![]() |
| Wanita tua di depan stasiun Muikamachi |
“Whuss...” angin berhembus kencang seiring kereta menuju nagaoka berlalu dari hadapanku. Tidak lupa ku tengok kanan dan kiri sebelum menyebrang rel ini, sesuatu yang konyol menurutku. Seolah-olah bakal datang kereta menyusul di belakang kereta yang tadi atau kereta yang datang dari arah berlawanan. Padahal tentu saja itu semua tidaklah mungkin. Tapi entah kenapa setiap orang sini baik mengendarai mobil, motor, sepeda maupun berjalan kaki selalu tengok kanan dan kiri, padahal sepi dan tidak ada tanda kereta akan lewat. Terlalu patuh menurutku.
Seiring
itu pula elang yang sedari tadi menemaniku bersepeda
pergi. Entah memang karena hembusan angin dari lewatnya kereta yang
mengganggunya. Atau merasa sudah cukup membersamaiku sejak tadi di hari
ini. Terkadang,
dia terbang melayang di depan, kadang di belakang, kadang pula tepat di
atas
kepala. Jika kuberhenti dia bertengger di dahan-dahan pohon yang
menjulang
sepanjang perjalanan. Dan boleh jadi, hanya di sini kubisa menikmati
pengalaman langka ini. Ketika hewan-hewan merasa aman berdekatan dengan
manusia, seperti misalnya burung elang tadi, karena mereka menyadari
sebutan "Hewan yang dilindungi bukanlah tanpa makna". Dan kini mungkin
waktu baginya melanjutkan hidup dan
menuntaskan urusannya, mencari makan.
Ah pagi yang indah. Seindah harapan akan terulangnya sebuah
sebuah pengalaman yang tidak bisa lekang dari ingatan. Beberapa saat lagi
kereta menuju minakami lewat, aku harus bergegas. Semoga pagi ini bisa kutatap
kembali seraut wajahnya meski sekilas.
***
