![]() |
| Daun Momiji |
November, momiji sudah mulai memerah, dedaunan yang lain pun mulai menunjukkan warna-warna yang indah. Di pegunungan Hakkaisan sana, jika kita memiliki waktu untuk berjalan menyusuri sungai ke arah pegunungan, atau jika engkau mau dan mampu, cobalah hiking, berjalan menyusuri bukit di sekitar pegunungan Hakkaisan, atau bukit – bukit kecil di sekitarnya. Gradasi warna yang indah dari setiap pepohonan yang ada boleh jadi membuatmu terpana. Hijau warna asal dedaunan, yang kemudian menguning, memerah, hingga ada beberapa yang sudah berubah menjadi ungu. Menunggu waktu untuk meranggas menggugurkan dedaunan mereka, bersiap untuk dinginnya musim salju.
“Fiuh...”. aku menghela nafas dalam. Jika saja aku tidak terlambat tidur, tentu bangunku tidak akan terlalu siang seperti ini. Memang ketika musim mendekati musim dingin, matahari pun muncul makin siang. Membuatku harus berusaha beradaptasi karena walau bagaimanapun putaran waktu tetap sama. Dan jadwal kereta tidak pernah berubah.
Hari ini aku pun melewatkan kereta pukul 7.20. Memang masih ada kereta-kereta berikutnya. Dan sebagai pegawai paruh waktu, perusahaan pun tidak terlalu mempermasalahkan apabila aku berangkat, yang penting masih bisa ikut mobil jemputan dari stasiun. Namun yang membuatku kecewa, hari ini aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya. Ya...dia, seorang yang kuanggap seringkali mengisi hari dan tiba-tiba menghilang.
Aku akhirnya bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Di jam kereta yang sama, di gerbong yang sama. Pintu tengah, gerbong nomor dua. Dia...si gadis musim panas.
Antusiasme, rasa penasaran, rasa gugup dan deg-degan. Entah mengapa membuatku tidak bisa memejamkan mata secepat biasanya. Walaupun aku tahu, aku hanya bisa memandangnya, tak punya nyali untuk mendekatinya.
Bukan hanya kendala bahasa, karena aku yakin, jika hanya bertanya nama dan tempat tinggal, aku pasti bisa. Namun, apakah itu wajar? Bagaimana jika dia menganggapku aneh? Bagaimana jika orang lain merasa itu tak pantas, mengajak seorang gadis berkenalan? Karena entah kenapa, orang-orang Jepang cenderung diam dan seakan tak nyaman apabila ada orang tak dikenal membuat pendekatan, apalagi jika jelas-jelas seorang yang asing.
Asing bagi dirinya, asing bagi bangsanya.
********
