Selasa, 17 Oktober 2017

Penantian (IV)




Wanita tua di depan stasiun Muikamachi

“Whuss...” angin berhembus kencang seiring kereta menuju nagaoka berlalu dari hadapanku. Tidak lupa ku tengok kanan dan kiri sebelum menyebrang rel ini, sesuatu yang konyol menurutku. Seolah-olah bakal datang kereta menyusul di belakang kereta yang tadi atau kereta yang datang dari arah berlawanan. Padahal tentu saja itu semua tidaklah mungkin. Tapi entah kenapa setiap orang sini baik mengendarai mobil, motor, sepeda maupun berjalan kaki selalu tengok kanan dan kiri, padahal sepi dan tidak ada tanda kereta akan lewat. Terlalu patuh menurutku.
Seiring itu pula elang yang sedari tadi menemaniku bersepeda pergi. Entah memang karena hembusan angin dari lewatnya kereta yang mengganggunya. Atau merasa sudah cukup membersamaiku sejak tadi di hari ini. Terkadang, dia terbang melayang di depan, kadang di belakang, kadang pula tepat di atas kepala. Jika kuberhenti dia bertengger di dahan-dahan pohon yang menjulang sepanjang perjalanan. Dan boleh jadi, hanya di sini kubisa menikmati pengalaman langka ini. Ketika hewan-hewan merasa aman berdekatan dengan manusia, seperti misalnya burung elang tadi, karena mereka menyadari sebutan "Hewan yang dilindungi bukanlah tanpa makna". Dan kini mungkin waktu baginya melanjutkan hidup dan menuntaskan urusannya, mencari makan.
Ah pagi yang indah. Seindah harapan akan terulangnya sebuah sebuah pengalaman yang tidak bisa lekang dari ingatan. Beberapa saat lagi kereta menuju minakami lewat, aku harus bergegas. Semoga pagi ini bisa kutatap kembali seraut wajahnya meski sekilas.
***