Selasa, 17 November 2015

Baik sangka

Tugas kita adalah berbaik sangka..

Seperti kisah tentang seekor keledai tua, milik seorang petani tua, yang terperosok ke dalam sebuah sumur tua. Ah, hari sudah sore.. Sumur itu gelap sekali. Petani itu begitu menyayangi keledainya, sahabat perjuangannya selama belasan tahun menyambung hidup. Maka dicobanya segala cara untuk mengeluarkan sang keledai.
Mula-mula dengan tali. Diulurkannya ke bawah. Diteriakinya sang keledai agar menggigit tali itu. Ditariknya. Dan gagal. Lalu dibuatnya simpul laso. Diulurkannya ke bawah lagi. Diserunya sang keledai masuk ke laso. Ditariknya. Berat. Dan sang keledai berseru-seru serak. Oh itu lehernya terjerat. Gagal lagi. Dicobanya segala cara dengan tali. Dan ia gagal. Merasa tak berguna..
Lalu dicobanya mengulurkan sebatang bambu. “Jepitlah bambu ini dengan kaki-kakimu!”, teriaknya. Ditariknya lagi. Dan nihil. Segala cara bambu. Dan semuanya nihil hasil. Dicobanya pula balok-balok kayu. Dengan segala rekadaya. Dan ia makin lelah. Dan harapnya makin menguap. Merembes keluar dari jiwa bersama keringat yang mengkuyupi pakaiannya.
Matahari makin rendah di barat sana, hari kian menyenja. Dan sang petani telah mengambil keputusan bersama keputusasaannya. Ia akan menimbun sang keledai. Biarlah si keledai tua beristirahat di sana. Rehat yang tenang setelah belasan tahun pengabdian. Biarlah.. “Keledaiku tersayang.. Terimakasih atas persahabatan kita. Kini saatnya engkau beristirahat. Istirahatlah dengan tenang..” Matanya basah. Dadanya sesak. Tangisnya tertahan. Tapi dia mulai mengayunkan cangkul. Setimbun demi setimbun tanah meluncur ke dasar sumur.
Si keledai marah ketika segenggam tanah pertama mengenai punggungnya. Tapi makin lama, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengangkat kakinya, naik ke atas tiap timbun tanah yang jatuh di dekat kakinya. Kadangkala ia harus bergerak ke tepi, menghindari guyuran tanah dari atas. Atau menggoyang tubuhnya hebat-hebat, agar tanah yang menimpa punggung gugur ke bawah. Tapi ia terus naik. Tiap kali ada tanah jatuh, ia naik ke atasnya. Begitu terus..
Hingga senja sempurna menjadi malam. Dan sang petani yang bersedih mengira ia telah sempurna menguburkan keledai kesayangannya. Dalam lelah, dalam payah, dalam duka yang menyembilu hati ia berbaring di samping sumur. Sejenak memejamkan mata, menghayati gemuruh dalam dadanya. Dan saat itulah, sang keledai meloncati tubuhnya dengan ringkikan bahagia, keluar dari sumur tanpa kurang suatu apa.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai mushibah, seringkali bukanlah mushibah itu sendiri. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai penderitaan, bisa jadi adalah pertolongan Allah dari jalan yang tak kita sangka-sangka.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Terutama padaNya.

Meniti Memori..Berkaca diri

Berhubung sedang tidak banyak kegiatan, di kamar apato yang dingin ini, iseng-iseng kembali membuka dunia yang dulu begitu hangat dan meriah. Penuh berbagai canda dan diskusi yang segar namun mendidik. Zaman dimana diskusi lebih utama dari sekedar pamer diri dengan berbagai status dan kesibukan sehari-hari.

Namun kini masa kejayaannya sudah lewat...sudah sejak lama tenggelam.
memang ada beberapa yang mencoba membangkitkan kembali, menawarkan suara dan cerita untuk kembali dibahas bersama....bersama...kebersamaan...sesuatu yang telah hilang, ketika yang bisa bergabung hanya seorang dan beberapa gelintir teman.

pun demikian diriku, lama menghilang....kesibukan, ketidakpedulian,teralihkan dan berbagai macam dalih lainnya. ketika kucoba berkunjung kembali, memang bukan lagi hangatnya diskusi yang kujumpai. Namun jejak langkah yang dulu pernah kulewati, ibarat puing-puing coloseum yang dulu gagah perkasa. Sisa kemegahannya tetap terlihat diantara puing-puing yang tinggi menjulang.
Demikian pula disana, board yang beraneka macam, topik yang bahkan bisa beribu halaman dan hangatnya keakraban penunggunya, dulu...di masa kejayaan.
Mungkin ku ibarat menelusuri museum yang dulu sangat kubanggakan, pernah menjadi bagian darinya, sekaligus bercermin, melihat diriku di masa lalu.

Ketika tiba-tiba kusinggah di sebuah bahasan, sebuah wadah perkumpulan tempat kami biasa bercengkrama, yang dalam setahun ini replynya mungkin bisa dihitung dengan jari. Tak terasa air mata tiba-tiba membayang di pelupuk mata.
Bukan hanya melihat, dulu pernah sangat akrab, mengingat memori kegiatan bersama yang penuh canda dan tawa, melihat rumah itu kini ibarat kuburan yang sepi...hening...tak ada lagi kehidupan.
teringat orang-orang yang dulu pernah akrab, namun kini bahkan tak tahu kabar beritanya sama sekali, tanda tanya dan penasaran yang menggerogoti jiwa tiba-tiba membuatku tersiksa,
teringat seseorang yang di situ, di rumah itu senantiasa menyemarakkan suasana, namun Alloh sangat menyayanginya, Dia lebih dulu memanggilnya.

Meniti kembali memori yang lain, sepenggal masa lalu...penggalan yang begitu besar..yang membuatku terhenyak. sesuatu yang kuabaikan begitu saja di masa kalut itu. ternyata di sana tersimpan sisa-sisa perjuangan yang pernah dijalani.
Maaf...aku tak tahu, maaf...aku baru membukanya kembali.
walaupun aku tahu, tentu tak perlu juga diri ini, menjawab tanya yang sudah sedemikian jauh kadaluarsa.

semua kenangan, semua jejak perjalanan seakan membebani dada ini.
maaf kutak berani berlama-lama...pandanganku sudah demikian memudar untuk membaca setiap kata
entah kapan kubuka lagi lembaran itu, singgah kembali..itupun jika masih ada.