Selasa, 08 Agustus 2017

Dan dia kembali (II)

Daun Momiji

November, momiji sudah mulai memerah, dedaunan yang lain pun mulai menunjukkan warna-warna yang indah. Di pegunungan Hakkaisan sana, jika kita memiliki waktu untuk berjalan menyusuri sungai ke arah pegunungan, atau jika engkau mau dan mampu, cobalah hiking, berjalan menyusuri bukit di sekitar pegunungan Hakkaisan, atau bukit – bukit kecil di sekitarnya. Gradasi warna yang indah dari setiap pepohonan yang ada boleh jadi membuatmu terpana. Hijau warna asal dedaunan, yang kemudian menguning, memerah, hingga ada beberapa yang sudah berubah menjadi ungu. Menunggu waktu untuk meranggas menggugurkan dedaunan mereka, bersiap untuk dinginnya musim salju.

“Fiuh...”. aku menghela nafas dalam. Jika saja aku tidak terlambat tidur, tentu bangunku tidak akan terlalu siang seperti ini. Memang ketika musim mendekati musim dingin, matahari pun muncul makin siang. Membuatku harus berusaha beradaptasi karena walau bagaimanapun putaran waktu tetap sama. Dan jadwal kereta tidak pernah berubah.

Hari ini aku pun melewatkan kereta pukul 7.20. Memang masih ada kereta-kereta berikutnya. Dan sebagai pegawai paruh waktu, perusahaan pun tidak terlalu mempermasalahkan apabila aku berangkat, yang penting masih bisa ikut mobil jemputan dari stasiun.  Namun yang membuatku kecewa, hari ini aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya. Ya...dia, seorang yang kuanggap seringkali mengisi hari dan tiba-tiba menghilang.

Aku akhirnya bertemu dengannya lagi setelah sekian lama. Di jam kereta yang sama, di gerbong yang sama. Pintu tengah, gerbong nomor dua. Dia...si gadis musim panas.

Antusiasme, rasa penasaran, rasa gugup dan deg-degan. Entah mengapa membuatku tidak bisa memejamkan mata secepat biasanya. Walaupun aku tahu, aku hanya bisa memandangnya, tak punya nyali untuk mendekatinya.

Bukan hanya kendala bahasa, karena aku yakin, jika hanya bertanya nama dan tempat tinggal, aku pasti bisa. Namun, apakah itu wajar? Bagaimana jika dia menganggapku aneh? Bagaimana jika orang lain merasa itu tak pantas, mengajak seorang gadis berkenalan? Karena entah kenapa, orang-orang Jepang cenderung diam dan seakan tak nyaman apabila ada orang tak dikenal membuat pendekatan, apalagi jika jelas-jelas seorang yang asing.

Asing bagi dirinya, asing bagi bangsanya.

********



“are you serious?”
“I don't know, I think I'm just curious”
“Hmm...I see” dia menyeringai.
“You have a crush on her. don't you?” seringainya makin lebar. Cenderung ngece menurutku. “Eh...no..no, it's not like that. You know, I always meet the same condition everyday until I used to it and suddenly something missing, It would feel different, right? And..and if the thing that missing suddenly appear again, come back to your life, I think you will feel the same, right?”
“Umm.. I don't know, I don't understand what you're talking about, and I don't really put any attention on such kind of things, I just thing you have a crush on her” Dia terkekeh 😋
“sigh..whatever, any suggestions?”
“hmm..anyway, you know. Basically, Japanese women are independent. Although in society, men are dominant, but the women also independent. especially nowadays when the government encourage them to work, adding the labor force requirements”
“Umm...I couldn't get it”
“Hey...I haven't finish yet. So..for most of us, men, it's not easy to approach a girl. Somehow we are affraid they will ignore us, except if you are famous or a very attractive person. The more independent, the more self confident they have, untill at some point maybe the don't need the existence of a man in their life.That's why, even though we know that we have some sort of
demoghraphic problem. And conceptually, we know how to solve it, but in reality it's complicated you know”
“So...what should I do?”
“Anyway..if you think you want to solve your curiosity problem. Just approach her, or wait for a miracle, something that can connect you with her, then you can make a follow up....That's what most men do here, when we don't have the courage, we wait for the miracle, to open the conversation. But you should prepare yourself if she ignore you. No need to worry with the others' opinion”

Begitulah, semacam wejangan dari seorang kawan, orang lokal. Walaupun mungkin agak tidak berguna mengingat dia juga sama nasibnya. Jomblo. Boleh jadi itu pula pembenaran baginya yang kalah sebelum berperang, tak punya nyali untuk mendekati begitu banyak wanita-wanita muda 'lucu' di luar sana. Tapi paling tidak, katanya, di umurnya yang sudah menginjak 30an dia masih enjoy dengan dunianya, kesendiriannya. Tak perlu khawatir dengan pernikahan, dia bilang. Toh jika sudah waktunya membutuhkan pendamping, katanya dia bisa mengajukan diri mengikuti program perjodohan pemerintah.
Ya pemerintah. Akibat susahnya mencari pasangan, atau katanya melakukan pendekatan dengan lawan jenis, baik pemerintah ataupun swasta banyak yang membuat ajang semacam biro jodoh bagi warganya.

*****************************************************

Saat ini jadwal kerjaku di tempat ini hanya dua kali seminggu. Karena jadwal perkuliahan sudah mulai berjalan. Maka hanya di dua kesempatan itu aku bisa bertemu dengannya, dengan catatan di gerbong yang sama, tempat yang sama. 10 menit perjalanan yang cukup membuat hatiku berbunga.

Awalnya aku tak mengira dia orang yang sama. Dia sudah berbeda, maksudku penampilannya tentu saja.  Dinginnya udara musim gugur membuat siapa pun mulai menutup kulit mereka rapat-rapat. Begitupun anak-anak sekolah, salah duanya nona mirip keiko kitagawa serta si gadis dengan mata jelita, mereka sudah mengganti seragam musim panas mereka dengan seragam musim gugur yang lebih tebal dan tertutup, walaupun tetap banyak di antara mereka masih setia dengan rok pendeknya. Hingga akhirnya kudapatkan apa yang Ryosuke bilang dengan keajaiban. Sesuatu yang bisa membuka jalan, sebagai alasan untuk menyapanya atau paling tidak ada kontak dengan dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar