Selasa, 17 Oktober 2017

Penantian (IV)




Wanita tua di depan stasiun Muikamachi

“Whuss...” angin berhembus kencang seiring kereta menuju nagaoka berlalu dari hadapanku. Tidak lupa ku tengok kanan dan kiri sebelum menyebrang rel ini, sesuatu yang konyol menurutku. Seolah-olah bakal datang kereta menyusul di belakang kereta yang tadi atau kereta yang datang dari arah berlawanan. Padahal tentu saja itu semua tidaklah mungkin. Tapi entah kenapa setiap orang sini baik mengendarai mobil, motor, sepeda maupun berjalan kaki selalu tengok kanan dan kiri, padahal sepi dan tidak ada tanda kereta akan lewat. Terlalu patuh menurutku.
Seiring itu pula elang yang sedari tadi menemaniku bersepeda pergi. Entah memang karena hembusan angin dari lewatnya kereta yang mengganggunya. Atau merasa sudah cukup membersamaiku sejak tadi di hari ini. Terkadang, dia terbang melayang di depan, kadang di belakang, kadang pula tepat di atas kepala. Jika kuberhenti dia bertengger di dahan-dahan pohon yang menjulang sepanjang perjalanan. Dan boleh jadi, hanya di sini kubisa menikmati pengalaman langka ini. Ketika hewan-hewan merasa aman berdekatan dengan manusia, seperti misalnya burung elang tadi, karena mereka menyadari sebutan "Hewan yang dilindungi bukanlah tanpa makna". Dan kini mungkin waktu baginya melanjutkan hidup dan menuntaskan urusannya, mencari makan.
Ah pagi yang indah. Seindah harapan akan terulangnya sebuah sebuah pengalaman yang tidak bisa lekang dari ingatan. Beberapa saat lagi kereta menuju minakami lewat, aku harus bergegas. Semoga pagi ini bisa kutatap kembali seraut wajahnya meski sekilas.
***
“Apa....Jepang, ga salah bro?”
“Ya kagak lah. Impian bro...impian”
“Pala lu, palingan lu pengen liat dedek berbaju sailor yang roknya kependekan itu”
“Sok tau lu, lu aja kebanyakan nonton pelem blao
“lah, emang bener..gw baca di artikel makin tinggi kelasnya makin pendek roknya. soal pengalaman langsung emang lo duluan yang dapet, bisa kesono. tapi soal kajian tentang Jepang, gw ahlinya sob. ya nonton itu juga buat penelitian, research purpose gitu lah
“pret lah...otak..tu otak, cuci sana”
Percakapan penuh makna dengan kawan seperjuangan ketika SMA itu sempat membuat otak ini berpikir ulang. Ketika teman-teman lain yang lolos pertukaran pelajar lebih memilih Eropa dan Amerika, aku sendiri lebih memilih Jepang. sebagai sebuah perwujudan mimpi masa kecil sekaligus ambisi pribadi. Aku ingin lebih memperdalam bahasa kakek moyangnya teteh Kyoko Fukada, bintang pujaan yang foto posternya seukuran A3, bonus majalah Gadis milik kakak. Dulu kupajang di dinding bilik kamarku yang terbuat dari bambu. Dwifungsi, sebagai penutup lubang di dinding gubuk reyot milik keluarga sekaligus pemandu smoga mimpiku indah selalu. Namun sayang, ketika kondisi perekonomian keluarga membaik dan Ayah mampu membeli sebuah rumah tembok di pinggiran kota Bandung, poster kesayanganku  itu pun raib.
Banyak orang mengira dengan memperdalam bahasa Jepang niat utamaku adalah bekerja disana atau jangan-jangan berpindah warga negara. Bisa jadi, maksudku untuk bekerja, bukan pindah negara. Tapi hanya beberapa kawan dekatku yang benar-benar paham, termasuk Wawan, karib sejak SMA ku. Kami termasuk dalam golongan orang-orang maniak game dan anime, “otaku” disebutnya. Bahkan, jika di jaman itu sudah muncul girlband idol semacam AKB48, JKT48, dan semacamnya, kami akan berada di barisan pertama untuk mengantri menjadi anggota member fans clubnya, “wota” nama bekennya. Sebagai anak muda pegiat anime, manga dan game rpg asli Jepang, tapi hanya sebagai user maksudku. Diriku menyadari pentingnya kemampuan berbahasa Jepang yang mumpuni. Sehingga diriku tak perlu menunggu terbitnya game rpg keren versi Inggris atau USA, atau pula terbitnya game guide dan walkthroughnya jika game tersebut hanya ada dalam versi Jepang. Termasuk kemampuan membaca manga dan menonton anime dengan bahasa asli tanpa translate tentu akan membuat diriku menjadi pujaan di antara golongan otaku jones itu. Yah sudah bukan rahasia jika rata-rata para otaku itu jomblo dan ngenes. Malah ada kawan yang memimpikan bersanding dengan tokoh anime dibandingkan gadis di dunia nyata. Gila, otaku level kronis menurutku, naksir kertas. Diriku mending, masih ada rasa dengan gadis dunia nyata, asalkan yang mirip2 dengan Ellie, salah satu tokoh wanita yang bisa dinikahi di game Harvest Moon.
***
Lamunan masa lalu membuat lelah seakan tak berasa. Ketika kutiba di tujuan utama pagi ini, stasiun Itsukamachi. Dan di sini, yang bagiku seakan berada di dunia Harvest Moon namun nyata. Gadis impianku seakan benar2 ada di dunia. Gadis asli Jepang yang tatapan dari matanya yang sipit dan cerah namun meneduhkan, dan sepertinya ramah. terbukti dia tidak ragu melempar senyumnya kepadaku. Mungkin jika rambutnya diwarnai biru gelap akan nampak persis sekali dengan gadis pujaan di dunia game itu.
Simple sekali tujuan utamaku pagi ini. Jika kutemui dia datang berjalan kaki, bisa dipastikan jarak rumah dan stasiun kecil ini tak lebih dari 5km. Besok lusa bisa kukitari daerah ini jika kumau. Jika bersepeda, mungkin lebih jauh lagi. Tapi tak mengapa, paling tidak ada perkembangan pengetahuan walaupun sedikit. Bagaimana jika dia naik bus, buatku itu tak mungkin. Akan lebih efisien jika dia langsung menuju Muikamachi atau Urasa sekalian karena jaraknya yang tidak begitu jauh.
Memang benar kata kawanku, Ryosuke. Aku memang bodoh, kesempatan emas kemarin untuk membuka obrolan kusia-siakan begitu saja. Dan kini, ketika perusahaanku tak lagi membuat jadwal di hari minggu, ditambah perkuliahan di hari sabtu pun sudah berjalan di samping padatnya kuliah di hari2 biasa. Membuat progress positif itu seakan kembali melayang.
***
Aku duduk di seberang pintu masuk stasiun. tidak jauh dari parkiran sepeda. Dengan pandangan langsung ke gerbang stasiun yang hanya satu-satunya itu. Jangan bayangkan stasiun di kota-kota besar yang ramai itu. Ini stasiun kecil, di kota yang juga kecil. Sehingga bisa kususuri satu demi satu setiap orang yang datang dan pergi. Kuintip juga mereka yang sudah berbaris rapi menunggu kereta di peron, dia tidak ada. Beberapa menit lagi kereta datang, belum kulihat juga batang hidungnya disana. Hingga kemudian kereta pun tiba...dan pergi. Dan dia yang kucari tak juga kutemui.
"Apa dia terlambat?" gumamku. "Yahsudahlah, mungkin naik kereta berikutnya."
Ku pun berjalan menuju ruang tunggu stasiun kecil itu, yang hanya memiliki bangku isi 4 orang serta mungkin hanya muat untuk belasan orang, itu pun berdesakan.
Petugas stasiun satu-satunya sempat melirik, tapi kemudian melanjutkan pekerjaan.
"Ah paling orang yang sedang menunggu kawan, atau pesepeda yang mencari tempat istirahat". Barangkali pikirnya begitu.
Hanya ada 1 vending machine untuk minuman, 1 vending machine untuk tiket tersedia. Ataupun jika kamu belum bisa menggunakan vending machine untuk membeli tiket, kamu bisa membelinya langsung ke petugas stasiun yang tugasnya merangkap, sebagai penjual tiket, pengatur perjalanan, pemberi pengumuman, sekaligus pengecek tiket mengingat tidak ada gate dengan mesin khusus sebagaimana di stasiun besar. Jika kamu pernah menonton anime "5 cm lebih jauh" (ditranslatekan begitu) stasiunnya persis mirip itu.

1 jam lagi kereta berikutnya akan datang, kucoba membuang waktu dengan membeli kopi kalengan di vending machine, suatu benda yang sangat-sangat kukagumi dan kuharap menjamur pula di negeriku nanti. Setengah jam berlalu kuhabiskan dengan streaming dan 2 kaleng kopi, petugas stasiun seakan kembali melirikku berulangkali. Atau barangkali perasaanku begitu. Keringat pun sudah kembali mengering.
15 menit kemudian 3 orang anak sekolah berbaju bebas datang bergabung di ruang tunggu. Dilihat dari pakaiannya mungkin mereka berencana menuju mal, bisa ke Nagaoka di utara atau ke Aeon mall di Muikamachi, kota sebelah. Satu yang kusuka dari gaya berpakaian orang-orang sini adalah modis dan nampak cocok memakai apa saja, dari yang sederhana bahkan yang ngejreng sekalipun. Bahkan pakaian yang sama jika tetangga kampungku memakainya akan menjadi terlihat murahan dan mirip biduan organ tunggal. Aku pun kembali bergerak, menuju sepeda yang terparkir di luar sana.

Hingga kereta berikutnya datang...dia pun masih belum nampak. Dia....gadis yang kali ini kubingung menyebutnya. Ah...aku harus segera menemukan jawabnya, siapa namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar