![]() |
| Kippu, yang artinya tiket |
Apa yang membuat hidupmu menjadi menarik? Adalah ketika timbul suatu percikan-percikan warna lain dari monotonnya keseharian yang engkau jalani. Bagiku itulah salah satunya.
Di 'negeri robot' ini, semua seakan terprogram, tidak hanya mesin, bahkan manusia yang jelas-jelas memiliki akal dan nafsu seakan mengalir begitu saja menyusuri segala aturan. Aturan-aturan buah pikiran mereka sendiri, dengan ketat dan terkoordinir.
Jadwal-jadwal, tata kota, posisi parkir, desain dan lay out bangunan, pakaian yang harus dikenakan di musim tertentu atau acara tertentu, posisi kendaraan, termasuk dimana kamu harus berdiri menunggu kereta, di situ sang masinis akan menghentikan gerbong yang kamu tunggu. Presisi, persis pintunya berhenti tepat di depan hidungmu. Semua ada standarnya, ada aturannya. Membosankan buatku. Walaupun di saat yang sama mengagumi segala keteraturan ini. Mengagumi kesungguhan mereka menjalankan segala aturan yang ada.
Sehingga, sebagai warga dari sebuah negara yang 'sangat dinamis' diriku harus menerima kenyataan, mau tidak mau harus bisa menyesuaikan. Setengah manusia, setengah robot. Dan sesungguhnya, jika kau benar-benar perhatikan, boleh jadi akan ada sesuatu yang menarik disana, dalam keseharianmu yang monoton itu. Menggelitik sisi manusiamu yang penuh imagi.
---
Matanya yang sipit menatap tajam layar smartphone di tangannya.
Kali ini dia tidak duduk di pojokan bangku panjang seperi biasanya, dia berdiri di depanku...sendiri, bersandar di pintu masuk sebelah kanan, sedangkan diriku menatapnya dari seberang, di pintu lainnya. sambil berpura-pura menatap barisan pegunungan berwarna warni di belakangnya.
Saat ini rambutnya sudah tidak diikat seperti bulan-bulan sebelumnya. Kusadari lehernya yang putih dan jenjang itu tertutup rambutnya yang sebahu dan berwarna agak kemerahan. Di musim gugur yang terkadang menggigil ini, sweater dengan hood seringkali dia pakai, senada dengan warna rok lipit selutut yang dia gunakan hari ini, kakinya juga terbalut stocking hitam seperti yang biasa digunakan anak-anak SMA.
Tingginya sepantaran denganku, mungkin berbeda sedikit saja, entah berapa centi. Barangkali, bila ku beranikan diri berdiri dekat dengannya, aku yang di bawah standar tinggi pria Jepang ini bisa mengukur seberapa mungil dirinya dibandingkan denganku.
Proporsi tubuhnya yang pas seperti wanita Jepang kebanyakan tidak menutupi rasa ketertarikanku akan dirinya, menganggap bahwa dia berbeda, bernilai lebih. Atau boleh jadi akal pikiranku yang sejak awal sudah menasbihkan bahwa dia itu spesial sejak lama, membuat wanita lain sebangsanya nampak biasa.
Dia..si gadis musim panas, dengan dandanannya yang cukup berbeda, namun tetap menarik dan sederhana, membuat diriku pada awal musim yang indah ini sempat hampir tidak mengenalnya.
******
Minggu ini buatku sangat indah, setelah keajaiban pertama, ketika kelas kami mengadakan field trip ke sebuah resort ski yang cukup terkenal di area yuzawa. Walaupun musim dingin belum tiba, namun resort ski yang terkenal dengan gondolanya itu memang selalu ramai dengan pengunjung, terutama mereka dengan hobi hiking dan mendaki gunung yang berwarna warni indah di musim gugur ini.
Aku melihatnya di sana. Menjaga salah satu counter sake echigo, item favorit daerah sini.
Sayang, aku hanya melihatnya sekilas ketika kami akan beranjak pulang.
Tapi, aku juga berfikir, kalaupun aku punya waktu panjang apa bedanya? aku tak punya alasan untuk bertanya, apalagi berpura-pura membeli barang dagangannya yang tidak terjangkau dompetku itu. Dan tentu saja, kawan-kawan di kampus akan bertanya kenapa diriku yang memang sama sekali menjaga diri akan alkohol ini nangkring di counter sake.
Tapi paling tidak, melihatnya dari jauh diriku sudah sangat senang. Tanyaku sekian lama akan dimana dia menuju dengan kereta yang sama terjawab sudah.
Keajaiban kedua ya saat ini, beberapa saat setelah dia merapikan poni, menampakkan dahinya yang lebar dan seakan berkilauan tertimpa cahaya mentari pagi. Aku melihat tiketnya terjatuh dan dia tidak menyadari. Aku merasa detik berjalan sedemikian lambat ketika tiket kereta yang berukuran tak lebih dari penghapus pensil itu mendarat di sepatunya yang hitam, kemudian terinjak.
Entah kenapa aku girang. Berbagai skenario bermunculan di otakku. Mungkin aku bisa menyapanya, mendekati untuk berjongkok di depannya, seakan melamar seorang gadis demi mempersembahkan tiket kereta yang bagiku saat ini seakan sebuah berlian tiada tara. Sebuah persembahan.
Ah tidak...tidak..aku tak mau sebelum aku mendapat kan tiketnya orang-orang terlanjur menghujaniku dengan tatapan seakan aku ini maniak yang berusaha mengintip apa yang dibalik roknya. Dan dengan demikian dia teriak....dan..entahlah...apa yang akan terjadi denganku, dengan reputasiku sebagai pria yang senantiasa menjaga image ini.
Hmm... atau bisa saja aku berjalan pelan mendekatinya, berbisik sekaligus berusaha mencari wangi tubuhnya. 'Hei...tiketmu jatuh'. Bisikku dari dekat.
Tapi.. umm...tapi apa bahasa jepangnya jatuh ya? Waduh aku belum belajar, belum sampai bab itu. Kalau pakai bahasa Inggris apa dia paham? Atau aku tak perlu bicara, cukup menunjuk ke bawah, ke kakinya. Paling tidak ada usaha memperpendek jarak. Bisa melihat halus wajahnya dari dekat. Pikirku, berkecambuk dalam otakku.
Tanpa kusadari, lama kususuri wajahnya dengan pandangku ketika otak ini berfikir keras cara terbaik membuka obrolan. Hidungnya yang kecil di atas bibirnya yang tipis nampak serasi dalam bingkai wajahnya yang tidak tirus tidak pula bulat itu. Dan ketika kutemukan iris matanya menatapku, kukirimkan sunggingan halus di bibirku.
Kucoba...dengan lirikan mata, alis terangkat dan tanpa bicara, kutunjuk lantai kereta.
Wajahnya yang waspada nampak mulai mengendur seiring pupilnya yang melebar. Menampakkan warna muka ceria yang biasa tergambar di wajahnya. Setelah beberapa detik dalam kebingungan, dia menyadari isyarat dariku. Mengambil tiketnya yang terjatuh. Kemudian sebagai rasa terima kasih dia menunduk sebagaimana lazimnya seorang Jepang memberi penghargaan dan penghormatan. Disertai sebuah senyuman yang bagiku sangat manis dan indah. Lebih indah dari terbitnya mentari yang nampak dari puncak gunung fuji. Membuat kaki yang dari tadi tidak beranjak semakin terpaku.
Setelah itu..hening, dia kembali menatap ke depan, dan aku hanya terpaku menatap ujung sepatu.
“Ya ampun, apa yang kulakukan? keajaiban telah terjadi, dan kusia-siakan pula kesempatan ini.”Otakku protes. Ketika gerbong berhenti di stasiun tujuan aku pun mengutuki diri, akan hilangnya sebuah kesempatan yang tentu tak akan pernah kembali terulang.
Tapi ternyata, 10 menit terpanjang dalam hidupku itu tidaklah berlalu tanpa bekas. Sesaat sebelum beranjak, kembali kucari tatapannya. Dan kami kembali bertemu pandang, tersenyum satu sama lain. Lebih lebar, hingga matanya yang sipit hampir membentuk garis melintang yang cantik. Hingga pintu kereta menutup dan membawanya pergi, namun indah senyumnya akan selalu tertinggal dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar