Kamis, 23 November 2017

Mata jelita dalam keremangan cahaya senja (VI)

belakang asrama
Pemandangan di belakang asrama sudah mulai pekat dengan kabut, pohon-pohon sudah meranggas sejak lama. bersiap akan datangnya salju yang bisa bergunung-gunung tingginya.

"sepertinya sebentar lagi salju akan datang, salju pertamaku"

2 pekan berlalu sejak perkenalanku dengan Reika, yang berarti sudah 1 pekan berjalan dia bekerja di perusahaan tempatku bekerja. Si gadis SMA yang pada awalnya kukira angkuh itu ternyata cukup menyenangkan. Bagaimana tidak, jika di kereta dia hanya berdiri di pojokan dan memandangi layar ponselnya, jarang sekali bertegur sapa bahkan dengan kawan satu sekolahnya.
Di kampus, ujian akhir semester Fall term pun bisa dilalui dengan mulus, mengingat di term kali ini aku hanya mengambil 2 mata kuliah yang mensyaratkan group project dan 3 mata kuliah hanya paper untuk ujian UASnya. Hanya 1 yang benar-benar harus mengikuti ujian akhir semester berupa exam di tempat. Aku merasa beruntung bisa satu kelompok dengan orang-orang hebat itu, yang walaupun ribet tapi ketika tercapai kata sepakat program langsung bisa cepat dijalankan. Apalagi ada professional di sana, membuat proposal bisnis kami tidak menemui banyak hambatan.
Aku pun mulai belajar bahasa Jepang dengan lebih serius. Memang, walaupun aku bersekolah di negeri ini, namun bahasa lokal tidak dipakai di kampus Internasional seperti kampusku
Dengan demikian, banyak mahasiswa tidak mampu bahkan tidak merasa perlu berbahasa lokal dengan baik. Ya sekedar sumimasen, konnichiwa, arigatou atau kata basa basi semacam itu paling tidak wajib diketahui, sisanya ya tergantung keinginan dan kebutuhan masing-masing. Aku cukup beruntung karena di sini ada komunitas lokal yang dibentuk oleh pemerintah kota setempat untuk mengajarkan bahasa Jepang sehari-hari bagi mahasiswa asing. Modelnya semacam obrolan santai saja, bukan kelas yang sifatnya serius. Terkadang diadakan pula acara-acara seperti hiking bersama, barbeque party atau jalan ke lokasi wisata yang dekat dengan kampus.

"Hey Aoki kun, jadi kamu baru kelas 1 SMA dan Yamamoto san kelas 3, bukan begitu?" Tanyaku, pada dua kawan baru di depanku.
"Ya, tahun ini saya kelas 1, baru masuk. Rumahku juga dekat dari sini, jadi ya sekalian saja mengisi waktu dengan bekerja"
"Kalo kamu Yamamoto san? Rumah dekat sini juga? Kalian satu sekolah"
"Ah tidak, rumahku dekat stasiun Shiozawa. Teman satu sekolah di sini hanya Takagawa san. Tapi dia kelas 2. Aku tak begitu mengenalnya."
"Owh, masih kelas 2 rupanya" gumamku dalam hati.

Ini hari ketiga ku bekerja di pekan ini setelah selesai Ujian Akhir semester. Pekan ini kuambil maksimal 4 hari, 28 jam. Ketika sedang seru-serunya mengobrol membahas kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan ketika musim dingin, bel tanda harus siap kembali bekerja sudah menyalak. Semua orang bersegera, mematikan rokok jika merokok, membereskan alat2 bento dan kursi, serta merapikan meja dan sampah lainnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Sampah bisa dibakar ke tempat sampah merah, sampah kaleng bekas soda, sampah botol air mineral, sampah gelas kertas, dan jenis sampah lainnya. memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Setelah itu semua orang bersiap di posisi, termasuk aku yang kembali ke gudang bersama bagian kuli dan sortir, dua anak SMA itu mendapat jatah di dalam gedung, bagian handuk, sedangkan Reika setahuku dia bertugas di bagian Yukata. Ketika 5 menit kemudian, jam 1 tepat bel mulai bekerja menyalak, semua sudah berada di tempat tugas masing-masing kembali ke rutinitas yang mereka kerjakan sejak pagi hari.

***

Aku mendapati diriku berdiri mematung sore itu, menunggu kereta dari arah selatan. Di sampingku berdiri si gadis bermata jeli yang ternyata masih SMA kelas 2. Kini aku bisa memanggil namanya, Reika, nama depannya. Di Jepang akan tidak sopan jika kamu belum begitu akrab dengan seseorang dan kamu memanggilnya dengan nama depan. Awal keakraban kami diawali ketika mandor bagian gudang memindahkanku ke bagian yukata karena kekurangan orang. dan Reika lah yang mengajarkanku apa saja yang harus dikerjakan disana, karena sebagai anak sekolah dia paham bahasa Inggris walau sedikit.
Walaupun demikian, tetap...aku selalu kaku jika berdiri di samping wanita. Salah tingkah, tak tahu mesti berbuat apa.
"masih 2 menit lagi". Ujarku, mencoba membuka omongan.
"Un...[ya] untung kita tepat waktu, Tanaka-san (supir pabrik) mengemudikan busnya cukup cepat"
"Iya..maaf, tadi aku harus solat dulu, ternyata ruangan yang biasa kupakai solat ashar sedang penuh dengan barang. Aku harus mencari tempat lain. Mudah-mudahan tidak membuat marah orang-orang."
"Oinori shimasuka desune? daijobu [sembahyang ya? gapapa] minna wa daijobu desuyo. demo... mata, chotto hayatte kudasai [semua sepertinya ga masalah, tapi nanti, bisa tolong lebih cepat?]"
"yokatta...ya..tentu saja, nanti aku akan cari waktu yang lebih enak lagi, agar tidak menyusahkan semua orang. tidak membuat semua harus menunggu di bus jemputan"

