama-lama ya Nay. Sudah sore, bentar lagi kamu mengaji."

"Iya Ayah. Sebentar saja, aku ingin menitipkan salam untuk Ibu."

Gadis kecil itu, Nay, berbelok menuju ke arah tugu. Diiringi tatapan nanar sang Ayah. Ada sesdikit sesal di dadanya, mungkin dia telah mengajarkan kesalahan kepada gadis kecilnya yang lugu. Sejak dia tahu bahwa taman itu, tempat kesukaan Sang Ibu. Ayunan di pojokan itu tempat penuh kenangan di masa lalu. Nay selalu merengek untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Bukan tempat lain, dia tak peduli Ancol, Kebun Binatang, Mal, atau tempat hiburan anak-anak lain.
Cukup Taman Lapangan Banteng, dan ayunan.

Suatu sore, di ayunan, Nay tidak seceria biasanya, dan bertanya, "Ayah, dimana ibu? Nay rindu". Tak henti dia bertanya, menangis. Menggores luka yang begitu dalam di dada sang Ayah. Demi menenangkan si buah hati, dengan sedikit imajinasi sang Ayah bercerita, kalau ibunya ada di Surga, di langit.

Nay yang cerdas kemudian bertanya, "apakah orang di atas itu bisa melihat ibu?",
"Dia tinggi, dan dia selalu melihat langit"

Ayahnya melirik tugu yang menjulang di tengah taman. "Ya, mungkin" dia jawab sekenanya.

Sejak itulah, selain bermain ayunan, Nay selalu menyempatkan diri mengunjungi tugu di samping kolam yang indah itu, yang berdiri seseorang yang gagah di puncaknya, dengan kedua tangan terangkat ke langit. Dan seperti itu juga yang Nay kecil lakukan, sambil berbisik.
"Tuan, aku rindu Ibu, tolong kirimkan salam untuknya. Nay baik-baik saja di sini, Ayah juga sehat, tapi kalau malam batuk-batuk"
Sejak itu, setiap Nay kecil rindu sang ibu, dia selalu minta diantar. Tapi, sudah tak ada lagi rengekan atau tangisan seperti sebelumnya karena menahan rindu.

=======================================================================
"Ri....aku minta maaf"
"......"
"aku tak bisa menepati janjiku"
Dia tak bergeming, dia sedih, marah, kesal, kuatir, sakit hati, cemas dan segala perasaan tak nyaman lainnya.
"aku...titipkan dia padamu. Jaga dia baik-baik, seperti kamu berusaha mewujudkan janjimu untuk menjagaku." tambahnya.
"Iya..." wajahnya masih menunduk, menahan beratnya beban perasaan.
"Angkat wajahmu, senyum dong. Aku tidak apa-apa. Aku bahagia, aku senang bisa bersamamu, walaupun aku sangat terlambat menyadarinya" Katanya, sambil berusaha tersenyum.
Demi melihat senyuman bidadarinya itu. Pecahlah tangisnya. Dia makin menunduk, tergugu.
"Aku minta maaf, aku..tak bisa menjagamu"
"Kamu sudah lebih dari cukup menjagaku, aku yang minta maaf. Aku harap kamu mau memaafkanku atas rencana-rencana yang belum bisa kita jalani semua. Aku minta maaf, aku pergi. Meninggalkanmu, meninggalkan kalian....."
.....
...
..
.
Sebuah tangisan bayi menyadarkannya untuk kembali tegak. Diraihnya bayi yang baru lahir itu dari gendongan perawat. Ditatapnya, garis wajah, pelipis, dahi, pipi dan lebat rambutnya, persis sang bidadari pujaan yang kini sudah menutup mata.
"Ai...kali ini aku akan berusaha menepati janji"