"Ayaah, ayo dorong lagi yang kencang", pintanya.
Dan dia pun mengayun semakin tinggi. Angin menerpa wajahnya, bening matanya yang menatap tajam sebuah tugu yang menjulang di hadapannya.
"Dorong lebih kencang ayah, aku ingin bisa terbang, aku ingin memeluk langit", tambahnya lagi.
Seorang gadis kecil yang lucu, dengan mata yang besar dan pipi yang bulat, memerah, kulitnya tak bisa dibilang putih, tapi paling terang dibanding teman sebayanya. Garis-garis wajahnya mengukir gurat kecantikan sang ibu.
Apalagi jika dia tersenyum riang, binar mata dan semua bingkai yang ada dalam wajahnya selalu membuat sang Ayah senang, sekaligus haru, seiring bulir-bulir air mata yang mengembang di pelupuk mata, tanpa dia sadari. Sketsa yang indah dari wanita yang sangat dia puja sejak dulu. Yang kemudian tertanam pada gadis kecil berkepang dua ini.
Demi sang buah hati satu-satunya ini, apapun dia lakukan. Demi bisa selalu melihat binar ceria di matanya lagi, apapun dia berikan. Bukan hanya demi bisa melihat sketsa wajah kekasihnya, namun juga menunaikan janji dan menebus kegagalannya di masa lalu.
======================================================================
"Kamu mau gendong?" tanya sang Ayah, mereka menuju lapangan parkir di jalanan depan Kementerian.
"Tidak ayah, aku jalan saja, aku kuat, bisa sendiri kok."
Dia pun tersenyum mendengarnya. gadis kecil yang riang dan ceria, namun keras dan tegas. Persis sang ibu.
"Ayah aku ingin mampir dulu"
"Iya, tapi jangan lama-lama ya Nay. Sudah sore, bentar lagi kamu mengaji."
"Iya Ayah. Sebentar saja, aku ingin menitipkan salam untuk Ibu."
Gadis kecil itu, Nay, berbelok menuju ke arah tugu. Diiringi tatapan nanar sang Ayah. Ada sesdikit sesal di dadanya, mungkin dia telah mengajarkan kesalahan kepada gadis kecilnya yang lugu. Sejak dia tahu bahwa taman itu, tempat kesukaan Sang Ibu. Ayunan di pojokan itu tempat penuh kenangan di masa lalu. Nay selalu merengek untuk menghabiskan akhir pekan di sana. Bukan tempat lain, dia tak peduli Ancol, Kebun Binatang, Mal, atau tempat hiburan anak-anak lain.
Cukup Taman Lapangan Banteng, dan ayunan.
Suatu sore, di ayunan, Nay tidak seceria biasanya, dan bertanya, "Ayah, dimana ibu? Nay rindu". Tak henti dia bertanya, menangis. Menggores luka yang begitu dalam di dada sang Ayah. Demi menenangkan si buah hati, dengan sedikit imajinasi sang Ayah bercerita, kalau ibunya ada di Surga, di langit.
Nay yang cerdas kemudian bertanya, "apakah orang di atas itu bisa melihat ibu?",
"Dia tinggi, dan dia selalu melihat langit"
Ayahnya melirik tugu yang menjulang di tengah taman. "Ya, mungkin" dia jawab sekenanya.
Sejak itulah, selain bermain ayunan, Nay selalu menyempatkan diri mengunjungi tugu di samping kolam yang indah itu, yang berdiri seseorang yang gagah di puncaknya, dengan kedua tangan terangkat ke langit. Dan seperti itu juga yang Nay kecil lakukan, sambil berbisik.
"Tuan, aku rindu Ibu, tolong kirimkan salam untuknya. Nay baik-baik saja di sini, Ayah juga sehat, tapi kalau malam batuk-batuk"
Sejak itu, setiap Nay kecil rindu sang ibu, dia selalu minta diantar. Tapi, sudah tak ada lagi rengekan atau tangisan seperti sebelumnya karena menahan rindu.
=======================================================================
"Ri....aku minta maaf"
"......"
"aku tak bisa menepati janjiku"
Dia tak bergeming, dia sedih, marah, kesal, kuatir, sakit hati, cemas dan segala perasaan tak nyaman lainnya.
"aku...titipkan dia padamu. Jaga dia baik-baik, seperti kamu berusaha mewujudkan janjimu untuk menjagaku." tambahnya.
"Iya..." wajahnya masih menunduk, menahan beratnya beban perasaan.
"Angkat wajahmu, senyum dong. Aku tidak apa-apa. Aku bahagia, aku senang bisa bersamamu, walaupun aku sangat terlambat menyadarinya" Katanya, sambil berusaha tersenyum.
Demi melihat senyuman bidadarinya itu. Pecahlah tangisnya. Dia makin menunduk, tergugu.
"Aku minta maaf, aku..tak bisa menjagamu"
"Kamu sudah lebih dari cukup menjagaku, aku yang minta maaf. Aku harap kamu mau memaafkanku atas rencana-rencana yang belum bisa kita jalani semua. Aku minta maaf, aku pergi. Meninggalkanmu, meninggalkan kalian....."
.....
...
..
.
Sebuah tangisan bayi menyadarkannya untuk kembali tegak. Diraihnya bayi yang baru lahir itu dari gendongan perawat. Ditatapnya, garis wajah, pelipis, dahi, pipi dan lebat rambutnya, persis sang bidadari pujaan yang kini sudah menutup mata.
"Ai...kali ini aku akan berusaha menepati janji"
D U N I A C E R M I N
Kamis, 07 Mei 2020
Selasa, 24 April 2018
Gelap
Author POV
Yang dia ingat, dia berada di sebuah keramaian. Suara-suara, teriakan bahagia, keseruan, cahaya lampu beraneka warna dimana-mana. Langkah kecilnya hanya mengikuti dua orang dewasa yang ada di depannya, yang salah satunya begitu erat menggegamnya. Yang dia tahu, di malam itu, dia diberi hadiah sebuah pesawat mainan. Warnanya putih, agak gemuk, semacam boeing 737 di masa kini. Seseorang memberikan pesawat itu kepadanya, dengan kata-kata yang entah mengapa dia lupa, mungkin berharap dia menghadiahinya sebuah senyuman riang. Tapi, dia tidak ingat apakah dia tertawa riang atau tersenyum sekedarnya, yang dia rasa, hanya sebuah kebingungan yang teramat sangat di malam itu. Otak kecilnya terlalu sempit untuk mencerna semua yang ada. Pasar malam, keriuhan, Ibu, dan seseorang, entah siapa.
***
Kali ini, dia berada di halaman sebuah rumah kontrakan, berdinding kayu. Dia tidak tahu isi rumah petak itu, yang dia lihat berjejer rumah dengan bentuk serupa di kanan kirinya. Entah dua atau tiga. Di sekelilingnya, sejauh mata memandang, terhampar pesawahan yang menghijau, indah dipandang mata. Belasan capung yang terbang berputar di atasnya lebih menarik baginya. Dibanding sang ayah yang ketika itu menggedor pintu dengan paksa. Setelah itu...dia lupa.
***
Di kali yang lain, langkah kecilnya menyusuri gang sempit selebar setang sepeda mini anak. Tapi cukup lebar bagi tubuhnya yang mungil. Gang yang gelap, sepanjang 50 meter namun baginya terasa panjang dan menyeramkan. Tapi itu lebih baik dibanding harus memutar, menempuh jarak lebih jauh. Dia masih ingat tempat yang ia tuju, dengan bau kamar yang seperti gudang itu. Bau ayam goreng, bau kerupuk, atau bau-bau lain karena disana, di rumah petak satu kamar yang seperti gudang itu digunakan ayahnya untuk tidur dan memasak. Namun, baginya tempat itu jauh lebih nyaman dibanding rumah dua tingkat yang sering membuatnya tidak betah.
"Pak, aa bobo di dieu nya"
"Huss, Uih we nya, enjing sakola, karunya si mamah teu aya rencang." Balas si ayah.
Sepotong percakapan dengan jawaban yang membuatnya sangat kecewa. Dia juga tak habis pikir, kenapa dia harus sendirian, sang kakak kenapa harus pergi dan menyingkir ke kampung halaman.
Yang dia ingat, yang dia tahu, setelahnya..setelah dia mulai mengenal teman dan dunia di luar rumah, dia sudah tak peduli dengan semua yang ada di rumah dua tingkat itu. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, dia anggap angin lalu.
***
Di tahun-tahun setelahnya, teman sepermainan, teman bersepeda, yang setia menemani merambah hingga ke daerah yang bahkan dia tidak tahu seberapa jauh dari rumah, teman rentalan, yang dengan mereka dia bisa menghabiskan waktu seharian, atau teman-teman yang lain yang mampu membuatnya betah di luaran, jauh dari rumah.
Hingga di suatu saat si ayah kembali, kemudian menyusul munculnya seorang adik perempuan. Membuat rumah dua tingkat tempatnya bernaung diwaktu malam menjadi semakin ramai, namun dia tetap merasa sendiri. Dia makin merasa, cukuplah adiknya sebagai pengganti. Baginya, dunia luar tetap menarik hati. Bukan sebuah tempat yang dia tempati, yang orang bilang sebagai rumah.
Yang dia ingat, dia berada di sebuah keramaian. Suara-suara, teriakan bahagia, keseruan, cahaya lampu beraneka warna dimana-mana. Langkah kecilnya hanya mengikuti dua orang dewasa yang ada di depannya, yang salah satunya begitu erat menggegamnya. Yang dia tahu, di malam itu, dia diberi hadiah sebuah pesawat mainan. Warnanya putih, agak gemuk, semacam boeing 737 di masa kini. Seseorang memberikan pesawat itu kepadanya, dengan kata-kata yang entah mengapa dia lupa, mungkin berharap dia menghadiahinya sebuah senyuman riang. Tapi, dia tidak ingat apakah dia tertawa riang atau tersenyum sekedarnya, yang dia rasa, hanya sebuah kebingungan yang teramat sangat di malam itu. Otak kecilnya terlalu sempit untuk mencerna semua yang ada. Pasar malam, keriuhan, Ibu, dan seseorang, entah siapa.
***
Kali ini, dia berada di halaman sebuah rumah kontrakan, berdinding kayu. Dia tidak tahu isi rumah petak itu, yang dia lihat berjejer rumah dengan bentuk serupa di kanan kirinya. Entah dua atau tiga. Di sekelilingnya, sejauh mata memandang, terhampar pesawahan yang menghijau, indah dipandang mata. Belasan capung yang terbang berputar di atasnya lebih menarik baginya. Dibanding sang ayah yang ketika itu menggedor pintu dengan paksa. Setelah itu...dia lupa.
***
Di kali yang lain, langkah kecilnya menyusuri gang sempit selebar setang sepeda mini anak. Tapi cukup lebar bagi tubuhnya yang mungil. Gang yang gelap, sepanjang 50 meter namun baginya terasa panjang dan menyeramkan. Tapi itu lebih baik dibanding harus memutar, menempuh jarak lebih jauh. Dia masih ingat tempat yang ia tuju, dengan bau kamar yang seperti gudang itu. Bau ayam goreng, bau kerupuk, atau bau-bau lain karena disana, di rumah petak satu kamar yang seperti gudang itu digunakan ayahnya untuk tidur dan memasak. Namun, baginya tempat itu jauh lebih nyaman dibanding rumah dua tingkat yang sering membuatnya tidak betah.
"Pak, aa bobo di dieu nya"
"Huss, Uih we nya, enjing sakola, karunya si mamah teu aya rencang." Balas si ayah.
Sepotong percakapan dengan jawaban yang membuatnya sangat kecewa. Dia juga tak habis pikir, kenapa dia harus sendirian, sang kakak kenapa harus pergi dan menyingkir ke kampung halaman.
Yang dia ingat, yang dia tahu, setelahnya..setelah dia mulai mengenal teman dan dunia di luar rumah, dia sudah tak peduli dengan semua yang ada di rumah dua tingkat itu. Semua yang terjadi, semua yang dia alami, dia anggap angin lalu.
***
Di tahun-tahun setelahnya, teman sepermainan, teman bersepeda, yang setia menemani merambah hingga ke daerah yang bahkan dia tidak tahu seberapa jauh dari rumah, teman rentalan, yang dengan mereka dia bisa menghabiskan waktu seharian, atau teman-teman yang lain yang mampu membuatnya betah di luaran, jauh dari rumah.
Hingga di suatu saat si ayah kembali, kemudian menyusul munculnya seorang adik perempuan. Membuat rumah dua tingkat tempatnya bernaung diwaktu malam menjadi semakin ramai, namun dia tetap merasa sendiri. Dia makin merasa, cukuplah adiknya sebagai pengganti. Baginya, dunia luar tetap menarik hati. Bukan sebuah tempat yang dia tempati, yang orang bilang sebagai rumah.
Kamis, 30 November 2017
Sehari bersama Reika..part 4 (X)
![]() |
| Iluminasi |
Hampir 1 jam perjalanan kami menuju tempat tujuan utama. Kali ini Reika tidak banyak bercerita, hanya diam dan sesekali berkomentar ketika ku bercerita tentang apa saja yang ada di dalam kampus. Matanya seakan menerawang, memandangi pemandangan di kanan kiri jalan, juga memandangi para penumpang yang berjubel di depan. Kami duduk di belakang, sehingga bebas melihat dan mengamati semua yang ada. Festival iluminasi sepertinya terkenal, terbukti banyak sekali orang yang bertujuan sama dengan kami. Apalagi hari ini hari sabtu, malam minggu.
“Tokorode, Riri san no daigaku de minna wa eego o hanashimasuka?” tanyanya
tiba-tiba.
“Ya..full english” jawabku.
“Nihonjin mo? Eego hanasu?”
“Tentu saja, kecuali kalau mereka berkumpul dengan
sesamanya”
“Sugooi. Sepertinya aku ingin kuliah di tempat Riri san juga nanti.”
“Bukannya kamu bilang ingin di Tokyo, di kota besar?”
“Aku tak tahu, suatu saat mungkin bisa berubah. Waktu kecil,
ayah sering mengajakku dan Ibu ke Tokyo atau kota lain. Ayah mengerjakan
urusannya dan aku berjalan-jalan disana. Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah
lupa kapan terakhir Ayah mengajak kami demikian.” Dia bercerita, tanpa menoleh
untuk saling memandang mata.
“Kamu sering ke sini? Nagaoka. Sepertinya kamu tahu banyak
tentang kota ini.”
Dia tidak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum. Kemudian
kembali memalingkan muka, memperhatikan lembayung senja di luar jendela.
Sepertinya bus sudah mulai mendaki bukit. Aku rasa ketinggian sudah mulai
bertambah, dan rasa dingin makin menyengat. Untung aku memakai jaket hangat yang
kubawa dari Indonesia.
“deeto ka
kazoku to ryoko shimashutaka” [apakah itu
ngedate atau jalan-jalan?]
“ee...” dia
sedikit kaget dengan pertanyaanku. Pandangannya menelusuri mataku, memastikan
aku sedang tidak bercanda dengan pertanyaanku.
“Maksudku, ketika kamu ke nagaoka, apakah sedang berkencan
atau jalan bersama keluarga?” tanyaku sambil cengengesan. Mencoba mencairkan
suasana.
“Rahasia” Jawabnya sambil melet, menjulurkan lidah.
“Kalau memang berkencan tidak apa, nanti tolong ajari. Aku
tak tahu caranya.” Timpalku.
“Usso [bohong].
Riri san pasti banyak pengalaman, pasti banyak fansnya." Tambahnya, raut
mukanya kembali normal. Matanya kembali cerah dan bercahaya.
“Beneran ini. Aku jarang bergaul. Tapi gadis sepertimu juga pasti banyak yang suka,
mungkin pengalamannya banyak. Dakara Oshiete
kudasai”
“Ga percaya.” :P jawabnya.
Hening sejenak
Hening sejenak
“aku suka kota besar, tidak membosankan seperti tempatku. Aku punya teman bernama Ai, kakaknya dulu tinggal di Tokyo. Dia tetanggaku, aku
sering bersama Ai san mengunjungi kakaknya di Tokyo. Tapi sekarang tidak lagi.” tambahnya lagi, memecah kesunyian.
“Ai san?”
“Ya..teman dan tetanggaku yang lain selain Ayumi chan. Lebih tua dariku,
tapi kami berteman baik.” jawabnya. “Itsukamachi itu kota kecil, kamu pasti
tahu itu. Jadi kami mengenal tetangga kami dengan baik satu sama lain.”
tambahnya lagi
Baguslah.. dia sudah mulai bercerita lagi, dengan warna yang
lebih ceria. Walau mungkin tidak seterang biasanya. Mungkin sudah lelah
berjalan seharian.
Bus kami sudah hampir mencapai pemberhentian terakhir. Halte
bus taman Echigo Hillside. Ketika bus sudah berhenti sepenuhnya, para penumpang
kemudian bergerak turun dengan tertib. Tidak lupa membayar dengan memasukkan
uang ke dalam mesin, sesuai dengan tarif yang tertera di layar, di atas kaca
jendela depan. Dari perhentian mana kamu naik, tertulis jumlah seharusnya.
Sehari bersama Reika...part 3 (IX)
![]() |
| Nagaoka city |
Sebetulnya Niigata itu perfektur yang indah. Namun, entah mengapa kurang begitu terkenal dibanding perfektur atau daerah lain seperti Hokkaido di paling utara, Tohoku di timur laut, Tochigi di tenggara, Kanto dengan Tokyo dan area sekitarnya di selatan, Nagoya yang memiliki banyak universitas, Kansai dengan Osaka, Kyoto serta daerah sekitar Hyogo, Hiroshima, Kyushu, dan lain-lain. Padahal, area Niigata hanya 2 jam saja dari Tokyo menggunakan shinkanshen.
Menuju Niigata dari Tokyo hanya ada 1 jalur utama untuk kereta, Joetsu line. Mulai dari stasiun tokyo menuju Takasaki, kemudian Minakami yang memiliki salah satu onsen yang sangat terkenal karena keindahannya di musim salju, dari Minakami menuju Nagaoka, melewati Yuzawa yang sangat terkenal dengan resort skinya. Bahkan bisa dibilang antara Yuzawa, Urasa, Koide ke utara ditambah Tokamachi di balik gunung, seperti di belahan dunia lain. Negeri salju mereka menyebutnya. Karena disana tumpukan salju begitu tinggi ketika puncaknya. Setelah koide di utara atau sebelum terowongan menuju yuzawa di selatan biasanya kering, tumpukan salju alakadarnya. Termasuk di kota ini, Nagaoka. Dan bila kamu melanjutkan perjalanan ke utara, ke Ibu kota, kota Niigata yang juga merupakan kota pelabuhan, yang membedakan musim dingin dan musim lainnya hanya udaranya yang bisa membuatmu menggigil. Tidak ada salju, kecuali sedikit saja jikalau ada.
Kami berjalan menyusuri trotoar yang kering seperti musim
biasanya. Tapi tetap, walaupun siang hari, rasa dingin menyergap kaki dan
beberapa bagian tubuhku yang tidak tertutup kain. Aku heran dengan
wanita-wanita negeri ini. Karena ada beberapa juga yang memakai rok pendek
tanpa celana panjang atau stoking di dalamnya. Mungkin mereka sangat terlatih,
ataukah menderita demi gaya?
Setelah satu setengah jam menghabiskan waktu di dalam
ruangan bioskop yang remang. Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami.
Echigo Hillside Park di bagian barat kota Nagaoka. Cukup jauh dari kota, bahkan jika ditempuh
dari stasiun, maka kami akan turun di pemberhentian terakhir. Dari riverside ke
sana katanya harus naik bus 2 kali. Jangan tanya jurusannya, aku belum bisa
membaca kanji, cukup kuikuti langkah kaki Reika, pembimbing perjalananku kali
ini. Dia sepertinya sedang gembira, dia berjalan dengan menggoyang
goyangkan tas tangan mungilnya. Atau memang gaya jalannya seperti itu? Dan
seperti biasa, cowok gentleman sepertiku membawakan belanjaan. Walaupun pada awalnya dia menolak karena bukan kebiasaan orang Jepang laki-laki membawakan belanjaan perempuan.
Selasa, 28 November 2017
Sehari bersama Reika...part 2 (VIII)
![]() |
| papan penunjuk arah |
Kereta sedikit bergoyang ketika bergerak memasuki
terowongan.
Kami duduk berhadapan, di kursi 4 orang yang seperti tempat duduk
kelas bisnis di Indonesia itu. Namun bedanya, di sini kursinya empuk dan nyaman
padahal ini sekedar kereta rel listrik biasa. Selain itu, walaupun secara umum dari luar
gerbong kereta di Jepang nampak sama, lay outnya bisa berbeda-beda.
Bahkan aku pernah melihat kereta ke arah Tokamachi yang hanya 1 gerbong tapi
dalamnya lumayan mewah. Lucu menurutku, karena di negeriku paling sedikit 8 gerbong.
Itupun hibah dari negeri ini.
Aku sedang menatap gundukan salju di luar. Mungkin di sini
tidak ada hujan, masih sedikit tinggi tumpukannya. Sedang di depanku, Reika nampak berbicara dengan kawannya di telpon. Setengah berbisik, karena memang ada peraturan tak tertulis untuk tidak berbicara dan membuat kegaduhan dalam kereta. Bahkan gawai kita pun disarankan untuk di ubah ke mode silent.
“Gome..tomodachi ni
hanashimashita” [maaf..tadi berbicara dengan teman]
setelah dia menutup pembicaraan di telfonnya. Aku hanya
meliriknya dan tersenyum.
“ii yo.” [gapapa]. jawabku, sambil mataku tetap tak bergeming dari kaca jendela.
“Hai..sugoi da.
Omoshirokatta”[ya..keren] jawabku. excited, dengan pertanyaannya.
“aku pikir salju itu seperti kapas,
ternyata keras. Pertama kali salju turun, cukup lebat dan angin sedikit kencang.
Tapi aku dan beberapa teman dari Indonesia justru menari-nari di bawah hujan
salju. Membuka mulut, merasakan rasanya salju. Ada teman yang menampung butiran
salju di tangannya, kemudian dia lemparkan kesana kemari. Ternyata salju keras
seperti batu. Kepalaku sakit terkena lemparan.” aku bercerita. “kami berkumpul di tengah-tengah lapang asrama
kampus. Ternyata semua orang melihat kami disana, tapi dari kamar masing-masing
sih.”
“Besoknya kami terserang flu. Tanganku pun berasa mati rasa.
Ditambah kami jadi bahan tertawaan karena kelakuan absurd kami itu. Untung
kawanku membawa minuman dan obat tradisional Indonesia. Lumayan cepat pulihnya,
tapi tidak dengan bahan tertawaaan.” tambahku lagi.
“hahaha...” Dia tergelak, memamerkan barisan giginya yang
putih bersih itu. Ketika ku peragakan bagaimana tarian memanggil salju kami,
kami namai begitu, tawanya makin lepas. Membuat semua orang di kereta yang
tidak begitu sesak itu menengok, dan menggelengkan kepala. “Dasar anak muda”.
Mungkin pikir mereka begitu.
“Itu tarian mengundang penyakit” sahutnya, di antara
derainya tawa.
“Eh iya, apakah kalian juga mendapat vaksin flu. Di sini
setiap musim dingin tiba, setiap tahun kami persiapkan diri agar tidak mudah
sakit.” Tambahnya lagi.
“Kampusku menjadwalkannya baru minggu depan, wajib ya?
Tadinya aku pikir tidak membutuhkannya. Lagipula harganya sedikit mahal buatku”
“Aku rasa kamu memerlukannya, apalagi kamu tidak terbiasa”
“Ano sa...tadi aku
bertanya jadwal film hari ini di bioskop, temanku sudah kesana lebih dulu
kemarin”
“O iya, Riri san kan mau mencari perlengkapan musim dingin
di hard off. Sepertinya waktunya tidak cukup, jaraknya berjauhan.”
“hmm..daijobu, lain
kali saja aku kesana. Gara-gara aku terlambat waktu kita jadi terbatas.
Langsung ke bioskop tidak apa.” jawabku, mencoba meyakinkannya. Padahal sebetulnya aku sangat ingin kesana, aku butuh perlengkapan musim dingin dan perlengkapan ski. Katanya disana jauh lebih murah.
“ soudesune, tenang saja, di dekat
bioskop juga ada toko barang second. Second street namanya, pilihan pakaian
lebih lengkap disana dibanding hard off. Mungkin bisa kesana sebentar”
"baiklah, kita lihat nanti" jawabku. "tidak sempat pun tak apa, belum urgen".
Sehari bersama Reika ...part 1 (VII)
![]() |
| Stasiun Urasa (sumber:blog) |
Aku sedang mematut diri di depan cermin kamar mandi. Ketika
samar-samar kudengar gawaiku bergetar. Mungkin aku terlalu fokus berendam tadi,
atau suara air dari shower membuatnya tidak terdengar. Segera ku keluar kamar,
menyambar gawaiku yang tergeletak di meja belajar.
Pesan dari Reika, di aplikasi Line gawaiku.
“Nee... mou sanjuppun gurai. junbi shite ne” [hey...30 menit lagi, siap-siap ya].
pesan berikutnya
“doko...?” [dimana?]
Tambahnya
lagi. ditambah beberapa laporan voice call darinya.
“kenapa ga sabaran sih tu anak?” gerutuku dalam hati.
Eh tar dulu..kuperhatikan, ternyata itu pesan 5 menit lalu
"lah..perasaan tadi ku cuma
berendam 5 menit, tadi belum ada pesan. Waduh..jangan-jangan tadi ketiduran di bath
tub." gumamku.
Cek jam di meja.
“Wah iya bener, knapa aku mandi 30 menit gini, pantes
berasa keriting ni kulit.”
pesan baru masuk
“aku turun di Urasa, ku tunggu di ruang tunggu stasiun 😣😩😠” pesannya lagi.
Berbarengan dengan itu, ada pesan lain di whatsapp, dari Ibu
dan sepertinya agak panjang. Baru kulihat juga panggilan berkali-kali darinya
disana“Nanti sajalah kubaca lagi. Buru-buru” gumamku.
Bergegas aku
memakai baju. kulewatkan long john,
hanya kaus dalam, kaus dan jaket dengan celana jeans. Mudah-mudahan cukup
menangkal hawa dingin yang sudah mulai menggigit di luar sana.
“Sial..sial. terlambat parah begini”.
Terburu-buru juga ku pakai kaus kaki dan sepatu kets ku dan berlari
keluar kamar. Mana ini di lantai 6, mesti menunggu lift dulu.
Cek jam di tangan, bis kampus menuju stasiun sudah pergi 15
menit lalu. Padahal itu jadwal bis satu-satunya menuju ke stasiun hari ini. Di
akhir pekan hanya ada jadwal pagi dan sore. Berbeda dengan hari biasa yang
melayani hingga 7 kali jadwal pulang-pergi. Ya sudah, mau tidak mau aku harus
menggunakan “si putih”ku dan bersepeda secepat mungkin ke stasiun.
Beruntung kemarin sore turun hujan, sehingga salju yang sedikit menumpuk
akibat turun dua hari berturut-turut bisa segera terkikis. Walaupun tetap, aku
harus berhati-hati karena di beberapa bagian ruas jalan mungkin masih ada yang
licin. 10 menit, aku harus sudah sampai stasiun.
Hari ini, pertama kali kami berjalan bersama. Aku tak tahu
apakah ini disebut kencan atau bukan , karena memang rencananya tidak hanya
berdua. Karena keisengan dan basa basiku saja yang bilang kalau aku mau belanja
barang di Nagaoka sekaligus jalan-jalan ke festival di akhir pekan. Kemudian
aku menawari dia dan temannya, Ayumi, untuk pergi bersama karena rabu kemarin
baru saja mereka mendapat uang gajian setelah hampir 2 minggu bekerja. Mereka
sebenarnya tidak satu SMA, namun satu sekolah semenjak TK hingga SMP.
***
Di musim dingin pertamaku ini, aku jadi makin rajin berendam
air hangat. Aku tak peduli dengan tagihan air panas di bulan depan, yang
penting badan tetap bersih. Masih belum terbiasa juga dengan orang-orang yang
mengurangi porsi mandi mereka di musim dingin ini. Seminggu ko mandi maksimal 2
kali. Tapi gara-gara sering berendam pula membuat lebih sering mengantuk. Tidak
jarang tertidur di bath tub. Memang, bagiku yang orang dusun ini, mandi di bath
tub adalah kemewahan, harus benar-benar dinikmati. Dan gara-gara terlalu menikmati kemewahan itu, aku mengacaukan rencana kami.
***
Kamis, 23 November 2017
Mata jelita dalam keremangan cahaya senja (VI)
![]() |
| belakang asrama |
"sepertinya sebentar lagi salju akan datang, salju pertamaku"
2 pekan berlalu sejak perkenalanku dengan Reika, yang berarti sudah 1 pekan berjalan dia bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Si gadis SMA yang pada awalnya kukira angkuh itu ternyata cukup menyenangkan. Bagaimana tidak, jika di kereta dia hanya berdiri di pojokan dan memandangi layar ponselnya, jarang sekali bertegur sapa bahkan dengan kawan satu sekolahnya.
Di kampus, ujian akhir semester Fall term pun bisa dilalui dengan mulus, mengingat di term kali ini aku hanya mengambil 2 mata kuliah yang mensyaratkan group project dan 3 mata kuliah hanya paper untuk ujian UASnya. Hanya 1 yang benar-benar harus mengikuti ujian akhir semester berupa exam di tempat. Aku merasa beruntung bisa satu kelompok dengan orang-orang hebat itu, yang walaupun ribet tapi ketika tercapai kata sepakat program langsung bisa cepat dijalankan. Apalagi ada professional di sana, membuat proposal bisnis kami tidak menemui banyak hambatan.
Aku pun mulai belajar bahasa Jepang dengan lebih serius. Memang, walaupun aku bersekolah di negeri ini, namun bahasa lokal tidak dipakai di kampus Internasional seperti kampusku
Dengan demikian, banyak mahasiswa tidak mampu bahkan tidak merasa perlu berbahasa lokal dengan baik. Ya sekedar sumimasen, konnichiwa, arigatou atau kata basa basi semacam itu paling tidak wajib diketahui, sisanya ya tergantung keinginan dan kebutuhan masing-masing. Aku cukup beruntung karena di sini ada komunitas lokal yang dibentuk oleh pemerintah kota setempat untuk mengajarkan bahasa Jepang sehari-hari bagi mahasiswa asing. Modelnya semacam obrolan santai saja, bukan kelas yang sifatnya serius. Terkadang diadakan pula acara-acara seperti hiking bersama, barbeque party atau jalan ke lokasi wisata yang dekat dengan kampus.
"Hey Aoki kun, jadi kamu baru kelas 1 SMA dan Yamamoto san kelas 3, bukan begitu?" Tanyaku, pada dua kawan baru di depanku.
"Ya, tahun ini saya kelas 1, baru masuk. Rumahku juga dekat dari sini, jadi ya sekalian saja mengisi waktu dengan bekerja"
"Kalo kamu Yamamoto san? Rumah dekat sini juga? Kalian satu sekolah"
"Ah tidak, rumahku dekat stasiun Shiozawa. Teman satu sekolah di sini hanya Takagawa san. Tapi dia kelas 2. Aku tak begitu mengenalnya."
"Owh, masih kelas 2 rupanya" gumamku dalam hati.
Ini hari ketiga ku bekerja di pekan ini setelah selesai Ujian Akhir semester. Pekan ini kuambil maksimal 4 hari, 28 jam. Ketika sedang seru-serunya mengobrol membahas kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan ketika musim dingin, bel tanda harus siap kembali bekerja sudah menyalak. Semua orang bersegera, mematikan rokok jika merokok, membereskan alat2 bento dan kursi, serta merapikan meja dan sampah lainnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Sampah bisa dibakar ke tempat sampah merah, sampah kaleng bekas soda, sampah botol air mineral, sampah gelas kertas, dan jenis sampah lainnya. memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Setelah itu semua orang bersiap di posisi, termasuk aku yang kembali ke gudang bersama bagian kuli dan sortir, dua anak SMA itu mendapat jatah di dalam gedung, bagian handuk, sedangkan Reika setahuku dia bertugas di bagian Yukata. Ketika 5 menit kemudian, jam 1 tepat bel mulai bekerja menyalak, semua sudah berada di tempat tugas masing-masing kembali ke rutinitas yang mereka kerjakan sejak pagi hari.
***
Langganan:
Postingan (Atom)