Kereta pun tiba, dan seperti biasa. pintu gerbongnya berhenti tepat dihadapan kami. Otomatis kami pun minggir, memberi jalan bagi yang akan turun, walau ternyata tidak ada yang berhenti di stasiun shiozawa ini. Sore itu, kereta tidak penuh. seperti biasanya, banyak bangku kosong. Namun, kami lebih memilih berdiri di pojokan, dekat pintu keluar. Jika di sana tidak aneh jika masih banyak tempat duduk di kereta namun orang lebih memilih berdiri, termasuk orang tua. Seakan ada perjanjian tak tertulis bahwa satu sama lain menghormati private area masing-masing. ketika seorang duduk, maka sisi sebelahnya pasti kosong. Tidak sampai berdempetan atau meminta orang bergeser seperti di Indonesia. Jikalau duduk, hanya memang benar2 kosong atau benar2 membutuhkan kursi.

"watashi wa Riri san no oinori e mitai desu". [aku ingin lihat sembahyangnya Riri san] katanya tiba-tiba.
"eh...?"
"Isuramu desune [Islam bukan?]dia menambahkan
"hontou desuka" [beneran?]
"hontou desuyo. terebi to shinbun de Isuramu o kita" [beneran. aku sering dengar tentang Islam dari TV dan koran]. "Aku penasaran..." tambahnya.
"terus...?" tanyaku
"ya..nanti aku bisa cerita sama teman-teman. Hey...aku sudah pernah lihat orang Islam sembahyang, langsung. hehehe.." Tambahnya...diiringi sedikit tawa. Tak lupa dia tutup mulutnya. Ah seperti tersenyum menurutku, terlihat cantik.
Hehe..aku pun sedikit tersungging, pada dasarnya memang usianya masih belia. layaknya anak abg alay di negeriku, masih suka pamer hal ga penting.
"Ya sudah, aku solat biasanya ketika jam istirahat, dan beberapa saat sebelum pulang."

Kereta berhenti.. kami pun harus bergeser agar tidak mengganggu orang yang akan turun dan naik.

"Memang berapa kali orang Islam solat dalam sehari?" tanyanya lagi
"5 kali, dini hari sebelum matahari terbit, tepat tengah hari, sore, ketika matahari tenggelam serta malam. Itu yang wajib"
"Eeee..sugoooi. jadi 5 kali dan bisa lebih dari itu?"
"Ya tentu saja. Itu kewajiban. Di negeriku banyak tempat ibadah, namun di sini tidak ada, jadi aku solat dimana saja, itupun tidak lama."
"Hmm...aku dengar orang-orang Islam itu mengerikan. Apalagi tentang ISIS. tapi kamu sepertinya baik, orang-orang Islam yang datang ke sekolahku dulu juga baik-baik. dari Afganistan."
O iya, memang teman2 kampus sering diundang sebagai relawan untuk mengisi acara pengenalan budaya ke sekolah-sekolah di sekitar kampus kami, sekaligus mengajari anak-anak bahasa Inggris. Aku pun pernah ikut sekali, menyenangkan. Sepertinya di negeriku hal serupa mesti dilakukan juga, membuka mata anak2 akan orang-orang negeri seberang sekaligus melatih mereka berbahasa Inggris
"Ya..tentu saja. aku pikir sama saja, ada yang baik ada yang tidak, tapi jika kamu benar-benar seorang muslim, seharusnya bisa menjaga perilaku dan hubungan dengan bangsa lain."
"Unn...soudesuka. omoshiroi desune"
"hai..soudesu. nanti kukasih tahu kalau kamu mau lihat aku solat. Tapi jangan diganggu ya"
"doushite?" [kenapa?]
"solat itu, kondisi dimana hanya aku dan tuhan. jadi aku harus fokus"
"hmm..begitu ya."
hening...kembali menyelimuti kami. Hanya suara derap kereta dan remang-remang cahaya tenggelamnya mentari menembus kaca jendela.
"sumi wa, itsukamachi...itsukamachi" [berikutnya...itsukamachi] pengumuman terdengar di seluruh gerbong kereta. Pertanda Reika harus bersiap menunggu di dekat pintu karena sebentar lagi dia harus turun.
"Reika san..."
"hai...[ya]?" jawabnya, terpaksa harus kembali menengok ke belakang, ke arahku.
"ano sashin wa kirei desu." [gambar itu cantik]
"eh....!? maksud Riri san?" tanyanya sedikit bingung, dengan pupil mata yang melebar namun alisnya menyipit.
aku menunjuk poster iklan di depan pintu. Terdapat poto seorang gadis SMA yang sedang mengendarai sepeda, di berdiri. Di sebuah bantaran sungai. sepertinya poto musim gugur. Aku tak tahu iklan tentang apa, karena tertulis dalam kanji. Aku tak mengerti.
"kireina sashin. [poto yang cantik] apa aku boleh memotretmu seperti itu?" tanyaku
dia pun tersenyum, dilatari keremangan senja pintu kereta yang terbuka. cantik.
"tentu saja, mari atur waktu. bye" jawabnya. sambil kembali melangkah pergi. Disusul beberapa orang dibelakangnya.
Mataku tak lepas memandangi kepergiannya. Memandangi rambutnya yang pendek namun diikat itu hingga pintu kereta benar-benar tertutup.
Hingga kusadari terlihat dia menyapa seseorang yang juga baru keluar dari pintu yang sama. Menuju gerbang pemeriksaan karcis. Dia...seorang yang telah kucari dan kutunggu sejak lama. Si Gadis musim panas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar