Selasa, 17 November 2015

Meniti Memori..Berkaca diri

Berhubung sedang tidak banyak kegiatan, di kamar apato yang dingin ini, iseng-iseng kembali membuka dunia yang dulu begitu hangat dan meriah. Penuh berbagai canda dan diskusi yang segar namun mendidik. Zaman dimana diskusi lebih utama dari sekedar pamer diri dengan berbagai status dan kesibukan sehari-hari.

Namun kini masa kejayaannya sudah lewat...sudah sejak lama tenggelam.
memang ada beberapa yang mencoba membangkitkan kembali, menawarkan suara dan cerita untuk kembali dibahas bersama....bersama...kebersamaan...sesuatu yang telah hilang, ketika yang bisa bergabung hanya seorang dan beberapa gelintir teman.

pun demikian diriku, lama menghilang....kesibukan, ketidakpedulian,teralihkan dan berbagai macam dalih lainnya. ketika kucoba berkunjung kembali, memang bukan lagi hangatnya diskusi yang kujumpai. Namun jejak langkah yang dulu pernah kulewati, ibarat puing-puing coloseum yang dulu gagah perkasa. Sisa kemegahannya tetap terlihat diantara puing-puing yang tinggi menjulang.
Demikian pula disana, board yang beraneka macam, topik yang bahkan bisa beribu halaman dan hangatnya keakraban penunggunya, dulu...di masa kejayaan.
Mungkin ku ibarat menelusuri museum yang dulu sangat kubanggakan, pernah menjadi bagian darinya, sekaligus bercermin, melihat diriku di masa lalu.

Ketika tiba-tiba kusinggah di sebuah bahasan, sebuah wadah perkumpulan tempat kami biasa bercengkrama, yang dalam setahun ini replynya mungkin bisa dihitung dengan jari. Tak terasa air mata tiba-tiba membayang di pelupuk mata.
Bukan hanya melihat, dulu pernah sangat akrab, mengingat memori kegiatan bersama yang penuh canda dan tawa, melihat rumah itu kini ibarat kuburan yang sepi...hening...tak ada lagi kehidupan.
teringat orang-orang yang dulu pernah akrab, namun kini bahkan tak tahu kabar beritanya sama sekali, tanda tanya dan penasaran yang menggerogoti jiwa tiba-tiba membuatku tersiksa,
teringat seseorang yang di situ, di rumah itu senantiasa menyemarakkan suasana, namun Alloh sangat menyayanginya, Dia lebih dulu memanggilnya.

Meniti kembali memori yang lain, sepenggal masa lalu...penggalan yang begitu besar..yang membuatku terhenyak. sesuatu yang kuabaikan begitu saja di masa kalut itu. ternyata di sana tersimpan sisa-sisa perjuangan yang pernah dijalani.
Maaf...aku tak tahu, maaf...aku baru membukanya kembali.
walaupun aku tahu, tentu tak perlu juga diri ini, menjawab tanya yang sudah sedemikian jauh kadaluarsa.

semua kenangan, semua jejak perjalanan seakan membebani dada ini.
maaf kutak berani berlama-lama...pandanganku sudah demikian memudar untuk membaca setiap kata
entah kapan kubuka lagi lembaran itu, singgah kembali..itupun jika masih ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar