![]() |
| Kapal Nggapulu di dermaga |
Ketika mereka besar nanti...ingin kuajak mereka, para anak dari istri saya...napak tilas kemana jejak kaki ini pernah melangkah "Ini lho...biak, dan kesana..kita ke serui...naik kapal itu, Nggapulu, kapal Pelni pertama yang Buya pernah naiki" mungkin begitu...terus kutunjukkan lah spot terbaik buat nongkrong dan bengong di pantai mariadei dulu. tempat sekedar berangan2 dan berhitung, berapa potong pohon kelapa diperlukan untuk membuat sebuah getek? yang mana cukup kuat membawa saya ke pulau jawa..trus pake dayung ato motor ya enaknya...trus bekalnya gimana...jalurnya kemana, gimana kalo karam, nyangkut ubur2 pikiran koplak...orang stress
jangan lupakan juga sebuah pantai tersembunyi di sana yang seriously, tidak kalah dari pantainya hawai...itupun kalo jalannya masih ada. dan di akhir perjalanan...boleh lah bila ada kesempatan, mencoba lagi naik kapal, 16 jam ke jayapura...pintu yang membuka kesempatan bapak mereka bisa balik ke jawa dan melanjutkan pendidikan.
malang- kota kedua, tempat si Kakak lahir ke dunia. Tempat dimana buya dan ummi mereka luntang-lantung, ato sekedar nongkrong di warung emperan dan nasi kucing pinggir jalan, kalo lagi suntuk malam2. Sekedar menikmati jalanan kota malang di tengah malam, ditemani wedang jahe buat ummi, dan jahe susu kesukaan buyanya.
Tak lupa juga menyambangi “ibu” yang sudah kami anggap dan anggap kami bagian dari keluarga, dan tetangga2 yang baik di sana. Mungkin di sinilah, sabda nabi bahwa rumah yang lapang, kendaraan yang nyaman (walau hanya motor beat waktu itu), dan tetangga yang baik itu adalah tiga unsur yang penting dalam kebahagiaan, setelah menikah tentunya.
“Ada empat diantara kebahagiaan : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang lapang, tetangga yang sholih, dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan : tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk” (HR Ibnu Hibban).
Kemudian Jakarta - Ah sudahlah...setidak nyaman apapun keadaan kotanya, tapi tentu mampu meninggalkan kesan tersendiri bagi yang pernah tinggal disana, walaupun bentar. Termasuk ketika harus mengungsi ke lantai dua rumah kontrakan gegara rumah kebanjiran. Hisanori Kato, penulis buku kangen Indonesia pun tak bisa mengilangkan kerinduan akan kejutan2 “kecil” yang dia temui di Ibu kota Indonesia ini
Palu – Di sinilah si anak kedua mbrojol ke dunia. Kota “taman bermain” bapaknya, yang luntang lantung kesana kemari bareng sepeda cyan kesayangannya. Jika masih ada dan kalo mereka mau, mungkin bisa menyambangi salah satu spot paralayang terbaik di Asia Tenggara. Lumayan seru buat yang pengen nyoba sport jantung. Dan tentunya spot snorkeling yang mantap di donggala, tak kalah jauh dari bunaken sana (walau saya belum pernah ke bunaken). Tongkrongan sang bapak di hampir setiap weekendnya. Demikian juga jajanan-jajanan kesukaan ummi mereka yang cuma ada di kota ini, walaupun di kota lain ada, tapi rasanya agak beda.
Bandung – Kota kelahiran si anak nomer tiga, Hisan. Biarlah mereka explore sendiri kota (yang bisa dianggap) hometown sang bapak. Terlalu banyak hal menarik di sini.
Urasa – Hmm...mahal diongkos kalo mesti datang rame2..kembali ke Niigata. Biarlah kelak ketika mereka besar nanti napak tilas kembali, ke kota kecil bertajuk “snow country”. Tempat dimana mereka benar2 merasakan suasana 4 musim, panas menyengat di musim panas, warna warni daun musim gugur, tebalnya salju musim dingin, dan berserinya musim semi. Kalau masih ingat, si kakak dan abang bisa reuni dengan teman2 masa kecil kodomoen mereka. Dan tentunya kampus bapaknya, satu2nya Universitas di Jepang, dan mungkin dari sekian tak banyak universitas di dunia, tempat berkumpul mahasiswa dari lebih 50 negara berbeda. Serta taman-taman dan bukit kesukaan mereka, tempat mereka menjelajah dan mengenal dunia kecil mereka. Ketika mereka benar-benar merasakan bagaimana indahnya bisa hidup bersinergi dengan alam.Lee - Urasa - Juni 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar