Kamis, 29 September 2016

Pintu Tengah..Gerbong Nomor Dua (I)

Torii Gate, gerbang menuju dunia setelah kematian

"...I don't know where they journey will end,
but I know where to start...

So wake me up when its all over..."

Avicii bersenandung dengan jelas di telinga. Seiring mata menatap lampu tiga warna di seberang sana yang berubah dari kuning ke merah. Dengan sigap kaki kanan mengayuh "si putih"ku ini, karena lampu tanda boleh menyebrang di hadapanku pasti menyala 2 detik kemudian.
"masih banyak waktu" gumamku.
Di negara yang tertib dan sangat menghargai waktu ini, tak perlu jam tangan untuk tahu saat ini pukul berapa. Kereta lokal menuju Nagaoka yang lewat beberapa menit sebelumnya, disusul lampu merah yang tadi kutunggu, cukup sebagai penunjuk waktu bahwa aku masih punya waktu 5 menit untuk membeli tiket, serta 3 menit untuk sekedar duduk di ruang tunggu, sebelum kereta lokal ke arah selatan datang pukul 7.20, tepat.
Ya...presisi..punctuality..adalah kata sakti yang seakan menjadi darah daging bangsa negeri ini.
Yuriko Kotani berseloroh dalam materi stand up comedynya bahwa transportasi di Jepang itu "On time...like...proper on time". 
Dan memang demikian adanya, jika kamu tak bisa membaca kanji ke arah mana bis atau kereta di hadapanmu akan melaju, cukup catat saja jam berapa bus atau kereta ke arah tujuanmu akan berangkat. Karena jika kamu salah naik walau hanya selisih satu atau dua menit saja, pasti akan tersesat.

Begitu tertibnya negeri ini, hingga kusadari bahwa apabila aku menunggu kereta di titik yang sama, di tempat dekat dengan ruang tunggu semacam akuarium ini. Maka aku akan naik gerbong yang sama dan bertemu dengan orang-orang yang sama.
Begitu terus orang-orang menjalani hari-hari mereka, terutama bagi mereka, orang-orang tua, yang seakan menjalani kehidupan monotonnya. Menunggu saat dimana arwah mereka harus melintas gerbang Torii, bergabung dengan warga di belahan dunia lain. Tapi walaupun begitu, tetap rutinitas lain akan mereka jalani disana. Ketika festival Obon datang, di situlah pintu gerbang terbuka dan mereka bisa mengunjungi anak cucu mereka di dunia nyata. Konon, begitu adanya.

Namun di sini, di dunia nyata. di antrian untuk pintu tengah gerbong kedua pada kereta lokal ke arah selatan pukul 7.20 dari Urasa, tiga orang anak laki-laki berseragam SMA biasanya sudah mengantri di depanku. Salah satunya berwajah seperti tokoh kartun, sayang lupa dari film atau komik apa. Sedang temannya yang lain, yang entah kenapa aku kira semua anak laki-laki di negeri ini tampak mirip satu sama lain, botak. Sepertinya mereka anak-anak klub baseball.

Ketika kereta yang akan kunaiki berhenti, mereka yang turun pun sudah bisa kutebak orang-orangnya. Kebanyakan anak-anak sekolah SMA Internasional di Urasa. Guru bahasa Jepangku yang tinggal di Nagaoka pun biasanya naik kereta yang sama, dan beliau pasti keluar dari pintu sebelahnya. Pun demikian ketika aku memasuki pintu tengah gerbong kedua kereta ini. Di sebelah kiriku, dia, seorang gadis SMA yang sangat mirip dengan Keiko Kitagawa, biasanya akan duduk bersama 2 orang temannya. Terkadang mengobrol, terkadang pula bengong, namun lebih sering tertunduk, mengantuk.
Apabila beruntung, aku bisa mendapatkan kursi panjang yang menghadap ke jendela tak bersekat seperti di Indonesia, jikalau aku tidak bisa duduk, kuambil posisi berdiri dan menghadap timur, pintu kereta yang kunaiki tadi, dekat kursi yang saling berhadapan untuk 4 orang, persis posisi duduk kereta kelas ekonomi di Indonesia. Di titik kuberdiri ini adalah spot terbaik untuk melihat pemandangan bukit yang mengelilingi kota ini.

Di stasiun berikutnya, Itsukamachi, beberapa anak sekolah pasti bergabung. Salah satunya dia, gadis bermata jeli, yang seakan dari matanya yang tidak terlalu sipit itu keluar pendar-pendar cahaya. Dia berpakaian selayaknya anak sekolah lainnya, atasan putih dengan sweater lengan panjang jika hari dingin dan rok sekolah yang pendek di atas lutut. Namun yang membedakan dengan kawan lainnya, dia selalu memakai kaus kaki panjang yang hampir selutut. Setelah naik dia akan tetap berdiri walaupun ada bangku kosong di sampingnya, bersender ke pintu sambil memegang smartphone di tangan kiri, terkadang mengobrol, tapi lebih seringnya sibuk sendiri. Poni dari rambutnya yang agak pendek itu sedikit menutupi matanya ketika sedang menunduk memperhatikan layar smartphone. Jikalau hari sedang hujan atau diperkirakan akan hujan, payung panjang berwarna hitam bergantung di lengan kanan.

Dari stasiun yang sama, pintu yang sama, seorang lagi yang cukup menarik perhatian juga bergabung. Si gadis musim panas aku menyebutnya, sepertinya bukan anak sekolah, lebih cocok mungkin seorang pekerja. Dengan pakaian yang biasa dikenakan gadis seusianya di musim panas. Gadis yang setiap kubertemu selalu menarik rambutnya yang diwarnai agak pirang itu rapi ke belakang. Tanpa bando, hanya jepit rambut di kanan kiri yang menguncinya agar tidak tergerai. Tas tangan di tangan kiri, kaos sederhana serta celana jeans super pendek berhiaskan sedikit robekan di depan, di paha kaki kanan dan kiri, yang selalu dia kenakan. Jangan tanya seberapa pendek celananya, jika kau penasaran, coba ukur dengan jarimu. Apalagi ketika dia duduk, boleh jadi ketika kau bentangkan jarimu barang sejengkal, masih lebih panjang dari jeansnya itu, atau, boleh jadi tidak, entahlah, belum pernah ada yang benar-benar mengukurnya. Jeans yang entah kenapa selalu terlihat sama ketika kubertemu dengannya. Mungkin saja tidak pernah ganti, atau mungkin juga seperti karibku di Indonesia sana. Kawan yang kami kira hampir tiap hari memakai celana itu-itu saja, padahal ternyata dia punya 4 biji dengan motif dan ukuran yang persis sama.

Si gadis musim panas akan berdiri jika gerbong penuh ketika dia naiki, menunggu. Karena dia tahu di stasiun berikutnya, gadis mirip Keiko dan kawan-kawannya akan turun. Dan dia pasti akan mengambil kursi isi dua yang menghadap ke barat. Duduk di situ, di pojokan dan tas disimpan di sampingnya.
Setelah "Keiko" dan kawannya turun, akan naik pula beberapa orang. Salah satunya seorang wanita, usia sekitar 30an, mungkin tepatnya 35. Dia akan mengambil kursi panjang yang menghadap ke barat, karena saat ini gerbong sudah mulai lowong, duduk dan kemudian mengantuk. Walaupun demikian, si gadis bermata jeli itu, masih tetap memilih berdiri, bersandar di pintu, menghadap ke timur, sibuk dengan smartphonenya.

Di stasiun berikutnya di situlah aku turun, bersama gadis bermata jeli itu dan kawan-kawannya yang bercelana dan rok kotak-kotak. Namun si gadis musim panas masih tak bergeming di kursinya, entah sampai mana arah tujuannya.

Begitulah...hari demi hari, di jam yang sama, suasana yang hampir sama yang kulihat dan kurasa. Kecuali saat ini, ketika padi sudah menguning dan siap panen. Pertanda musim gugur dengan anginnya yang dingin sudah datang, si gadis musim panas pun menghilang.