![]() |
| Nagaoka city |
Sebetulnya Niigata itu perfektur yang indah. Namun, entah mengapa kurang begitu terkenal dibanding perfektur atau daerah lain seperti Hokkaido di paling utara, Tohoku di timur laut, Tochigi di tenggara, Kanto dengan Tokyo dan area sekitarnya di selatan, Nagoya yang memiliki banyak universitas, Kansai dengan Osaka, Kyoto serta daerah sekitar Hyogo, Hiroshima, Kyushu, dan lain-lain. Padahal, area Niigata hanya 2 jam saja dari Tokyo menggunakan shinkanshen.
Menuju Niigata dari Tokyo hanya ada 1 jalur utama untuk kereta, Joetsu line. Mulai dari stasiun tokyo menuju Takasaki, kemudian Minakami yang memiliki salah satu onsen yang sangat terkenal karena keindahannya di musim salju, dari Minakami menuju Nagaoka, melewati Yuzawa yang sangat terkenal dengan resort skinya. Bahkan bisa dibilang antara Yuzawa, Urasa, Koide ke utara ditambah Tokamachi di balik gunung, seperti di belahan dunia lain. Negeri salju mereka menyebutnya. Karena disana tumpukan salju begitu tinggi ketika puncaknya. Setelah koide di utara atau sebelum terowongan menuju yuzawa di selatan biasanya kering, tumpukan salju alakadarnya. Termasuk di kota ini, Nagaoka. Dan bila kamu melanjutkan perjalanan ke utara, ke Ibu kota, kota Niigata yang juga merupakan kota pelabuhan, yang membedakan musim dingin dan musim lainnya hanya udaranya yang bisa membuatmu menggigil. Tidak ada salju, kecuali sedikit saja jikalau ada.
Kami berjalan menyusuri trotoar yang kering seperti musim
biasanya. Tapi tetap, walaupun siang hari, rasa dingin menyergap kaki dan
beberapa bagian tubuhku yang tidak tertutup kain. Aku heran dengan
wanita-wanita negeri ini. Karena ada beberapa juga yang memakai rok pendek
tanpa celana panjang atau stoking di dalamnya. Mungkin mereka sangat terlatih,
ataukah menderita demi gaya?
Setelah satu setengah jam menghabiskan waktu di dalam
ruangan bioskop yang remang. Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami.
Echigo Hillside Park di bagian barat kota Nagaoka. Cukup jauh dari kota, bahkan jika ditempuh
dari stasiun, maka kami akan turun di pemberhentian terakhir. Dari riverside ke
sana katanya harus naik bus 2 kali. Jangan tanya jurusannya, aku belum bisa
membaca kanji, cukup kuikuti langkah kaki Reika, pembimbing perjalananku kali
ini. Dia sepertinya sedang gembira, dia berjalan dengan menggoyang
goyangkan tas tangan mungilnya. Atau memang gaya jalannya seperti itu? Dan
seperti biasa, cowok gentleman sepertiku membawakan belanjaan. Walaupun pada awalnya dia menolak karena bukan kebiasaan orang Jepang laki-laki membawakan belanjaan perempuan.
“Riri san, sushi ga
tabemasenka? Riri san wa sushi ga suki to itteimashita kara"
“Hai..doko ni tabemasuka?”
“Asoko.. ii dato
omoimasu”
“Ok...” aku hanya mengikuti, aku percayakan padanya yang
sepertinya sangat familiar dengan kota ini.
Memang rasa lapar tidak tertahankan, beberapa potong onigiri
tidak cukup mengganjal perut kami tadi. Sebelum kami lanjutkan perjalanan
menuju festival, memang lebih baik mengisi perut terlebih dahulu.
“Irashaimase..” Pelayan
toko menyambut begitu kami melangkahkan kaki ke dalam restoran sushi ini. Reika
membimbingku menuju meja untuk 4 orang di belakang.
Toko sushi ini berbentuk seperti toko sushi tradisional,
hanya ada 2 bangku isi 4 orang di belakang. Sisanya tempat duduk model bar yang
mengelilingi etalase berbentuk ‘U’, tempat sushi berputar di atas conveyor belt. Untuk memesan sushi kita perlu melihat daftar menu dan menuliskannya pada
secarik kertas untuk kemudian diserahkan langsung kepada sang koki yang berdiri
di tengah. Kalau kita malas memesan, cukup duduk saja dan mengambil sushi yang
sudah jadi atau makanan lain yang berputar-putar di atas conveyor. Agak berbeda
dengan toko sushi di Koide, Kappa sushi, langganan anak2 kampus, yang aku pikir sudah cukup modern.
Karena di masing-masing meja pelanggan terdapat semacam tablet layar sentuh
yang bisa kita gunakan untuk memesan makanan.
Aku pun mempercayakan jenis-jenis sushi yang akan kami makan
kepadanya, aku cuma bilang suka yang dibakar, ikan apa saja boleh, kerang kecil
juga tidak apa.
“ano.. Riri san, kono Miso wa..free desu”
bisiknya. “ambil saja di situ” tambahnya.
“buatku aman?”
“sou desu, butaniku to
arukohoru ga hairanai.” dia menjelaskan. “sea food saja” tambahnya lagi.
Oh. tentu saja dengan semangat aku mlipir ke pojokan, ke tempat miso berada. Memang isinya hanya kuah dan sedikit potongan udang. Itu
pun tidak ada dagingnya. Tapi buatku, di hari yang dingin seperti ini, kuah
penghangat tubuh sangat diperlukan.
“Berarti kamu belum pernah makan ramen ya?” Tanyanya, di
antara selingan sushi yang masuk ke mulutnya satu demi satu.
“Sudah. Di Tokyo ada ramen halal untuk muslim, memang enak.
Sayang di tempat2 biasa, ramen menggunakan daging babi sebagai bahan utama.”
“soka...aku tak
tahu ada ramen tanpa daging babi. Walaupun memang ada Ramen sayuran, tapi di
dalam kuahnya ada juga yang tidak dipisah.” ujarnya
“Pernah coba sushi yang tidak dikemas satu-satu begini?”
Tanyanya lagi
“maksudnya?”
“Ya selain sushi kecil-kecil begini, di dekat rumahku ada
juga sushi yang ikannya disimpan dalam satu wadah dan nasi di wadah lain. Toko
sushi milik Ayumi san juga seperti itu, dan ramai sekali ketika jam makan siang”
“soudesuka, Ayumi chan
no otoosan wa sushi chef desune”
“ya..makanya agak malas makan sushi, aku sudah sering
ditraktir olehnya. Haha...” Ujarnya sambil kembali memamerkan giginya yang
rapi itu. “Nanti kamu kalau datang ke rumah akan kuajak kesana, bagaimana?”
“kapan?”
“Kan tadi sudah berjanji mau mengajariku bahasa inggris.
Nanti akan aku ajak juga Ayumi, dan mungkin teman-teman lain.”
“Haha.. siap. Eh aku mau tambah miso lagi ya”
Tidak terasa kami makan dengan lahap, total kuhabiskan 5
piring kecil dan dia 3. Hanya 3, ditambah satu sup yang aku ga tahu isinya apa.
Aku masih ingin menambah sup miso gratisan ini sebelum ku pergi, lumayan
sebagai penghangat tubuh. Sedangkan Reika memanggil pelayan untuk menghitung
semua yang harus kami bayar.
Ketika aku sedang mengantri miso, serombongan anak sekolah
datang. Cewek semua, mungkin ada 5 orang. bergerombol menuju meja di sebelah
kami. Dilihat dari dandannya sepertinya mereka termasuk cewek-cewek populer di
sekolahnya, karena dandanannya sedikit berlebihan buat anak seusianya menurutku. Mereka berseragam, tapi aku belum pernah melihatnya. Mungkin seragam sekolah sini. Dengan pakaian sweater lengan panjang tertutup ditambah syal tebal khas anak
sekolah. Namun rok yang pendek tanpa stoking atau celana panjang. Hanya
kaus kaki panjang hitam yang hampir selutut. Ada juga yang rambutnya dicat biru
terang persis karakter di anime. Aku heran, mereka beneran anak sekolah atau
sedang cosplay?
Ketika ku mulai bergeser dan sedikit khawatir ketika miso
yang kuinginkan sudah mulai berkurang. Maklum, jam makan siang sudah berlalu
sejak tadi. Sayup-sayup terdengar mereka menyapa Reika. Aku tak tahu apa yang
mereka obrolkan, yang jelas berkali-kali mereka yang baru datang itu melirik dan tertawa cekikikan
sembari memandangku. “Apakah dandananku aneh?” gumamku.
Ketika giliranku tiba untuk menyendok miso itu, Reika datang
dan menggamit lenganku.
“Ayo pergi, bis kita sebentar lagi lewat. Kita harus sudah
bersiap di tempat perhentian.” katanya.
“eh tunggu..aku belum coba misonya lagi"
“dame..kita harus segera pergi.” ujarnya
ya sudah, ku simpan kembali mangkuk miso yang sudah digenggaman
dan berjalan menuju kasir untuk mengurus pembayaran. Total pengeluaran kami
bagi dua. Jangan tanya kenapa, karena memang begitu adatnya jika di sini.
Berbeda dengan di indonesia yang ketika mengajak teman perempuan jalan,
laki-laki yang biasanya membayar semua.
Keluar restoran, wajah Reika sudah mulai melunak.
Tidak tegang seperti tadi. Kami pun berjalan cepat menuju tempat perhentian bus
tidak jauh dari situ. Jangan kira tempatnya berbentuk halte dengan shelter
seperti di Indonesia. Di sini hanya tiang seperti rambu, di situ tertulis
jadwal kapan bus datang dan pergi. Hanya itu. Sehingga, ketika hari mulai sore
dan suhu udara mulai turun, rasa hangat dari sup miso dan teh hijau yang tadi
kami santap sudah menguap.
"tomodachi? " tanyaku penasaran.
" ie.. Wakaranai" jawabnya tanpa balas memandang.
"are... Sepertinya mereka kenal Reika chan? "
" wakarimasen deshita... Mungkin salah orang. Lupakan saja." "jawabnya agak ketus." Riri san masih mau ke second street? Mungkin masih ada waktu" lanjutnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku pun cari aman.ya sudah, aku tak mau membahas mereka lagi.
"tak perlu. "jawabku. Sudah terlalu sore." aku tak ingin pulang terlalu malam, soalnya harus naik sepeda ke asrama. Dan besok pagi aku kerja. "
" sou dana.. Zannen desune." katanya. "kalau begitu lain kali, jangan terlambat lagi." tambahnya.
"hehe.. Iya, iya, maaf. Aku mau mencari perlengkapan ski. Aku mau belajar ski. Jadi kapan2 saja aku cari lagi "
" O ya? Dekat rumahku ada resort kecil. Aku sering main di situ, mungkin kamu bisa pinjam alatku. Kamu juga bisa belajar disana. Nanti ku ajari. Aku sudah belajar ski sejak SD, sudah mahir" tambahnya dengan mantap.
"great... Nanti kita jadwalkan kalau begitu. " aku senang, soalnya sedikit takut juga. Pernah dengar dari teman tahun kedua yang kapok bermain ski gara2 salah jatuh dan kakinya patah. Atau banyak insiden lain yang cukup membuat banyak orang yang mau mencoba menjadi trauma. Tapi paling tidak, dengan adanya guru yang berpengalaman, jadi lebih aman.
Bus yang kami nanti sudah tiba. Kami pun bersiap untuk perjalanan berikutnya. Namun satu hal yang kupelajari dari Reika. Moodnya cepat sekali berubah dan terkadang tidak bisa ditebak. Apa mungkin karena usia?
"tomodachi? " tanyaku penasaran.
" ie.. Wakaranai" jawabnya tanpa balas memandang.
"are... Sepertinya mereka kenal Reika chan? "
" wakarimasen deshita... Mungkin salah orang. Lupakan saja." "jawabnya agak ketus." Riri san masih mau ke second street? Mungkin masih ada waktu" lanjutnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Aku pun cari aman.ya sudah, aku tak mau membahas mereka lagi.
"tak perlu. "jawabku. Sudah terlalu sore." aku tak ingin pulang terlalu malam, soalnya harus naik sepeda ke asrama. Dan besok pagi aku kerja. "
" sou dana.. Zannen desune." katanya. "kalau begitu lain kali, jangan terlambat lagi." tambahnya.
"hehe.. Iya, iya, maaf. Aku mau mencari perlengkapan ski. Aku mau belajar ski. Jadi kapan2 saja aku cari lagi "
" O ya? Dekat rumahku ada resort kecil. Aku sering main di situ, mungkin kamu bisa pinjam alatku. Kamu juga bisa belajar disana. Nanti ku ajari. Aku sudah belajar ski sejak SD, sudah mahir" tambahnya dengan mantap.
"great... Nanti kita jadwalkan kalau begitu. " aku senang, soalnya sedikit takut juga. Pernah dengar dari teman tahun kedua yang kapok bermain ski gara2 salah jatuh dan kakinya patah. Atau banyak insiden lain yang cukup membuat banyak orang yang mau mencoba menjadi trauma. Tapi paling tidak, dengan adanya guru yang berpengalaman, jadi lebih aman.
Bus yang kami nanti sudah tiba. Kami pun bersiap untuk perjalanan berikutnya. Namun satu hal yang kupelajari dari Reika. Moodnya cepat sekali berubah dan terkadang tidak bisa ditebak. Apa mungkin karena usia?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar